Alun-alun yang diresmikan pada akhir 2017 ini dibangun di atas lahan sekitar 5.000 meter persegi dan menjadi ruang publik pertama di Bandung dengan konsep patung terbuka serta pendekatan desain berbasis baja. Dirancang oleh SHAU bersama OZ Landscape, taman ini mengusung tema baja yang merepresentasikan karakter kawasan sekitar yang dikenal sebagai sentra bengkel dan pandai besi, Rabu (8/4/2026).
Namun belakangan ini, sejumlah warga menyoroti kondisi taman yang dinilai mulai kurang terawat. Beberapa tumpukan sampah dan beberapa fasilitas tampak membutuhkan perbaikan dan pemeliharaan rutin agar tetap nyaman dan aman digunakan masyarakat.
Tak hanya soal perawatan, aspek keamanan juga menjadi perhatian serius. Warga mengusulkan perlunya pembentukan kepengurusan kewilayahan atau tim pengelola khusus yang bertanggung jawab terhadap operasional dan pengamanan taman, terutama pada malam hari. Hal ini menyusul kekhawatiran atas potensi tindak kriminalitas, penyalahgunaan area publik, hingga aktivitas yang meresahkan masyarakat.
Penguatan sistem pengamanan, seperti patroli rutin, penerangan optimal, serta kolaborasi antara aparat kewilayahan dan masyarakat, dinilai penting untuk menjaga marwah Alun-Alun Cicendo sebagai ruang publik representatif di Kota Bandung.






0 Komentar