Farhan mengatakan, proses penataan dilakukan secara humanis melalui dialog panjang bersama para pedagang. Bahkan, pembongkaran lapak dilakukan secara mandiri oleh para PKL setelah tercapai kesepakatan bersama.
Menurutnya, pendekatan komunikasi menjadi kunci utama keberhasilan penataan kawasan Cicadas. Sejak awal memilih jalan dialog dibanding langkah represif agar proses berjalan kondusif dan tetap menjaga kepentingan masyarakat kecil.
“Kalau mau menggusur orang itu harus ngobrol dulu. Memang prosesnya lama tapi hasilnya lebih baik,” ujarnya.
Setelah pembongkaran selesai, fokus berikutnya adalah pembenahan infrastruktur dasar terutama sistem drainase yang selama ini terganggu karena tertutup bangunan dan lapak PKL.
Farhan menjelaskan, Dinas Sumber Daya Air dan Bina Marga (DSDABM) Kota Bandung akan segera membuka akses kontrol bak drainase agar aliran air kembali normal dan kawasan Cicadas terbebas dari persoalan genangan.
“Drainase akan diperbaiki dulu karena banyak kontrol bak yang tertutup. Itu yang sekarang dibenahi,” jelasnya.
Ia juga mengapresiasi dukungan Pemerintah Provinsi Jawa Barat dalam proses penataan kawasan Cicadas. Menurutnya, dorongan dari Gubernur Jawa Barat turut memperkuat langkah penataan yang selama ini berjalan bertahap.
“Alhamdulillah dibantu oleh Pak Gubernur. Jadi, ada dorongan tenaga yang sangat kuat dari Pak Gubernur,” tuturnya. (red)**
Sumber : Diskominfo Kota Bandung






0 Komentar