Jalan-jalan penuh sesak. Bobotoh tumpah ruah. Sorak-sorai bercampur air mata haru. Di tengah dunia modern yang semakin individualistik dan dingin, momen seperti itu memperlihatkan bahwa manusia tetap membutuhkan rasa memiliki. Mereka ingin merasa menjadi bagian dari sesuatu yang lebih besar daripada dirinya sendiri. PERSIB berhasil menghadirkan itu.
Dalam perspektif sosiologi, fenomena tersebut bukan sekadar euforia kemenangan olahraga. Ia adalah bentuk collective emotion, ledakan emosi kolektif yang mempertemukan identitas budaya, kebanggaan daerah, dan rasa solidaritas sosial. Bobotoh bukan hanya penonton sepak bola. Mereka adalah komunitas kultural yang selama bertahun-tahun membangun ikatan emosional dengan klub yang mereka anggap sebagai representasi harga diri masyarakat Sunda. Maka tidak mengherankan ketika arak-arakan kemenangan berlangsung, masyarakat rela berdesakan hanya untuk melihat para pemain lewat di hadapan mereka.
Namun menariknya, sorotan publik saat itu bukan hanya tertuju kepada para pemain. Sosok Dedi Mulyadi yang akrab disebut KDM, ikut memimpin iring-iringan pawai dengan mengendarai motornya sendiri. Pemandangan itu langsung membangkitkan antusiasme luar biasa. Warga berteriak "bapa aing, bapa aing" berebut berswafoto, dan menyambutnya seperti tokoh yang sangat dekat dengan kehidupan mereka.
Di titik ini, kita melihat bagaimana politik modern bekerja bukan hanya melalui kebijakan, tetapi melalui kedekatan emosional. Rakyat hari ini tidak selalu mencari pemimpin yang paling teoritis atau paling akademis. Mereka mencari figur yang terasa hadir di tengah mereka. Dan KDM memahami bahasa simbolik itu. Namun, di sinilah pentingnya menjaga jarak kritis antara popularitas dan kebijaksanaan publik.
Menurut pemberitaan yang dilansir kanal Metro TV di YouTube, KDM berjanji memberikan bonus sebesar satu miliar rupiah kepada para pemain Maung Bandung. Pernyataan itu tentu disambut tepuk tangan. Namun dalam ruang refleksi sosial yang lebih dalam, muncul pertanyaan etis yang tidak bisa diabaikan begitu saja. Apakah seluruh energi dan simbol penghargaan publik harus selalu diarahkan kepada industri hiburan olahraga?
Tokoh seni dan pendidikan Bandung. Adit Barli, melontarkan kritik yang menarik sekaligus menohok. Mengapa uang sebesar itu tidak diberikan kepada para pekerja harian lepas seperti petugas kebersihan taman dan kota, atau relawan kesehatan yang selama ini bekerja tanpa sorotan kamera, tetapi jasanya nyata menjaga kehidupan masyarakat? Pertanyaan itu terasa sederhana, tetapi sesungguhnya sangat filosofis, karena ia menyentuh problem utama peradaban modern, bahwa siapa yang dianggap layak dihormati oleh masyarakat?
Kita hidup di era ketika popularitas sering lebih dihargai daripada pengabdian. Atlet, selebritas, dan figur publik mudah mendapatkan perhatian besar, sementara mereka yang bekerja diam-diam menjaga kebersihan kota atau mendampingi orang sakit sering dilupakan. Padahal tanpa mereka, kehidupan sosial akan runtuh secara perlahan.
Tentu bukan berarti prestasi PERSIB tidak pantas diapresiasi. Klub ini telah membawa kebanggaan besar bagi Jawa Barat. Namun kritik Adit Barli mengingatkan bahwa negara dan masyarakat perlu memiliki sensitivitas moral yang lebih luas dalam mendistribusikan penghargaan sosial. Apalagi KDM sendiri menyatakan bahwa PERSIB merupakan klub profesional tanpa campur tangan pemerintah. Pernyataan ini justru membuka ruang refleksi lebih jauh, jika klub profesional telah memiliki mekanisme ekonomi dan sponsor yang kuat, lalu sejauh mana negara perlu terlibat dalam pemberian bonus simbolik?
Lebih menarik lagi ketika muncul pandangan bahwa warga Jawa Barat mungkin akan merasa lebih bangga jika mayoritas pemain PERSIB berasal dari putra daerah sendiri, bukan didominasi pemain asing. Ini bukan soal xenophobia atau penolakan terhadap globalisasi olahraga, melainkan tentang identitas kultural. Bahwa sepak bola lokal idealnya juga menjadi ruang pembinaan generasi muda daerah, bukan sekadar industri kompetisi yang sepenuhnya dikendalikan logika pasar. Karena jika olahraga hanya bergerak dalam logika kapitalisme profesional, maka loyalitas budaya perlahan akan berubah menjadi transaksi hiburan semata.
Namun seperti kata pepatah, "tak ada gading yang tak retak." Di balik kemeriahan pawai kemenangan itu, terdapat sejumlah persoalan yang tidak boleh ditutupi oleh euforia. Pengamanan yang kurang maksimal menyebabkan beberapa insiden terjadi. Bahkan kecelakaan lalu lintas turut mewarnai perayaan tersebut. Disinilah kritik sosial menjadi penting.
Masyarakat kita sering terlalu larut dalam ledakan emosi kolektif sampai lupa pada disiplin publik. Kita senang merayakan kemenangan, tetapi belum sepenuhnya matang dalam mengelola keramaian secara beradab. Padahal ukuran kemajuan peradaban bukan hanya kemampuan bersorak ketika menang, tetapi juga kemampuan menjaga keselamatan dan ketertiban bersama.
Pada akhirnya, kemenangan PERSIB memang layak dirayakan. Sebab sepak bola telah menjadi ruang harapan bagi banyak orang. Tetapi bangsa ini juga perlu belajar bahwa cinta kepada klub, kepada pemimpin, bahkan kepada simbol identitas daerah.
sekalipun, tidak boleh membuat kita kehilangan daya kritis. Karena masyarakat yang sehat bukan masyarakat yang hanya pandai memuja. Melainkan masyarakat yang tetap mampu berpikir jernih di tengah gegap gempita kemenangan. (jbp)***
Red/Jurnalis media Indonesia



0 Komentar