Dalam berbagai kegiatan budaya dan ruang edukasi masyarakat, Kang Ira Bogalakon mengajak anak muda memahami filosofi iket Sunda sebagai lambang keteguhan berpikir, kesederhanaan hidup, serta penghormatan terhadap leluhur.
“Budaya tidak boleh hanya dipajang dalam seremoni, tetapi harus hidup dalam kesadaran generasi muda,” ujarnya.
Gerakan budaya tersebut mendapat perhatian dari berbagai kalangan karena dinilai mampu membangkitkan kembali rasa bangga terhadap warisan Sunda di tengah dominasi budaya digital global.
Sementara itu, pemikiran reflektif dari Adit Barli Bogalakon turut memperkuat makna gerakan tersebut.
“Ketika seseorang telah mampu mencintai dirinya sendiri dengan jujur, menerima luka, memahami kelemahan, sekaligus terus memperbaiki dirinya, maka perannya sebagai manusia akan menjadi lebih utuh. Ia tidak lagi mencintai karena takut sendiri, tapi karena ingin berbagi kehidupan,” tulis Adit Barli Bogalakon.
Gerakan tersebut juga menjadi bagian dari spirit “Bogalakon”, yakni perjalanan kesadaran manusia untuk mengenal dirinya sendiri sebelum mengenal dunia luar.
Pandangan itu sejalan dengan refleksi pemikiran Adit Barli Bogalakon yang menekankan pentingnya manusia berdamai dengan dirinya sendiri agar mampu mencintai kehidupan secara lebih utuh.
Gerakan budaya tersebut mendapat apresiasi karena dinilai mampu menghadirkan pendekatan kebudayaan yang lebih dekat dengan anak muda.
Dalam semangat yang sama, Adit Barli Bogalakon menyampaikan refleksi bahwa manusia yang telah berdamai dengan dirinya sendiri akan lebih mudah menghadirkan cinta yang tulus kepada kehidupan dan sesama manusia.***



0 Komentar