Subscribe Us


 

Adit Barli, Sekolah Unggul, dan Orang Tua yang Belum Selesai Mendidik Diri Sendiri

Adit Barli,
Sekolah Unggul, dan Orang Tua yang Belum Selesai Mendidik Diri Sendiri

MEDIASAKSINEWS -- Sejak dekade 1970-an, masyarakat Indonesia mengenal istilah sekolah favorit. Hari ini istilah itu berganti nama menjadi sekolah unggulan, sekolah penggerak, sekolah garuda, sekolah maung, atau berbagai nomenklatur lain yang terdengar lebih modern dan lebih menjanjikan. 

Namun jika ditelusuri secara jujur, substansi yang melatarbelakanginya tidak banyak berubah. Sekolah-sekolah tersebut tetap dibangun di atas gagasan yang sama, yakni mengumpulkan anak-anak yang dianggap memiliki potensi terbaik dalam satu ruang pendidikan, yang dianggap lebih berkualitas dibandingkan sekolah lainnya.

Pertanyaannya sederhana. Apa yang sesungguhnya berubah?

Diakui atau tidak, keberadaan sekolah-sekolah unggulan sering kali menciptakan stratifikasi pendidikan yang semakin nyata. 

Muncul sekolah yang dianggap istimewa, dan sekolah yang dianggap biasa. 

Maka ada kelompok siswa yang dipersepsikan unggul, dan kelompok siswa yang secara halus ditempatkan sebagai pelengkap sistem. 

Bahkan sebelum anak-anak memahami makna prestasi, masyarakat telah lebih dahulu memberi label terhadap mereka.

Fenomena ini menarik, jika dilihat dari perspektif sosiologi pendidikan

Sekolah yang seharusnya menjadi ruang pembebasan justru terkadang berubah menjadi instrumen reproduksi status sosial. 

Pendidikan tidak lagi hanya menjadi sarana belajar, melainkan juga arena simbolik untuk menunjukkan prestise. 

Orang tua berlomba memasukkan anaknya ke sekolah terbaik, bukan semata-mata karena kualitas pembelajaran, tetapi karena nama besar yang melekat pada institusi tersebut.

Padahal pertanyaan paling mendasar dalam pendidikan justru jarang diajukan. 

Mengapa kita begitu sibuk mencari sekolah unggulan, tapi jarang bertanya, apakah rumah kita sudah menjadi lingkungan pendidikan yang unggul?

Ketika berbicara tentang mendidik anak, sebagian besar orang tua membayangkan hal yang hampir sama. 

Diskursus publik mengenai pendidikan modern cenderung didominasi oleh topik seputar standardisasi sekolah unggulan, inovasi kurikulum, serta pemanfaatan teknologi digital yang diklaim secara akseleratif mampu mengoptimalkan kecerdasan peserta didik. 

"Kita sibuk membandingkan, menghitung, merencanakan, dan memilih".

Namun sangat sedikit yang berani berhenti sejenak untuk mengajukan pertanyaan yang lebih jujur kepada dirinya sendiri: sudahkah saya siap secara mental untuk menjadi orang tua?

Pertanyaan ini sederhana, tetapi sering kali terasa mengganggu. Sebab hal tersebut mengarahkan sorotan bukan kepada sekolah, melainkan kepada diri kita sendiri.

Mendidik anak pada akhirnya bukan soal seberapa mahal biaya sekolahnya. 

Bukan pula soal seberapa banyak sertifikat yang berhasil dikumpulkannya. 

Pendidikan anak sangat ditentukan oleh kedewasaan cara pandang orang tuanya dalam memahami kehidupan.

Pendidikan, selalu dimulai dari rumah. Bukan rumah sebagai bangunan fisik yang berdiri di atas tanah, melainkan rumah sebagai ruang batin tempat seorang anak pertama kali belajar memahami dunia.

Di sinilah pandangan Adit Barli menjadi menarik untuk direnungkan

Sebagai seorang pendidik seni yang bertahun-tahun mendampingi anak-anak dalam proses kreatif mereka, ia pernah mengatakan bahwa orang tua sesungguhnya adalah psikolog terbaik bagi anak-anaknya, apabila peran tersebut dijalankan dengan bijak.

Kalimat ini terdengar sederhana, tetapi sesungguhnya menyimpan kritik yang sangat dalam.

Sebab jika orang tua adalah psikolog terbaik, maka pertanyaan berikutnya adalah: apakah semua orang tua telah bertindak dengan bijak?

Jawabannya tentu tidak selalu demikian.

Banyak pola pengasuhan yang dianggap biasa justru menyimpan dampak psikologis yang tidak sederhana. 

Ketika seorang anak belajar berjalan lalu terjatuh, misalnya, sering kali orang tua berusaha menenangkan tangisnya dengan memukul benda yang menyebabkan anak tersebut jatuh sambil berkata, "Sudah jangan menangis, temboknya sudah dipukul. Nakal temboknya."

"Kalimat itu terdengar lucu, bahkan tampak penuh kasih sayang".

Namun di balik kelucuannya tersimpan pesan psikologis yang problematis. 

Anak perlahan belajar bahwa dirinya selalu benar, dan kesalahan selalu berada di luar dirinya. 

Kesadaran tentang tanggung jawab personal menjadi kabur sejak awal.

Contoh lain yang tidak kalah menarik adalah kebiasaan orang tua yang terus-menerus mengingatkan anak dengan kata-kata, "Hati-hati!", "Awas jatuh!", "Awas panas!", atau "Jangan begitu!"

Tentu niatnya baik.

Namun ketika dilakukan secara berlebihan, anak justru tumbuh dalam suasana. kecemasan. 

Dunia dalam bayangannya sebagai tempat yang tidak aman dan penuh ancaman. 

Setiap langkah harus dicurigai, sehingga selalu ragu dalam mengambil setiap keputusan.

"Tanpa disadari, banyak anak tumbuh bukan karena keberanian, melainkan karena ketakutan".

Di sinilah letak paradoks pendidikan modern. Kita ingin anak menjadi percaya diri, tetapi pola komunikasi kita justru menanamkan keraguan. 

Kita ingin anak mandiri, tetapi terlalu sering mengambil alih pengalaman hidupnya. Kita ingin anak tangguh, tetapi tidak memberi ruang bagi mereka untuk menghadapi kesulitan.

Adit Barli mengungkapkan kegelisahan yang sangat relevan dengan kondisi tersebut

Setelah mendampingi anak-anak asuhnya dalam berbagai kegiatan seni, ia sering bertanya kepada dirinya sendiri: mengapa orang dewasa begitu tergesa-gesa ingin anak-anak menjadi sesuatu?

Menjadi pintar, unggul, menjadi juara dan terbaik.

Semua istilah itu terdengar positif. 

Namun diam-diam menyimpan kecenderungan yang berbahaya, yaitu hasrat untuk menyeragamkan manusia.

Kita lupa bahwa setiap anak hadir dengan ritmenya sendiri. Setiap anak memiliki cara berpikir, cara merasakan, dan cara bertumbuh yang berbeda. 

Ada anak yang berkembang melalui angka, melalui musik. Ada yang menemukan dirinya melalui olahraga, ada pula yang menemukan makna hidup melalui seni.

"Sayangnya, sistem pendidikan kita sering lebih menghargai hasil daripada proses'. 

Kita merayakan anak yang cepat, tetapi kurang sabar terhadap anak yang sedang bertumbuh perlahan. 

Kita memberi panggung kepada mereka yang menonjol, tetapi sering gagal melihat potensi yang tumbuh dalam diam.

Padahal peradaban yang sehat tidak dibangun oleh manusia-manusia yang seragam. 

Peradaban tumbuh karena keberagaman bakat, cara berpikir, dan pengalaman hidup.

Karena itu, perdebatan tentang sekolah unggulan sesungguhnya harus membawa kita pada refleksi yang lebih mendasar. 

Pendidikan yang baik tidak dimulai dari gedung sekolah yang megah, atau kurikulum yang canggih, maupun label unggulan yang membanggakan.

Di titik ini, Adit Barli yakin bahwa pendidikan membutuhkan sebuah revolusi mental, yaitu keberanian orang tua untuk bercermin. 

Mengakui bahwa luka, ambisi, dan ketakutan pribadi bisa ikut terbawa dalam cara mendidik. Itu adalah proses sunyi untuk mengubah pola pikir, dari mengendalikan menjadi menemani.

Sebab sebelum anak belajar menjadi manusia, ia lebih dahulu belajar dari manusia yang hidup di hadapannya setiap hari.

"Pada akhirnya, sekolah terbaik bagi tumbuh kembang seorang anak kerap kali bukan institusi formal yang paling prestisius". 

Ruang terbaik itu justru mewujud dalam bentuk rumah yang hidup dengan keteladanan, ruang-ruang diskusi yang hangat, limpahan cinta, serta kehadiran orang tua yang tidak pernah lelah berproses menjadi pribadi yang lebih bijak (jbp).



Redaksi 

Posting Komentar

0 Komentar