Subscribe Us


 

Sekolah Maung dan Pertanyaan Adit Barli tentang Keadilan Pendidikan

Adit Barli, tokoh pendidikan anti-mainstream yang selama ini dikenal konsisten mendorong pendidikan berbasis kesadaran kemanusiaan, sekaligus alumni SMAN 5 Bandung

MEDIASAKSINEWS -- Memasuki tahun ajaran 2026/2027, Pemda Jabar menerapkan reformasi kebijakan pendidikan yang cukup signifikan. Fokus utama publik tertuju pada implementasi program Sekolah Maung (Manusia Unggul) yang dicanangkan oleh Kang Dedi Mulyadi. Gagasan ini berorientasi pada rekonstruksi institusional, dalam mengembalikan status dan reputasi sekolah-sekolah negeri berprestasi, yang secara historis merupakan pilar kebanggaan masyarakat. 

Program ini pada dasarnya ingin menghadirkan kembali ruang pendidikan berkualitas bagi siswa-siswa berprestasi, baik dalam bidang akademik maupun non-akademik seperti seni, budaya, olahraga, kepemimpinan, dan berbagai potensi lainnya.

Bagi sebagian kalangan, gagasan tersebut dipandang sebagai upaya menghidupkan kembali tradisi sekolah favorit yang sempat memudar setelah penerapan sistem zonasi. 

Pada masa lalu, sekolah-sekolah unggulan menjadi magnet bagi para siswa yang memiliki prestasi akademik tinggi. Nilai ujian, menjadi salah satu instrumen seleksi yang dianggap mampu mendorong budaya belajar dan kompetisi yang sehat. 

Dalam perspektif tertentu, Sekolah Maung dapat dibaca sebagai usaha menghadirkan kembali ekosistem prestasi yang dianggap penting untuk mencetak sumber daya manusia unggul.

"Namun sebagaimana setiap kebijakan publik, program ini juga menghadirkan pertanyaan-pertanyaan yang layak direnungkan bersama".

Pertanyaan pertama muncul dari perspektif keadilan akses pendidikan. Bagaimana nasib anak-anak yang tinggal di sekitar Sekolah Maung tetapi tidak diterima karena tidak memenuhi kualifikasi prestasi yang ditetapkan?

Pemerintah daerah tampaknya telah mencoba menjawab kegelisahan tersebut melalui kerja sama dengan sekolah-sekolah swasta di sekitar wilayah Sekolah Maung melalui kebijakan dalam SK Gubernur Jawa Barat Nomor: 27274/HK.02.03/SEKRE tentang Petunjuk Pelaksanaan Sistem Penerimaan Murid Baru Sekolah Manusia Unggul pada Sekolah Menengah Atas dan Sekolah Menengah Kejuruan Tahun Ajaran 2026/2027, tanggal 13 Mei 2026. Menurut KDM dalam Instagramnya (https://www.instagram.com/reels/DYqRE37zFrl/).

Siswa yang terdampak dapat bersekolah secara gratis tanpa membedakan latar belakang ekonomi, baik kaya maupun miskin. Dalam konteks pemerataan akses pendidikan, langkah ini tentu layak diapresiasi karena menunjukkan bahwa negara tidak sedang menciptakan segregasi pendidikan secara terang-terangan.

"Namun persoalan pendidikan sesungguhnya tidak berhenti pada soal biaya sekolah".

Ada aspek psikologis dan sosiologis yang jauh lebih dalam. Dalam kehidupan masyarakat, label sering kali memiliki kekuatan yang melebihi substansi. 

Ketika sebuah sekolah diberi predikat unggulan, maka secara tidak langsung sekolah lain berpotensi dipersepsikan sebagai pilihan kedua. 

Padahal kualitas pendidikan tidak selalu ditentukan oleh nama besar sekolah, melainkan oleh kualitas guru, budaya belajar, lingkungan sosial, dan keteladanan yang tumbuh di dalamnya.

Di sinilah muncul pertanyaan yang lebih filosofis. Apakah pendidikan harus membangun eksklusivitas, atau justru memperluas kualitas secara merata?

Program unggulan Sekolah Maung terletak pada penguatan nilai-nilai Pancawaluya: cageur, bageur, bener, pinter, dan singer. 

Nilai tersebut sesungguhnya sangat menarik, karena menawarkan kritik halus terhadap wajah pendidikan modern, yang terlalu memuja angka dan capaian akademik. 

Pancawaluya mengingatkan bahwa manusia unggul tidak cukup hanya pintar. la harus sehat secara fisik dan mental, baik kepada sesama, memiliki integritas moral, cerdas dalam berpikir, serta tangguh menghadapi perubahan zaman.

Dalam konteks krisis karakter yang melanda berbagai lapisan masyarakat, nilai-nilai tersebut terasa sangat relevan. 

Kita hidup di era yang menghasilkan banyak orang cerdas tetapi belum tentu bijaksana. 

Banyak individu berhasil secara akademik, tetapi gagal menjaga integritas. 

Banyak orang menguasai teknologi, tetapi kehilangan empati. 

Banyak yang mampu berbicara tentang etika, tetapi kesulitan mempraktikkannya dalam kehidupan sehari-hari.

Namun justru karena Pancawaluya begitu penting, muncul pertanyaan yang disampaikan oleh Adit Barli, tokoh pendidikan anti-mainstream yang selama ini dikenal konsisten mendorong pendidikan berbasis kesadaran kemanusiaan, sekaligus alumni SMAN 5 Bandung. Apabila konsep Pancawaluya memang dirancang lewat telaah yang mendalam, dan terbukti ampuh membentuk generasi berkualitas, mengapa penerapannya harus dikotakkan dan hanya diidentikkan dengan Sekolah Maung saja? 

Mengapa tidak dijadikan fondasi seluruh sekolah negeri dan swasta di Jawa Barat?

Pertanyaan tersebut bukan bentuk penolakan terhadap Sekolah Maung. Sebaliknya, pertanyaan tersebut lahir dari keinginan agar nilai-nilai baik tidak berhenti menjadi identitas sebuah program, melainkan menjadi budaya pendidikan secara keseluruhan. 

Sebab jika cageur, bageur, bener, pinter, dan singer adalah cita-cita ideal pendidikan, maka cita-cita tersebut sesungguhnya milik seluruh anak Jawa Barat, bukan hanya milik siswa yang berhasil lolos ke sekolah tertentu.

Lebih jauh lagi, keberhasilan suatu program pendidikan pada akhirnya tidak ditentukan oleh nama programnya, melainkan oleh manusia yang menjalankannya. 

"Di titik inilah perhatian perlu diarahkan kepada kualitas guru".

Sering kali diskusi publik terlalu fokus pada kurikulum, gedung sekolah, atau mekanisme seleksi siswa. 

Padahal inti pendidikan sesungguhnya terletak pada kualitas pendidik. Tidak ada program sehebat apa pun yang dapat berhasil apabila guru tidak dipersiapkan secara serius.

Maka pertanyaan berikutnya menjadi lebih penting, yaitu bagaimana pemerintah daerah melalui dinas pendidikan mempersiapkan kompetensi para guru untuk mewujudkan generasi Maung? 

Apakah terdapat sistem pelatihan khusus? 

Apakah guru dibekali kemampuan pedagogis yang sesuai dengan nilai Pancawaluya? 

Apakah mereka juga memperoleh penguatan dalam aspek psikologi anak, pendidikan karakter, seni, budaya, dan kecerdasan emosional?

Berbagai pertanyaan tersebut penting, karena karakter tidak dapat diajarkan. melalui slogan. 

Karakter tumbuh melalui keteladanan. Anak belajar menjadi jujur bukan karena membaca poster kejujuran, melainkan karena melihat kejujuran. hidup di hadapan mereka setiap hari.

"Akhirnya diskusi tentang Sekolah Maung ini, seharusnya tidak menimbulkan pro atau kontra". 

Yang lebih penting adalah, menjadikan program ini sebagai momentum untuk mengevaluasi arah pendidikan kita secara keseluruhan. 

Sebab pendidikan yang baik bukan sekadar menciptakan sekolah unggulan, melainkan memastikan setiap sekolah memiliki kesempatan yang sama untuk menjadi unggul.

Karena manusia unggul tidak lahir dari label institusi. la lahir dari ekosistem pendidikan yang menghargai martabat manusia, menumbuhkan karakter, memuliakan guru, dan membuka kesempatan yang adil bagi setiap anak untuk berkembang sesuai potensi terbaiknya. 

Jika semangat Pancawaluya benar-benar hendak diwujudkan, maka tantangan terbesar bukanlah membangun Sekolah Maung, melainkan menjadikan seluruh sekolah sebagai rumah yang mampu melahirkan manusia-manusia unggul bagi peradaban. (jbp).**



Redaksi 

Posting Komentar

0 Komentar