Menurut Adit Barli, upaya penegakan hukum memang penting untuk memberikan efek jera kepada pelaku kejahatan. Namun, langkah tersebut tidak akan pernah cukup apabila akar persoalan yang melatarbelakangi lahirnya pelaku kriminal tidak dibenahi sejak dini.
"Persoalan begal bukan hanya soal hukum. Ini berkaitan dengan bagaimana anak-anak dibangun kesadarannya oleh keluarga, sekolah, dan lingkungan sosial. Orang tua dan guru memiliki peran besar dalam menanamkan pemahaman tentang hukum sebab-akibat dalam kehidupan," ujarnya.
Adit menjelaskan, anak-anak perlu dibentuk memiliki semangat juang (fighting spirit), keberanian menghadapi tantangan hidup, serta kemampuan menciptakan masa depan melalui kerja keras dan kreativitas. Menurutnya, semangat kewirausahaan dan kemandirian perlu terus ditanamkan agar generasi muda tidak tergoda memilih jalan pintas yang merugikan orang lain.
Ia menilai banyak pelaku kejahatan sebenarnya memahami bahwa tindakan mereka melanggar hukum. Namun yang sering kali hilang adalah kesadaran akan konsekuensi moral, sosial, dan kemanusiaan dari setiap perbuatan yang dilakukan.
"Pendidikan kita sering fokus pada prestasi akademik, tetapi kurang memberi ruang bagi pembentukan karakter dan kesadaran. Anak-anak diajarkan untuk menjadi juara, tetapi tidak selalu diajarkan bagaimana menghadapi kegagalan, mengelola kekecewaan, dan menghargai proses," katanya.
Menurut Adit, pengalaman hidup yang pernah membawanya bersentuhan dengan lingkungan keras membuatnya memahami bahwa hukum yang paling kuat bukanlah ancaman hukuman pidana, melainkan kesadaran diri terhadap konsekuensi dari setiap tindakan.
"Hukum sebab-akibat harus dipahami sejak dini. Ketika seseorang sadar bahwa setiap tindakan akan membawa dampak bagi dirinya maupun orang lain, maka ia akan lebih berhati-hati dalam mengambil keputusan hidup," ungkapnya.
Dalam pandangannya, pendidikan karakter tidak cukup diwujudkan melalui slogan atau materi pelajaran di sekolah. Pendidikan karakter harus hadir dalam keteladanan sehari-hari, baik dari orang tua, guru, maupun lingkungan masyarakat.
Adit juga menekankan pentingnya seni dalam proses pendidikan karakter. Menurutnya, seni memiliki peran strategis dalam membangun empati, disiplin, kesabaran, dan kemampuan memahami perasaan orang lain.
"Seni bukan sekadar pelengkap pendidikan. Seni adalah ruang untuk memanusiakan manusia. Melalui seni, seseorang belajar memahami kehidupan, menghargai proses, dan membangun kepekaan sosial," ujarnya.
Meski demikian, Adit menegaskan bahwa penegakan hukum terhadap pelaku begal tetap harus dilakukan secara tegas demi memberikan rasa aman kepada masyarakat. Namun, ia mengingatkan bahwa hukuman semata tidak akan menyelesaikan persoalan apabila pendidikan kesadaran di keluarga dan sekolah terus diabaikan.
"Kalau kita hanya sibuk menghukum pelaku tanpa membangun kesadaran generasi muda, maka penjara akan terus penuh. Yang harus dibangun adalah manusia yang memahami bahwa setiap pilihan memiliki konsekuensi dan setiap keberhasilan yang diraih dengan cara yang benar jauh lebih bermartabat daripada kemenangan yang diperoleh melalui kekerasan," pungkasnya.**
Redaksi



0 Komentar