Subscribe Us


 

Adit Barli: "L'État, C'est Moi" Jangan Sampai Menjelma dalam Kepemimpinan di Tanah Pasundan

Tokoh seni, pendidikan, dan kebudayaan
Adit Barli

MEDIASAKSINEWS | Bandung, – Tokoh seni, pendidikan, dan kebudayaan Adit Barli mengajak masyarakat menjadikan sejarah sebagai cermin untuk membaca dinamika kepemimpinan dan kehidupan sosial-politik masa kini. Melalui refleksi bertajuk "L'État. C'est Moi di Tanah Pasundan", ia mengingatkan bahaya ketika kekuasaan dipusatkan pada kehendak pribadi dan mengabaikan suara rakyat.

Adit Barli mengawali refleksinya dengan mengutip ungkapan Raja Louis XIV dari Prancis, "L'État, c'est moi" atau "Negara adalah aku". Menurutnya, sejarah membuktikan bahwa kesombongan kekuasaan semacam itu pada akhirnya dikoreksi oleh rakyat melalui Revolusi Prancis yang meruntuhkan tatanan monarki absolut, Senin (03/08/2026).

Ia menilai pelajaran sejarah tersebut tetap relevan untuk membaca berbagai tantangan kepemimpinan di masa kini, termasuk di Kota Bandung, Jawa Barat, maupun Indonesia secara umum. Menurutnya, ketika pengambilan kebijakan semakin menjauh dari kebutuhan masyarakat dan ruang dialog publik semakin menyempit, maka muncul gejala kepemimpinan yang cenderung mengedepankan ego kekuasaan dibandingkan kepentingan bersama.

Adit Barli berpandangan bahwa kota tidak boleh dikelola semata sebagai ruang pencitraan, melainkan sebagai ruang hidup bersama yang mengutamakan keadilan sosial, partisipasi warga, serta penghormatan terhadap nilai-nilai kemanusiaan. Ia menilai berbagai persoalan seperti kesenjangan ekonomi, terbatasnya ruang publik, hingga meningkatnya kerentanan sosial di kalangan generasi muda memerlukan pendekatan yang lebih partisipatif dan berakar pada kebudayaan.

Dari perspektif sosiologi dan psikologi sosial, ia menegaskan bahwa kekuasaan yang kehilangan empati berpotensi menciptakan keterasingan antara pemerintah dan masyarakat. Ketika warga tidak lagi merasa didengar, kepercayaan publik terhadap institusi akan terus menurun.

Karena itu, Adit Barli mengingatkan bahwa jabatan publik merupakan amanah yang harus dijalankan dengan kerendahan hati, keterbukaan, dan kesediaan mendengarkan aspirasi masyarakat. Menurutnya, kepemimpinan yang kuat bukan dibangun melalui dominasi, melainkan melalui kemampuan merangkul, berdialog, dan menghadirkan kebijakan yang berpihak pada kepentingan rakyat.

"Sejarah mengajarkan bahwa kekuatan sejati sebuah bangsa tidak terletak pada kekuasaan yang absolut, tetapi pada kepercayaan rakyat, ketahanan sosial, dan kemampuan pemimpin menjaga nilai-nilai kemanusiaan," ungkap Adit Barli dalam refleksinya.

Ia berharap seluruh pemimpin, baik di tingkat daerah maupun nasional, terus mengedepankan semangat pelayanan publik, memperkuat ruang partisipasi masyarakat, serta menjadikan kebudayaan sebagai fondasi dalam membangun pemerintahan yang adil, demokratis, dan berorientasi pada kepentingan bersama.**

Posting Komentar

0 Komentar