MEDIASAKSINEWS | BANDUNG — Jawa Barat tidak kekurangan sekolah maupun sumber daya manusia yang memiliki kemampuan akademik. Namun, di tengah derasnya perkembangan teknologi dan tuntutan pendidikan modern, ada satu hal yang tidak boleh dilupakan: akar budaya dan nilai kemanusiaan.
Pertanyaan penting pun muncul, apakah pendidikan di Jawa Barat hanya membentuk anak yang pintar mengikuti standar, atau juga mampu melahirkan manusia yang memiliki karakter, rasa, dan jati diri budaya?
Selama ini keberhasilan pendidikan kerap diukur melalui angka, mulai dari nilai, peringkat, sertifikat, akreditasi, hingga prestasi akademik. Anak didorong untuk menjadi pinter, tetapi tidak selalu mendapatkan ruang yang cukup untuk memahami bagaimana menjadi bageur, bener, dan mampu menghargai sesama.
Padahal, masyarakat Sunda memiliki warisan nilai yang sangat kuat melalui konsep Pancawaluya, yakni lima kualitas manusia: cageur, bageur, bener, pinter, dan singer.
Kelima nilai tersebut menggambarkan manusia yang sehat, baik, benar, cerdas, sekaligus terampil. Artinya, kecerdasan tidak berdiri sendiri, tetapi harus berjalan bersama karakter dan kemampuan menghadapi kehidupan.
Persoalannya bukan apakah anak-anak Jawa Barat harus menguasai teknologi, bahasa asing, matematika, sains maupun kecerdasan artifisial. Semua kemampuan tersebut tetap penting untuk menghadapi masa depan.
Namun, yang jauh lebih penting adalah memastikan anak memiliki kompas moral ketika kemampuan tersebut telah dikuasai.
Teknologi tanpa etika dapat menjadi alat kekuasaan. Kecerdasan tanpa empati dapat melahirkan kesombongan. Sementara keterampilan tanpa nilai kebenaran berpotensi digunakan untuk melakukan manipulasi.
Karena itu, pendidikan yang tercerabut dari kebudayaan berisiko hanya menghasilkan manusia yang mengetahui bagaimana hidup di dunia, tetapi kehilangan pemahaman mengenai nilai dan tujuan hidup.
Semangat tersebut turut terlihat dalam pertemuan yang berlangsung di Museum Barli pada 5 September 2026, antara Adit Barli Bogalakon dan Herman Setiawan, Ketua Gema INTI (Generasi Muda Perhimpunan Indonesia Tionghoa) Jawa Barat.
Pertemuan tersebut berlangsung hangat dan menghasilkan kesepakatan untuk membangun kerja sama dalam program seni dan pendidikan sebagai bagian dari upaya memperkuat budaya Jawa Barat.
Kolaborasi tersebut dinilai memiliki potensi besar karena masing-masing pihak membawa kekuatan yang berbeda.
Bogalakon memiliki pengalaman di bidang seni dan pendidikan. Gema INTI Jawa Barat membawa jejaring sosial dan kemasyarakatan, sementara Museum Barli menyediakan ruang kebudayaan yang dapat menjadi tempat bertemunya berbagai gagasan dan aktivitas seni.
Ketiganya dapat menjadi simpul kolaborasi antara pendidikan, seni, masyarakat, dan identitas budaya Jawa Barat.
Seni sendiri memiliki posisi penting dalam pendidikan karena anak tidak hanya membutuhkan pengetahuan, tetapi juga pengalaman rasa.
Ketika seorang anak menggambar, ia belajar mengenali dan mengekspresikan emosi. Ketika menciptakan karya, ia belajar keberanian dan kreativitas. Ketika melihat karya orang lain, ia belajar memahami perbedaan dan menghargai perspektif yang tidak sama dengan dirinya.
Di situlah nilai-nilai Pancawaluya dapat dihidupkan, bukan sekadar dihafalkan.
• Cageur bukan hanya sehat secara fisik.
• Bageur bukan sekadar bersikap sopan.
• Bener bukan hanya tentang kepatuhan.
• Pinter bukan sebatas memperoleh nilai tinggi.
• Sedangkan singer bukan sekadar memiliki keterampilan.
Kelima nilai tersebut merupakan satu kesatuan dalam membentuk manusia yang utuh.
Karena itu, kerja sama Bogalakon dan Gema INTI Jawa Barat diharapkan tidak berhenti sebagai program sesaat. Kolaborasi ini dapat dikembangkan menjadi model pendidikan dan kebudayaan yang mempertemukan komunitas, sekolah, keluarga, seniman, dan masyarakat secara berkelanjutan.
Pendidikan Jawa Barat harus mampu berakar tanpa menjadi tertutup. Modern tanpa tercerabut dari identitas. Maju tanpa kehilangan nilai.
Sebab Jawa Barat tidak kekurangan sekolah.
Yang harus dipastikan adalah jangan sampai Jawa Barat kehilangan akar ketika sedang mengejar masa depan.
Pendidikan yang baik bukan hanya membuat anak mampu berdiri di panggung dunia. Lebih dari itu, pendidikan harus membuat mereka memahami dari tanah mana mereka berasal, nilai apa yang harus dibawa, serta manusia seperti apa yang seharusnya mereka tumbuhkan dalam dirinya.**



0 Komentar