Kegiatan yang diikuti sekitar 15.000–16.000 pelari tersebut dipusatkan di kawasan Balai Kota/Gedung Sate dan melintasi sejumlah ruas jalan di Kota Bandung.
Di wilayah Kelurahan Arjuna, Kecamatan Cicendo, monitoring dilakukan secara bersama-sama dengan melibatkan jajaran kelurahan, kecamatan, LPM, serta unsur kewilayahan lainnya.
Fokus utama monitoring diarahkan pada kebersihan lingkungan, khususnya pengelolaan sampah yang berpotensi meningkat akibat aktivitas peserta dan masyarakat di sepanjang rute.
Petugas juga melakukan pemantauan terhadap titik-titik yang menjadi lokasi aktivitas peserta, termasuk area yang berpotensi menjadi tempat penumpukan sampah plastik dan kemasan minuman.
Selain kebersihan, unsur kewilayahan juga ikut memperhatikan kondisi lalu lintas serta keamanan masyarakat di sekitar jalur yang dilalui peserta. Koordinasi dilakukan agar aktivitas event tidak mengganggu pelayanan masyarakat dan mobilitas warga secara berlebihan.
Kolaborasi antara kelurahan, kecamatan, unsur kewilayahan, komunitas, serta masyarakat menjadi bagian penting dalam menjaga agar pelaksanaan POCARI SWEAT Run Bandung 2026 berjalan tertib sekaligus tetap memperhatikan kebersihan lingkungan.
Dengan demikian, gelaran olahraga berskala besar tersebut tidak hanya menjadi agenda olahraga dan pariwisata Kota Bandung, tetapi juga menjadi momentum untuk memperkuat kesadaran bersama mengenai kebersihan dan kepedulian terhadap lingkungan.**




0 Komentar