![]() |
| Sekretaris Daerah Kota Bandung, Ema Sumarna saat membuka monitoring dan evaluasi SPBE di Auditorium Rosada. |
"Dalam pelaksanaan monitoring dan evaluasi SPBE ini jangan hanya mengejar skor. Hal yang paling utama itu kita mengejar implementasi. Ukurannya harus dirasakan oleh masyarakat," ujar Ema.
Menurutnya, mindset yang harus dibentuk adalah mencari kepuasan masyarakat, bukan mindset mengejar skor.
Untuk itu, Ema mendorong seluruh perangkat daerah untuk mengintegrasikan berbagai data dan layanan agar mempermudah masyarakat.
Saat ini, Pemkot Bandung telah memiliki super apps bernama Bandung Sadayana yang mengintegrasikan berbagai layanan publik bagi masyarakat.
Selain itu, Pemkot sedang mengerjakan aplikasi BSM+. Dalam BSM+ berisi data wajib pajak, kependudukan, dan informasi kebutuhan dasar yang masyarakat perlukan. Perwal mengenai BSM+ akan dibuat pada Maret tahun ini.
"Kalau data sudah terintegrasi masyarakat akan dengan mudah mengakses berbagai layanan publik dengan cepat dan mudah," ujarnya.
Sementara itu, Kepala Diskominfo Kota Bandung, Yayan A. Brilyana memaparkan, saat ini level SPBE Kota Bandung berada pada kategori Sangat Baik.
"Pada Tahun 2022 Kota Bandung mendapatkan nilai 3,61 dengan kategori sangat baik kami dengan teman-teman. Mudah-mudahan didorong oleh semua pihak untuk tahun ini kita targetkan dengan indeks memuaskan," katanya.
Menurutnya, untuk menuju level memuaskan perlu ada beberapa yang harus diperbaiki dari empat domain, tujuh aspek, dan 47 indikator.
"Karena SPBE itu utamanya layanan, porsi penilaiannya 50 persen. Hal yang harus diperbaiki domain management, domain tata kelola, dan domain kebijakan," ujarnya.**
Red.






0 Komentar