![]() |
| Ketua Perhimpunan Pengolah Sampah dan Bank Sampah Nusantara (Perbanus) Kota Cimahi Wahyu Darmawan, pada Rabu 21 Februari 2024. (Ayobandung.com/Arif Budianto) |
Dilansir AYOBANDUNG.COM TPA tersebut disebut-sebut menjadi silent killer akibat limbah dan bakteri yang diduga telah mencemari lingkungan sekitar.
“Gubernur Jawa Barat yang paling berperan dalam ini untuk menyelesaikan masalah pencemaran limbah di TPA Sarimukti. Karena segala perangkatnya sudah siapkan oleh pemerintah pusat. Tinggal bagaimana dan Satgas segera melakukan effort yang terbaik untuk membuat ini tuntas,” jelas Ketua Perhimpunan Pengolah Sampah dan Bank Sampah Nusantara (Perbanus) Kota Cimahi Wahyu Darmawan, Rabu 21 Februari 2024.
Kendati begitu, dia paham jika masalah limbah TPA Sarimukti ini tidak hanya terjadi tahun ini saja. Bisa jadi telah lama, namun ada pembiaran.
Hal itu terlihat dengan adanya belasan indikator yang berada di bawah ambang batas. Artinya, indikator tersebut mestinya dicarikan solusinya sejak lama.
Diakuinya, menyelesaikan persoalan TPA Sarimukti bukan hanya oleh Gubernur saja tetapi melibatkan banyak pihak.
Pemprov juga bisa menggandeng semua pihak termasuk masyarakat yang berkepentingan dan terkait dengan TPA Sarimukti.
Diakuinya, limbah TPA Sarimukti memberikan dampak negatif yang mengerikan. Apalagi air dari TPA tersebut mengalir ke Jatiluhur. Di Jatiluhur akan menjadi air baku untuk PDAM untuk Jawa Barat dan untuk Jakarta.
“Nah apa yang menjadi krusial bagi kami adalah konteksnya bukan soal benar atau salah tapi legal atau tidak legal. Ada 35 indikator lebih dari belasan yang melewati ambang batas. Ya jadi dampak yang berbahaya adalah ini ada silent Killer,” ujar dia.
Menurut dia, masalah terbesar dari limbah sampah ini harus ditangani. Karena yang terdampak adalah keluarga masyarakat yang berada di Purwakarta, Karawang, Bekasi dan sedikitnya sebagian Jakarta.
Sebelumnya, limbah dari TPA Sarimukti diduga telah mencemari air permukaan seperti Sungai Citarum dan Waduk Cirata.
Pencemaran tersebut setelah ditemukannya adanya bakteri e-coli dengan kandungan sangat tinggi di air sungai Citarum.
Hal itu disampaikan oleh Ketua Perhimpunan Pengolah Sampah dan Bank Sampah Nusantara (Perbanus) Kota Cimahi Wahyu Darmawan pada acara Mengungkap Fakta Pengelolaan TPK Sarimukti di Hafa Warehouse, Jalan Gudang Selatan, Kota Bandung, Rabu 21 Februari 2024.
“Kita baru menyadari dan sudah terbukti, bahwa di kanan dan kiri TPA ada dua sungai. Berdasarkan data dan fakta yang didapat, ada satu jalur sungai bahkan sudah tercemar oleh air lindi (air limbah). Apalagi jalur sungai itu sudah tertutup oleh sampah. Dan itu bakteri e-colinya sangat luar biasa,” kata dia.
Menurutnya, pencemaran bakteri e-coli sudah dua kali lipat atau di atas ambang batas, yaitu mencapai 46 juta dalam 100 ml air sungai.
Angka tersebut, kata dia, sangat luar biasa. Apalagi, sebuah IPAL yang baik ada mekanisme penanganan bakteri patogen. Namun nyatanya, terdapat jutaan bakteri di Sungai Citarum.**
Red.



0 Komentar