Momentum tersebut dijadikan ruang kontemplasi untuk mengenang sejarah perjuangan, mempererat persaudaraan, sekaligus meneguhkan kembali komitmen organisasi dalam menjaga nilai-nilai kebangsaan.
Peringatan HUT ke-48 FKPPI digelar di kawasan Alamanda Beach, Pantai Santolo, Kabupaten Garut, 12–13 September 2026, dengan rangkaian kegiatan camping, malam kontemplasi dan api unggun.
Mengusung semangat “Transformasi Menuju FKPPI Modern: Sinergi Dalam Bela Negara Mewujudkan Daulat Bangsa”, kegiatan tersebut diikuti para ketua rayon, jajaran pengurus dan anggota FKPPI se-Kota Bandung, jajaran Pengurus Cabang 10.09 FKPPI Kota Bandung, serta perwakilan biker FKPPI PD X Keluarga Besar FKPPI Jawa Barat.
Menurutnya, malam api unggun dan refleksi perjalanan merupakan tradisi yang memiliki makna lebih dalam daripada sekadar kegiatan kebersamaan.
Di tengah kobaran api, seluruh anggota duduk bersama tanpa sekat. Momentum itu menjadi simbol bahwa perbedaan dapat dilebur dalam satu semangat kekeluargaan, solidaritas, persatuan dan kecintaan terhadap Negara Kesatuan Republik Indonesia.
“Memasuki usia ke-48, FKPPI tidak boleh hanya terjebak pada nostalgia masa lalu. Latar belakang sebagai putra-putri purnawirawan dan TNI-Polri harus diterjemahkan menjadi kekuatan nyata untuk bangsa,” demikian pesan ketua Adde Mararif yang mengemuka dalam refleksi perjalanan organisasi.
DARI SWA DHARMA EKA KERTA HINGGA FKPPI MODERN
Perjalanan FKPPI tidak dapat dilepaskan dari sejarah panjang organisasi yang berdiri pada 12 September 1978 dengan semangat “Swa Dharma Eka Kerta.”
Pembentukan FKPPI diumumkan dan disahkan melalui SK Pengurus Besar PEPABRI pada momentum ulang tahun PEPABRI. Setelah itu, kepengurusan FKPPI berkembang mulai tingkat provinsi, kabupaten/kota hingga kecamatan.
Perjalanan organisasi kemudian memasuki babak baru pada Musyawarah Luar Biasa 12 September 1995, yang melahirkan pembentukan Generasi Muda FKPPI sebagai organisasi kepemudaan, sementara FKPPI menjadi organisasi kemasyarakatan bagi anggota berusia lebih dari 40 tahun.
Kini, memasuki usia 48 tahun, tantangan organisasi semakin kompleks. FKPPI dituntut tidak hanya mempertahankan identitas sejarah, tetapi juga mampu beradaptasi dengan perubahan zaman.
Modernisasi organisasi, peningkatan kompetensi kader, pemanfaatan teknologi serta keterlibatan aktif dalam pembangunan menjadi bagian penting dari refleksi perjalanan tersebut.
TAK HANYA API UNGGUN
Rangkaian HUT ke-48 FKPPI Kota Bandung juga diisi dengan berbagai kegiatan kebersamaan dan sosial.
Setelah malam kontemplasi dan api unggun, kegiatan dilanjutkan dengan shalat Subuh, olahraga Zumba berhadiah doorprize, sarapan bersama, permainan sepak bola dan voli ala pantai, serta aktivitas bermain di kawasan Pantai Santolo.
Kegiatan sosial juga menjadi bagian penting dari peringatan. Di antaranya penyerahan Al-Qur'an kepada masjid atau pondok pesantren, anjangsana berupa silaturahmi dan bantuan, serta doa bersama untuk para pejuang dan pahlawan serta orang tua para purnawirawan, baik yang telah meninggal dunia maupun yang masih hidup.
Doa bersama menjadi bentuk penghormatan terhadap nilai juang sekaligus pengingat bahwa perjalanan organisasi tidak pernah terlepas dari jasa generasi terdahulu.
“Menolak lupa terhadap sejarah adalah bagian dari menjaga jati diri organisasi. Namun menghormati sejarah bukan berarti berhenti di masa lalu. Nilai perjuangan harus diteruskan dalam bentuk pengabdian nyata pada masa kini,” menjadi salah satu pesan utama refleksi.
DARI NOSTALGIA MENUJU AKSI NYATA
Usia 48 tahun menjadi titik penting bagi FKPPI untuk melakukan evaluasi sekaligus menatap masa depan.
Organisasi diharapkan mampu menjadi kekuatan sosial yang modern, adaptif dan kompeten, dengan kader-kader yang berkiprah di berbagai sektor pembangunan.
Di tengah tantangan disintegrasi, persoalan sosial, dinamika ekonomi dan derasnya perubahan teknologi, FKPPI dituntut mampu mengambil posisi sebagai organisasi yang tegak lurus pada Pancasila dan UUD 1945.
Dari Pantai Santolo, kobaran api unggun bukan sekadar menerangi malam. Ia menjadi simbol bahwa semangat perjuangan yang diwariskan para pendahulu harus terus menyala.
Bukan hanya untuk dikenang, tetapi untuk diwujudkan.
48 tahun FKPPI bukan sekadar angka perjalanan. Ia adalah amanah sejarah—untuk terus berdiri, bersatu dan menjadi garda terdepan dalam bela negara demi terwujudnya kedaulatan dan kemakmuran bangsa yang berkeadilan.**







0 Komentar