Plt. Kepala UPT Pengelolaan Sampah, DLH Kota Bandung, R. Ramdani menjelaskan, KBS bukan berarti wilayah itu benar-benar tidak ada sampah sama sekali.
Namun, KBS menunjukkan warganya sudah punya kepedulian terhadap sampah untuk memilah, mengolah, dan memanfaatkan sampah dari rumah masing-masing.
Hingga saat ini, kata Ramdani, sudah ada 466 RW dari total lebih dari 1.500 RW di Kota Bandung yang menjadi bagian dari KBS.
“Ini artinya sekitar 28-29 persen RW sudah aktif dalam program ini. Harapannya, semakin banyak RW yang bergabung ke depan,” ujarnya.
“Saat ini, Kota Bandung menghasilkan sekitar 140 rit sampah per hari. Dari jumlah itu sekitar 30 rit perlu dikelola langsung di dalam kota. KBS bisa menjadi solusi agar sampah tidak terus menumpuk dan makin membebani kota,” bebernya.
Meski begitu, tidak semua RW yang sudah KBS berarti semua warganya sudah memilah. Namun, langkah ini tetap jadi fondasi penting.
“Partisipasi warga bisa dimulai dari gerakan Kang Pisman yang merupakan singkatan dari Kurangi, Pisahkan, dan Manfaatkan. Ini sejalan dengan prinsip 3R (Reduce, Reuse, Recycle), tapi dikemas dengan kearifan lokal Sunda,” ujarnya.
“Misalnya, pemilahan yang baik bisa mencegah munculnya belatung di lingkungan, karena sampah organik tidak tercampur,” ungkapnya.
Dengan dukungan semua pihak, mulai dari warga, RW, hingga pemerintah, Bandung bisa mewujudkan pengelolaan sampah yang berkelanjutan.
“KBS bukan hanya target, tapi gerakan bersama demi lingkungan yang lebih bersih dan sehat,” tegasnya.(yan)**
Sumber: Diskominfo Kota Bandung
0 Komentar