![]() |
Ilustrasi Koperasi |
Dalam siaran kolaborasi Radio Sonata dan PRFM pada Kamis 31 Juli 2025, Dinas Koperasi dan UKM Kota Bandung mengupas tuntas bagaimana koperasi ini jadi motor gotong royong ekonomi di tingkat paling bawah.
Sekretaris Dinas Koperasi dan UKM Kota Bandung, Radjasa Pimpinan Berutu menjelaskan, Koperasi Kelurahan Merah Putih (KKMP) merupakan program strategis nasional berdasarkan Instruksi Presiden Nomor 9 Tahun 2025.
“Ini adalah upaya mendorong kemandirian ekonomi masyarakat melalui koperasi berbasis kelurahan atau desa, agar pusat-pusat ekonomi tidak hanya terpusat di kota, tapi juga tumbuh di lingkungan akar rumput,” ujarnya.
Program KKMP dirancang sebagai jawaban atas berbagai tantangan ekonomi perkotaan dan pedesaan, seperti panjangnya rantai distribusi, akses permodalan yang sulit, dan dominasi modal besar.
“Dengan koperasi, distribusi bisa lebih pendek, harga barang menjadi lebih terjangkau, dan warga punya akses terhadap kebutuhan pokok hingga peluang usaha,” kata Rajasa.
Sejak diluncurkan secara nasional pada 21 Juli 2025 oleh Presiden Prabowo Subianto di Klaten, program ini telah menjangkau lebih dari 80.000 koperasi di seluruh Indonesia. Di Kota Bandung sendiri, sebanyak 151 KKMP telah terbentuk sesuai jumlah kelurahan yang ada, lengkap dengan badan hukum dan Nomor Induk Koperasi (NIK).
Radjasa menuturkan, Diskop UKM juga terus melakukan pendampingan.
“Setelah terbentuknya koperasi, kami dari Dinas Koperasi dan UKM Kota Bandung memfasilitasi pendampingan kelembagaan, mulai dari pembuatan NPWP, NIB, hingga pelatihan pengurus koperasi. Kami juga membuka peluang kerja sama KKMP dengan lembaga usaha seperti Bulog untuk menyalurkan beras SPHP,” terangnya.
Sedangkan Pengawas Koperasi Ahli Muda pada bidang Pemberdayaan Koperasi Diskop UKM Kota Bandung, Poltak Riky Anto menambahkan, Koperasi Kelurahan Merah Putih tidak membatasi usia dan latar belakang. Siapapun yang berdomisili di kelurahan terkait, meskipun sudah menjadi anggota koperasi lain di tempat kerja atau komunitas, tetap dapat bergabung.
“Peran warga sebagai pemilik, pengguna, sekaligus pengawas koperasi adalah kunci keberhasilan model gotong royong ini,” ucap Riky.
Unit usaha koperasi yang dikembangkan bervariasi, mulai dari sembako, agen gas, logistik, hingga potensi lokal seperti pariwisata dan kuliner.
“Kita harapkan koperasi mampu menjadi motor ekonomi lokal yang menjawab kebutuhan masyarakat sekaligus membuka lapangan kerja,” tutur Riky. (son)**
0 Komentar