Turnamen ini menjadi ajang pertama di Bandung yang menggabungkan olahraga bela diri kickboxing dan strike competition, sekaligus sebagai upaya menjaring atlet muda berbakat yang tangguh secara fisik dan mental.
Menurutnya, kegiatan ini tidak hanya melatih ketangkasan dan kekuatan, tetapi juga membentuk karakter generasi muda yang berani, disiplin, dan mampu mengendalikan emosi.
Erwin menyebut, ilmu bela diri memiliki nilai luhur yang harus dipahami sejak dini. Menurutnya, pembinaan mental dan karakter menjadi penting, agar kemampuan bela diri tidak disalahgunakan.
Terkait beberapa kasus kekerasan yang melibatkan oknum dari perguruan bela diri, Erwin menegaskan perlunya penguatan pembinaan sejak usia sekolah.
“Kalau bisa, di tingkat SMP dan SMA bela diri dimasukkan ke kurikulum tambahan, sesuai minat anak-anak. Entah itu silat, taekwondo, atau kickboxing, yang penting bisa membentuk keberanian dan kendali diri,” katanya.
Ia menyebut ajang ini sebagai momentum penting untuk membangun ekosistem olahraga bela diri yang lebih profesional dan berkelanjutan.
Ia juga berharap, agar penyelenggaraan turnamen bisa terus berlanjut secara rutin setiap tahun. Dengan begitu, Kota Bandung bisa menjadi pusat pengembangan kickboxing yang terorganisir, kompetitif, dan aman bagi semua kalangan. (rob)**
0 Komentar