Kunjungan ini bertujuan memastikan teknologi pengolahan berjalan optimal sekaligus mendorong keterlibatan masyarakat sekitar dalam pengelolaan sampah.
Saat mengunjungi TPS Pasar Astanaanyar, Zul menyatakan, proses pengolahan di lokasi tersebut sudah berjalan baik.
“Setelah kita lihat langsung, sistemnya sudah berjalan. Hasilnya juga sangat positif karena tidak ada bau, dan semua lininya tertampung dengan baik,” ungkapnya.
“Saat ini justru kekurangan suplai. Karena itu saya minta camat dan lurah untuk mengajak warga sekitar berpartisipasi. Sampah dari lingkungan bisa dimanfaatkan agar alat ini bekerja maksimal dan lingkungan pun jadi lebih bersih,” kata Zul.
Ia juga menekankan pentingnya pemilahan sampah sejak dari sumber, agar pengolahan berjalan lebih efisien.
“Teknologinya thermal, bukan pembakaran habis. Tidak menimbulkan polusi, dan hasilnya masih bisa dimanfaatkan,” jelas Iskandar.
Setelah dari Astanaanyar, Sekda Kota Bandung didampingi Kepala Dinas Lingkungan Hidup Kota Bandung, Darto melanjutkan monitoring ke TPS Motah di Bandung Kulon.
“Dua mesin ini jadi aset penting dalam mengurangi beban ke TPA. Dengan satu mesin saja sudah bisa mengolah 15 ton sampah per hari,” ujar Iskandar.
Hal yang menarik, abu hasil pengolahan sampah Motah dimanfaatkan menjadi paving blok.
Meski belum diperjualbelikan, paving blok ini telah digunakan untuk memperkuat fasilitas dan infrastruktur di lingkungan TPS Bandung Kulon. Hal ini sejalan dengan prinsip pemanfaatan residu dan ekonomi sirkular.
“Kalau semua bisa dimaksimalkan, beban ke TPA bisa dikurangi secara signifikan. Masyarakat juga akan merasakan langsung manfaat pengelolaan sampah yang berbasis teknologi dan partisipatif,” jelasnya. (ziz)**
0 Komentar