Pimpinan Lembaga Pelatihan Kerja (LPK) Berkat Abadi Mandiri (BAM), Wawan Sukarnawan, menjelaskan materi pelatihan dirancang komprehensif, mulai dari pengenalan sejarah kopi dunia hingga praktik penyajian minuman kopi.
Peserta dibekali pengetahuan tentang perjalanan kopi dari Ethiopia hingga masuk ke Indonesia, proses pasca panen buah kopi, pengolahan green bean, hingga tahapan roasting.
Tak hanya teori, pelatihan ini juga menitikberatkan pada penguatan keterampilan praktik. Peserta diajarkan teknik manual brew, penggunaan mesin espresso, hingga peracikan berbagai resep minuman berbasis kopi.
Setiap pelatihan yang disediakan oleh Disnaker Kota Bandung diikuti 20 peserta. Fasilitas pelatihan, peralatan, serta instruktur disediakan oleh LPK dengan tenaga pengajar yang telah mengantongi sertifikasi BNSP level 3.
“Program ini diharapkan bisa membantu menekan angka pengangguran dan kemiskinan, sekaligus mendorong masyarakat agar lebih produktif dan mandiri,” ucapnya.
Salah seorang peserta pelatihan, Fio Qalby mengaku tertarik mengikuti program ini karena melihat pelatihan barista sebagai bagian dari perluasan kesempatan kerja yang digulirkan pemerintah.
“Di balik kebiasaan ngopi, ternyata kopi itu kompleks. Kami belajar sejarah kopi, bagaimana kopi masuk ke Indonesia sampai proses pengolahan dari buah kopi menjadi green bean, roasted bean, hingga siap diseduh,” ujar Fio.
Pengalaman praktik coffee cupping menjadi momen paling berkesan bagi Fio. Dari sesi tersebut, ia memahami bahwa karakter rasa kopi sangat beragam, tidak hanya pahit, tetapi juga bisa manis, asam, hingga fruity.
Dengan bekal pelatihan ini, ia berharap Pemkot Bandung terus memperbanyak program serupa agar semakin banyak warga yang memiliki keterampilan siap pakai.
“Ke depan, saya ingin menjadi barista dan, kalau memungkinkan, membuka usaha coffee shop sendiri,” tuturnya. (red)**
Sumber; Diskominfo Kota Bandung


.jpg)

.jpg)

0 Komentar