Subscribe Us


 

Menghadirkan Jamuan Istimewa Ramadhan di Ruang Pendidikan

Rahmat Suprihat, S.Pd 
Aktivis Pendidikan Kota Bandung 

MEDIASAKSINEWS -- Ramadhan sebagai tamu istimewa sudah selayaknya disambut dengan penuh rasa ruang gembira.

Kehadirannya bagaikan oase di Padang pasir yang tandus bagi para musafir yang sedang menapaki perjalanan panjang dan terjal menuju sebuah tujuan penugasan sebagai Khalifah di hamparan bumi nan luas.

Suasana kebatinan pun tercipta hampir di semua sudut ruang, mulai dari rumah, lingkungan pendidikan, ruang kerja dan bahkan sudut-sudut kota serta ruang kenegaraan.Semuanya terkondisikan dengan membangun refleksi diri siapapun.

Mengevaluasi diri, membangun kesadaran individu dan kolektif dengan berbagai kemasan indah dari setiap agenda yang berbasis penguatan religi.

Salah satu ruang yang turut membersamai Ramadhan sebagai tamu istimewa adalah satuan pendidikan.

Berbagai kemasan program digulirkan dengan tujuan mengedukasi peserta didik dengan pola-pola pendidikan keteladanan positif.

Pesantren Kilat (Sanlat) atau Pesantren Ramadhan sebagai sebuah program rutin yang digelar setiap tamu istimewa itu hadir dikemas dengan berbagai agenda terjadwal dan tersusun rapi yang berisi beberapa muatan pendalaman materi baik itu Qurdis, Akhlak, Sejarah Kebudayaan Islam dan materi lainnya.

Selain itu gerakan pembangunan semangat berbagi pun dilaksanakan dengan konsep sederhana berupa pengumpulan donasi yang bersifat kerelaan baik berbentuk pembagian takjil berbuka puasa maupun pembagian bingkisan hari raya bagi warga sekolah dan warga sekitar sekolah yang layak menerimanya.

Semua itu menjadi ciri kuat bagi civitas akademika untuk terus membangun pendidikan karakter di setiap dimensi/moment agar tujuan pendidikan melahirkan generasi yang cerdas IPTEKnya dan luhur Imtaqnya.

Kekuatan satuan pendidikan dengan sumber dayanya tentunya bukan tanpa tantangan disaat gempuran kehadiran teknologi dengan berbagai kemasan hiburan dan aneka media sosial yang meninabobokan generasi Z terus meronta-ronta dan memanjakan tanpa batas.

Pembangunan mental individualis dan kurangnya kepekaan sosial menjadi dampak yang kontradiksi dengan semangat satuan pendidikan tersebut.

Hal ini dapat disimpulkan dengan semakin banyaknya kasus kekerasan yang dilakukan oleh Gen-Z baik yang bersifat individual maupun kolektif.

Selain itu degradasi moral semakin terlihat jelas melalui data-data penelitian tentang banyaknya Gen-Z yang terlibat kasus Free Sex, Pernikahan dini karena Married By Accident serta kasus-kasus penyimpangan perilaku seksual lainnya dan bahkan kasus bullying pun masih menjadi PR yang harus terus dituntaskan.

Tantangan itu tentunya mendorong setiap Pendidikan dan tenaga pendidikan untuk terus berinisiatif dan kreatif mencari formula yang jitu agar tujuan pendidikan dapat tercapai sementara kehadiran teknologi digital pun tetap bisa membersamai peserta didik tanpa menimbulkan dampak negatif berlebih.

Semua pihak harus berjalan dan berjuang seirama baik itu satuan pendidikan, orang tua, para pakar/akademik, masyarakat dan pihak lainnya karena sejatinya pendidikan sebagai kawah candradimuka melahirkan generasi yang mumpuni lahir dan bathin merupakan tanggung jawab bersama.***




Posting Komentar

0 Komentar