Lokasi ini bukan sembarang tempat. Tepat di samping RS Al Islam dan persis di depan kantor BBWS Provinsi Jawa Barat – kawasan yang seharusnya menjadi contoh kebersihan dan ketertiban. Namun kenyataannya, tumpukan sampah sudah bulan Ramadhan menggunung, dibiarkan begitu saja, bahkan terbawa arus sungai tanpa ada upaya serius untuk mengangkut dan membereskannya.
Sungai Jadi Tong Sampah Raksasa, Bau Menyesakkan!
Pemandangan di lokasi sungguh memilukan. Plastik, sampah rumah tangga, dan berbagai limbah lainnya menutupi permukaan air. Sampah-sampah itu tidak hanya menumpuk di pinggir, tapi juga hanyut terbawa arus, menyumbat aliran sungai dan menciptakan bau busuk yang menyesakkan dada.
Bau tak sedap itu tidak hanya mengganggu warga sekitar, tapi juga mengancam kenyamanan dan kesehatan pasien serta staf medis di RS Al Islam. Bagaimana mungkin pasien yang sedang berobat harus mencium aroma sampah setiap saat? Bagaimana mungkin instansi pemerintah seperti BBWS harus bekerja dengan latar belakang sungai yang penuh kotoran?
Pertanyaan besar kini bergema di hati masyarakat: Dimana DLH Kota Bandung?
Meskipun berita dan keluhan sudah beredar luas, bahkan viral di media sosial, hingga hari ini belum ada respons, belum ada tindakan, dan belum ada solusi dari dinas yang bertanggung jawab atas kebersihan kota ini. Sampah dibiarkan menumpuk, dibiarkan membusuk, dan dibiarkan terbawa arus seolah tidak ada yang mengurus.
Padahal, tugas utama DLH adalah menjaga lingkungan, mencegah pencemaran, dan memastikan sampah terkelola dengan baik. Namun di Cipamokolan, fungsi itu seolah hilang ditelan bumi. Warga bertanya-tanya: Apakah anggaran yang besar itu hanya untuk administrasi saja, atau benar-benar digunakan untuk membersihkan kota?
BOM WAKTU: Banjir & Penyakit Siap Menyerang!
Situasi ini semakin berbahaya karena musim hujan sudah di depan mata. Jika sampah-sampah ini terus dibiarkan menyumbat aliran sungai, maka banjir besar bukan lagi ancaman, melainkan kepastian. Air kotor yang bercampur sampah akan meluap, masuk ke pemukiman, dan membawa berbagai penyakit berbahaya seperti diare, tifus, hingga infeksi kulit.
Risiko ini semakin tinggi karena lokasinya yang berdekatan dengan fasilitas kesehatan dan perkantoran. Jika wabah penyakit menyebar, siapa yang akan bertanggung jawab?
Warga sekitar kini sudah tidak sabar dan merasa diabaikan. Mereka menuntut kejelasan dan tindakan nyata, bukan sekadar janji manis atau alasan klasik seperti "kuota TPA terbatas" atau "sedang diproses".
"Sudah berbulan-bulan begini, sampah hanyut kemana-mana, bau nya sampai masuk ke rumah. DLH kok diam saja? Padahal dekat RS dan kantor pemerintah. Apa fungsinya mereka kalau tidak mau mengurus?" keluh salah satu warga dengan nada emosi.
Masyarakat mendesak Walikota Bandung untuk segera turun tangan, mengecek kinerja DLH, dan memastikan masalah ini diselesaikan SEKARANG JUGA. Jangan biarkan Bandung yang dulu dikenal sebagai Kota Kembang kini menjadi kota yang tenggelam dalam kotoran karena kelalaian pihak yang seharusnya menjaganya.
DLH KOTA BANDUNG, TOLONG BUKA MATA DAN TELINGA!
JANGAN BIAKAN SUNGAI KITA MATI DITIMPA SAMPAH!
TINDAKLANJUTI SEKARANG SEBELUM BENAR-BENAR TERLAMBAT!
( Team / Red )



0 Komentar