Oleh Jossy Belgradoputra
MEDIASAKSINEWS -- Ada banyak cara untuk melihat gambar anak-anak. Sebagian orang melihatnya sebagai coretan biasa. Sebagian lagi menganggapnya sekadar aktivitas pengisi waktu. Tapi di tangan Adit Barli, atau Sanga Aditya Priagana, menggambar bukan hanya soal menghasilkan bentuk visual. Ia adalah proses membentuk manusia.
Dan mungkin di situlah letak masalahnya. Karena di negeri ini, sesuatu yang terlalu jauh melampaui cara berpikir umum sering kali dianggap aneh sebelum akhirnya dipahami. Persis seperti yang pernah saya tulis tentang Dody Satya.
Ekagustdiman: "Kita kerap terlambat menghargai orang-orang yang berjalan terlalu jauh di depan zamannya."
Adit Barli tampaknya sedang berjalan di jalur itu. Sebagai cucu dari maestro seni lukis realistik Indonesia, Barli Sasmitawinata, Adit sebenarnya bisa saja memilih jalan yang aman, menjadi penerus nama besar keluarga, mengelola museum, lalu hidup dalam romantisme sejarah seni. Tapi ia memilih sesuatu yang berbeda. Ia membangun sistem.
Di kawasan Museum Barli, melalui Barli Art Studio, Adit secara konsisten mengenalkan metode menggambar kepada anak-anak, remaja, hingga orang dewasa dengan pendekatan yang tidak biasa. Bahkan bisa dibilang bertolak belakang dengan cara belajar menggambar yang umum diajarkan.
Di tempat lain, anak biasanya langsung diberi pensil, penghapus, lalu diminta "menggambar yang bagus." Tapi di studio Adit, prosesnya dimulai dari sesuatu yang tampak sederhana, cara duduk. Anak-anak diajarkan duduk tegak, tapi santai. Tubuh harus stabil. Tangan tidak bergerak dari pergelangan, melainkan dari poros bahu. Mereka dilatih membuat garis lurus, bentuk bulat, oval, dan berbagai gerakan dasar berulang-ulang.
Sekilas terlihat teknis. Padahal sebenarnya filosofis. Karena Adit tampaknya paham satu hal yang sering dilupakan dunia pendidikan modern, yaitu tubuh memengaruhi cara berpikir. Anak yang terbiasa duduk dengan tenang dan menggerakkan tangannya secara sadar sedang belajar lebih dari sekadar menggambar. Ia sedang belajar mengendalikan dirinya sendiri.
Di titik ini, menggambar berubah menjadi latihan kesadaran. Namun yang paling menarik bukan itu. Yang paling "mengganggu" justru pilihan medianya. Adit tidak memulai anak-anak dengan pensil dan penghapus. Ia menggunakan spidol hitam besar, yang tentunya tidak bisa dihapus. Dan di sinilah metode itu menjadi radikal.
Karena selama ini, pendidikan kita terlalu akrab dengan penghapus. Anak-anak dibiasakan takut salah. Sedikit keliru, hapus. Garis kurang bagus, hapus. Tidak sesuai contoh, hapus lagi. Tanpa sadar, kita sedang mendidik generasi yang lebih sibuk takut salah daripada berani mencoba. Adit justru melakukan kebalikannya.
Ini bukan sekadar metode seni. Ini pendidikan karakter yang dibungkus secara halus melalui garis dan warna. Mungkin karena itulah Adit lebih sering dianggap "tidak biasa." Sistemnya tidak mudah dipahami oleh mereka yang terbiasa melihat pendidikan seni hanya sebagai pelajaran tambahan. Padahal di balik satu spidol hitam dan sekotak krayon, ada proses pembentukan mental yang jauh lebih dalam daripada sekadar menghasilkan gambar yang indah.
Sebuah kertas kosong menjadi ruang di mana anak bisa menjadi dirinya sendiri. Bukan untuk mencetak seniman besar. Tapi untuk melahirkan manusia yang tidak takut berpikir. Tidak takut mencoba. Dan tidak takut berbeda. Ironisnya, pendekatan seperti ini justru sering dianggap angin lalu oleh para stakeholder pendidikan. Mungkin karena hasilnya tidak instan. Mungkin juga karena terlalu berbeda dari sistem yang sudah mapan.
Padahal, dunia pendidikan hari ini justru sedang krisis keberanian. Anak-anak semakin pandai menghafal, tapi semakin takut mengambil keputusan. Mereka terbiasa mencari jawaban benar, tapi jarang diberi ruang untuk menemukan dirinya sendiri. Di tengah kondisi seperti itu, metode Adit sebenarnya menawarkan sesuatu yang sangat relevan. Tapi lagi-lagi, negeri ini memang sering terlambat membaca masa depan. Menariknya, yang lebih dulu melihat potensi itu justru orang luar.
Hari ini, Jum'at 15 Mei 2026, Adit Barli kedatangan tamu dari Malaysia untuk menjalin kerja sama pembuatan buku yang berisi coretan-coretan abstraknya. Sebagian orang mungkin akan bertanya, mengapa coretan abstrak dianggap penting? Karena yang dilihat bukan hanya gambarnya. Tapi cara berpikir di baliknya. Dan ini bukan pertama kali.
Tahun 2001, Muhyiddin Yassin pernah datang ke Museum Barli dan berbicara kepada almarhum Agung Wiwekaputra-ayah dari Adit Barli. Permintaannya cukup mengejutkan, meminta izin agar Adit ikut membantu membenahi dan melengkapi sistem pendidikan seni di Malaysia. Sungguh ironis. Ketika di tempat asalnya sendiri sistemnya belum sepenuhnya dipahami, negara lain justru melihat nilainya. Kita memang punya kebiasaan aneh, baru percaya ketika orang luar lebih dulu mengakui.
Padahal, yang sedang diperjuangkan Adit bukan sekadar metode menggambar. Ia sedang mempertahankan ruang kebebasan berpikir di tengah pendidikan yang semakin seragam. Dan mungkin itu yang membuat pendekatannya terasa "mengganggu." Karena sistem yang hidup dari kepatuhan biasanya tidak terlalu nyaman dengan keberanian.
Namun Adit tampaknya tidak terlalu sibuk memikirkan pengakuan. Ia tetap mengajar. Tetap membimbing anak-anak membuat garis-garis pertama mereka. Tetap percaya bahwa satu spidol hitam bisa mengubah cara seorang anak melihat dirinya sendiri. Di tengah dunia yang semakin digital, cepat, dan serba instan, apa yang dilakukan Adit Barli terasa seperti perlawanan sunyi. Perlawanan terhadap ketakutan. Perlawanan terhadap pendidikan yang terlalu sibuk mengejar hasil. Dan mungkin juga... perlawanan terhadap cara kita memandang manusia. Karena pada akhirnya, seni bukan hanya tentang gambar. Seni adalah tentang keberanian meninggalkan jejak yang tidak bisa dihapus.**




0 Komentar