Oleh Jossy Belgradoputra*
Di tengah hiruk-pikuk dunia pendidikan modern, kita sering terjebak pada satu pertanyaan yang tampak sederhana namun sesungguhnya sangat mendasar: apakah pendidikan masih berusaha membentuk manusia, atau hanya mempersiapkan tenaga kerja yang patuh terhadap kebutuhan industri?
Pertanyaan itu terasa semakin relevan ketika sekolah-sekolah berlomba mengejar angka, peringkat, sertifikasi, dan berbagai indikator keberhasilan yang dapat diukur secara administratif. Pendidikan perlahan berubah menjadi arena kompetisi. Murid dinilai dari skor. Guru dinilai dari laporan. Sekolah dinilai dari statistik. Sementara itu, hal-hal yang paling manusiawi seperti empati, kepekaan, imajinasi, keberanian moral, dan kemampuan memahami diri sendiri, sering kali tersingkir dari percakapan utama.
Ironi terbesar pendidikan hari ini bukanlah rendahnya akses terhadap teknologi atau terbatasnya fasilitas belajar. Ironi terbesar justru terletak pada kenyataan bahwa semakin maju sistem pendidikan, semakin banyak manusia yang kehilangan hubungan dengan dirinya sendiri. Anak-anak tumbuh dengan kemampuan mengoperasikan perangkat digital yang luar biasa, tetapi banyak yang kesulitan memahami emosinya sendiri. Mereka mampu menghafal berbagai konsep akademik, tetapi tidak terbiasa mengelola kecemasan, kegagalan, atau konflik sosial.
Dalam situasi seperti itu, kehadiran tokoh pendidik anti mainstream menjadi penting. Mereka hadir bukan untuk melawan pendidikan, melainkan untuk mengembalikan pendidikan pada hakikatnya, memanusiakan manusia.
Salah satu figur yang menarik untuk dibicarakan dalam konteks ini adalah Adit Barli. Di tengah kecenderungan pendidikan yang semakin mekanistik dan berorientasi pada hasil instan, Adit memilih jalan yang berbeda. Ia tidak membangun pendidikan melalui slogan-slogan besar atau pendekatan yang serba formalistik. Ia memilih seni sebagai medium untuk memahami manusia.
Adit Barli merupakan putra sulung mendiang Agung Wikekaputra sekaligus cucu dari pelukis ternama Indonesia, Barli Sasmitawinata. Ia lahir dan tumbuh dalam lingkungan yang tidak hanya mengenalkan seni sebagai keterampilan, tetapi juga sebagai cara hidup. Masa kecilnya.
dihabiskan di Sanggar Lukis Rangga Gempol, salah satu sanggar seni tertua di Bandung yang didirikan oleh kakeknya.
Di tempat itulah sesungguhnya pendidikan pertama Adit berlangsung.
Menariknya, Adit tidak pernah menempuh pendidikan seni formal secara khusus. Namun pengalaman hidup yang dikelilingi karya seni, pelukis, perupa, dan berbagai proses kreatif menjadi universitas kehidupan yang membentuk cara pandangnya terhadap dunia. Ia belajar bahwa seni tidak sekadar menghasilkan objek visual, melainkan membangun cara berpikir, cara merasakan, dan cara memahami realitas.
Tahun 2008, Adit Barli dipercaya menjadi Kepala Museum Barli menggantikan ayahnya, Agung Wikekaputra. Pada saat yang sama, ia juga mengelola Barli Art Studio yang berada di lingkungan Museum Barli Bandung. Dari sinilah ia melanjutkan warisan keluarga yang tidak hanya berkaitan dengan penciptaan karya seni, tetapi juga pendidikan seni bagi generasi muda.
Dalam perjalanan kariernya, Adit pernah menjadi salah satu kontributor Global Auction, sebuah balai lelang internasional yang bergerak dalam bidang karya seni rupa dan barang koleksi dari maestro Indonesia serta Asia Tenggara. Namun ia hanya bertahan selama satu tahun. Keputusan itu mungkin terlihat tidak lazim dalam logika pasar.
Ketika banyak orang berusaha masuk ke dalam sistem seni global yang menjanjikan keuntungan ekonomi dan prestise internasional, Adit justru memilih keluar. Alasannya sederhana namun sarat makna, ia tidak menyukai sistem yang terlalu bergaya industri.
Keputusan tersebut sesungguhnya mengandung kritik sosial yang penting. Dunia modern semakin sering mengubah segala sesuatu menjadi komoditas, termasuk seni dan pendidikan. Nilai sebuah karya sering kali diukur dari harga jualnya. Nilai pendidikan sering kali diukur dari kemampuan menghasilkan keuntungan ekonomi. Akibatnya, manusia perlahan kehilangan ruang untuk tumbuh secara utuh.
Adit memilih jalan berbeda. Baginya, seni tidak boleh kehilangan dimensi kemanusiaannya. Pandangan tersebut juga tercermin dalam karya-karya lukisnya yang berakar pada aliran abstraksi. Namun abstraksi yang ia bangun bukanlah pelarian dari realitas. Sebaliknya, abstraksi menjadi cara untuk menyelami realitas yang lebih dalam.
Menurut Adit, abstraksi bukan upaya meninggalkan bentuk, melainkan proses pendewasaan dalam memahami kehidupan. Ia merupakan usaha.
menerjemahkan energi yang tidak kasatmata, emosi yang sulit dijelaskan dengan kata-kata, dan dinamika batin yang hadir dalam setiap pengalaman manusia.
Dalam pandangan filsafat pendidikan, hal semacam ini sangat menarik. Pendidikan modern sering kali terlalu fokus pada sesuatu yang terlihat dan dapat diukur. Kita mengukur nilai, kompetensi, produktivitas, bahkan karakter. Namun kehidupan manusia tidak sepenuhnya dapat direduksi menjadi angka.
Ada wilayah-wilayah batin yang tidak dapat diukur tetapi sangat menentukan kualitas kemanusiaan seseorang. Ada empati yang tidak dapat dihitung. Ada ketulusan yang tidak dapat diberi skor. Ada kesadaran diri yang tidak bisa dituangkan dalam lembar evaluasi.
Di sinilah seni memperoleh relevansinya. Bagi Adit Barli, seni bukan sekadar urusan keindahan visual. Seni adalah instrumen edukasi yang holistik. Melalui proses menggambar, anak-anak belajar mengenali emosi mereka sendiri. Mereka belajar mengendalikan impuls, membangun fokus, dan melatih kesabaran.
Menariknya, seluruh proses itu berlangsung secara alami.
Ketika seorang anak sibuk memilih warna, mengatur komposisi, atau menyelesaikan gambar yang sedang dibuatnya, sesungguhnya ia sedang melatih konsentrasi. Ketika ia mencoba memperbaiki kesalahan dalam goresannya, ia sedang belajar tentang ketekunan. Ketika ia berusaha memahami bentuk dan ruang, ia sedang mengembangkan logika berpikir secara perlahan.
Semua itu terjadi tanpa ancaman, tanpa hukuman, dan tanpa tekanan yang berlebihan.
Anak-anak belajar disiplin tanpa merasa sedang didisiplinkan.
Mereka belajar tenang tanpa merasa diperintah untuk tenang.
Mereka belajar bertanggung jawab tanpa merasa sedang digurui.
Pendekatan inilah yang menjadikan Adit Barli layak disebut sebagai pendidik anti mainstream.
Di saat banyak pendekatan pendidikan masih percaya bahwa kontrol adalah jalan utama membentuk karakter, Adit menunjukkan bahwa kebebasan yang bertanggung jawab justru dapat melahirkan pembelajaran yang lebih mendalam. Ia memperlihatkan bahwa pendidikan tidak harus selalu hadir dalam bentuk instruksi dan aturan. Kadang-kadang.
pendidikan hadir melalui pengalaman yang menyenangkan dan memerdekakan.
Pada akhirnya, tokoh pendidik anti mainstream bukanlah mereka yang sekadar tampil berbeda. Mereka adalah orang-orang yang berani mempertahankan kemanusiaan di tengah sistem yang sering mengabaikannya.
Adit Barli menunjukkan bahwa pendidikan tidak selalu dimulai dari buku pelajaran atau ruang kelas formal. Pendidikan dapat lahir dari kanvas kosong, dari percikan warna, dari dialog batin, dan dari keberanian untuk melihat manusia sebagai makhluk yang utuh.
Di tengah zaman yang semakin bising oleh target, kompetisi, dan angka-angka keberhasilan, yang paling kita butuhkan bukanlah lebih banyak teknologi pendidikan. Mungkin yang lebih mendesak adalah lebih banyak pendidik yang mampu mengingatkan bahwa manusia bukan mesin produksi.
Dan dalam kesederhanaan goresan seni yang dikenalkan kepada anak-anak didiknya, Adit Barli sedang melakukan pekerjaan besar tersebut, menjaga agar pendidikan tetap memiliki jiwa (jbp 31/05/2026).
*Penulis adalah pengamat kebudayaan dan dinamika sosial, alumni S1 dan S2 Fakuktas Hukum Universitas Krisnadwipayana.**
Redaksi.



0 Komentar