Nama “Paksya” dicetuskan oleh Abah Rafijen. Dalam bahasa Sansekerta, kata tersebut berarti “sayap”, simbol yang menggambarkan perpanjangan tangan bagi masyarakat yang kesulitan menjangkau sistem pelayanan dan birokrasi.
Gerakan ini bekerja dengan cara yang jarang diminati banyak orang, mendampingi warga menghadapi persoalan administratif, mengurus BPJS, membantu akses kesehatan, hingga menjembatani kebutuhan masyarakat dengan berbagai instansi terkait.
Di wilayah Kabupaten Bandung dan Bandung Barat, terdapat sosok-sosok penggerak seperti Ibu Mulyani dan Diana Monza yang aktif turun langsung membantu masyarakat. Mereka bergerak tanpa banyak publikasi, namun konsisten mendampingi warga yang membutuhkan.
Pada Minggu, 11 Mei 2026, sejumlah pendampingan dilakukan oleh Paksya Bogalakon di berbagai wilayah. Di Kecamatan Cicendo, seorang warga berhasil dibantu mengaktifkan BPJS mandiri menjadi BPJS PBI agar dapat memperoleh akses layanan kesehatan.
Sementara di Andir, seorang warga dengan kondisi kolostomi atau stoma akhirnya mendapatkan kembali status BPJS aktif setelah sempat menunggak selama dua tahun. Pengajuan yang berjalan selama satu bulan itu akhirnya menemukan titik terang.
Di Desa Cangkorah, Batujajar, Paksya Bogalakon juga mendampingi warga yang terbebani biaya rumah sakit hingga Rp33 juta di RS Kawaluyaan. Setelah baru mampu membayar Rp12 juta, warga tersebut mendapat pendampingan dan arahan melalui koordinasi dengan Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Barat.
Tidak hanya itu, seorang warga dari Cibébér, Cimahi, yang membutuhkan jari palsu akibat kecelakaan turut difasilitasi melalui jejaring sosial kemanusiaan, termasuk keterlibatan Diana Monza di Yayasan Buddha Tzu Chi.
Apa yang dilakukan Paksya Bogalakon mungkin terlihat sederhana. Namun sesungguhnya, mereka sedang mengerjakan sesuatu yang tidak mudah, masuk ke dalam sistem yang rumit dan membantu masyarakat memahami prosedur yang sering membingungkan.
Di tengah zaman ketika kepedulian sering diukur dari aktivitas di media sosial, gerakan seperti ini menjadi pengingat bahwa empati sejati tidak selalu tampil di depan kamera. Kadang, ia hadir dalam bentuk kerja diam-diam yang melelahkan, namun mampu mengubah hidup seseorang.
Paksya Bogalakon mungkin tidak mengubah sistem secara besar-besaran. Namun mereka membuktikan bahwa membantu satu orang demi satu orang tetap memiliki arti besar bagi kemanusiaan.***
Red



0 Komentar