Subscribe Us


 

Perempuan yang Menjadi Sayap: Kisah Ibu Mulyani yang Tidak Pernah Belajar Berhenti Peduli

Kisah Ibu Mulyani yang Tidak Pernah Belajar Berhenti Peduli

MEDIASAKSINEWS -- Dunia tidak selalu berubah oleh mereka yang paling lantang bicara. Tapi oleh mereka yang diam-diam bekerja. Bisa dimulai dari hal kecil, dari keberanian untuk tidak diam. Dari keputusan untuk bergerak, meski tidak ada yang melihat. Walau pergerakannya begitu lambat, namun pasti. Alam semesta pun telah memberi isyarat serupa melalui perjalanan bumi mengelilingi matahari. Meski sebuah pergerakan dahsyat sedang berlangsung, kita tetap berdiri dengan tenang, hanya menyaksikan pergantian cahaya dan kegelapan sebagai satu-satunya penanda dari sebuah revolusi kosmik yang sunyi.

Begitu pulalah cara kerja kepedulian di tangan seorang perempuan bernama Ibu Mulyani. Di tengah hiruk-pikuk kota yang semakin individualis, ia bergerak dalam senyap melalui wadah PAKSYA BOGALAKON. Baginya, membantu bukan tentang mencari panggung, melainkan tentang menjawab panggilan batin yang tidak bisa ia abaikan, Rabu (13/05/2026).

Ada satu malam yang takkan pemah hilang dari ingatannya. Langit seperti sedang tumpah; hujan deras, angin kencang, dan kegelapan yang pekat menyelimuti jalanan. Di dalam mobil milik Kang Sarip, Ibu Mulyani sedang berpacu dengan waktu membawa seorang ibu yang hendak melahirkan. Keadaan berubah mencekam ketika tiba-tiba siper mobil macet total. Pandangan buta, sementara nyawa di kursi belakang sedang dipertaruhkan. Dalam setiap tim terdiri dari 4 orang

Tanpa banyak bicara, mengelap kaca mobil dari mereka harus keluar menantang badai, manual dengan sehelai sapu tangan seadanya agar kendaraan bisa terus melaju Bayangkan ketakutannya gelap, licin, dan dingin. yang menggigit batin. Namun, doa-doa yang dirapalkan di sepanjang jalan itu.

akhirnya terjawab. Begitu ban mobil menyentuh lobi rumah sakit, sang bayi langsung lahir. Sebuah kehidupan baru menyapa dunia, tepat di titik di keputusasaan hampir menang.

Ibu Mulyani adalah anomali di zaman yang serba hatung-hitungan ini. la pernah menghabiskan waktu empat hari empat malam di rumah sakit demi mendampingi pasien, sampai ia sendiri lupa kapan terakhir kali perutnya dusi. Di dompetnya saat itu hanya tersisa uang 30 ribu rupiah. Bagi sebagian orang, itu mungkin hanya harga gelas kopi kekinian. Namun bagi Ibu Mulyani dan rekan-rekannya, uang itu adalah penyambung nyawa. Ia membeli roti dan kopi, lalu mereka makan bersama dengan cara berbagi, sebuah perjamuan kecil yang lebih nikmat dari hidangan hotel berbintang, karena bumbunya adalah ketulusan.

Perjuangan fisik yang sesungguhnya sering kali terjadi di gang-gang sempit yang hanya bisa dilalui sepeda motor. Pernah hari, ada pasien yang mengalami pendarahan hebat. Saat itu, mereka belum memiliki kemewahan berupa kursi roda apalagi branıkar. Apa yang mereka lakukan? Mereka menggunakan kursi yang terbuat dari papan kayu. Ibu Mulyani, Pak Uus (suami bu Mulyani), Kang Lancar, dan Kang Sarip menggotong kursi papan itu secara bersamaar, menembus lorong sempit menuju RS Santosa Kopo. Beruntung, ada rumah sakit yang masih memiliki "hati" dengan mendahulukan nyawa pasien tanpa menagih administrasi di awal

Namun, tidak selamanya jalan itu mulus. Musuh terbesar Ibu Mulyani bukanlah Jarak atau hujan, melainkan tembok tebal bernama birokrasi, la sering kali harus berperang mengurus pasien yang bahkan tidak memiliki identitas diri seperti KTP atau KK. Meski sekarang teknologi sudah sedikit memihak melalui sistem online untuk mengurus SKTM (Surat Keterangan Tidak Mampu), tantangan baru tetap muncul. Saat ini masih harus berjuang keras membantu warga di Kabupaten Bandung yang kesulitan mendapatkan akses BPJS.

Bagi Ibu Mulyani, melihat warga bisa berobat tanpa rasa takut akan biaya adalah kemenangan kecil yang menghidupkan jiwanya. Ia adalah bukti bahwa untuk menjadi pahlawan, seseorang tidak perlu jubah atau kekuatan super. la cukup menjadi "sayap" bagi mereka yang kakinya sedang patah karena kemiskinan dan penyakit.

Bukankah semesta telah memberikan contoh bahwa pergerakan paling dahsyat sekalipun bisa terasa begitu lembut? Begitu pula Ibu Mulyani. la bergerak dalam diam, mengantar satu nyawa ke rumah sakit, mengurus satu lembar surat keterangan miskin, hingga berbagi sebongkah roti. Hal-hal yang tampak kecil ini sebenarnya adalah pergerakan dahsyat yang sedang merawat kemanusiaan kita agar tidak punah.

Seperti alat pada umumnya, nilainya tergantung pada bagaimana ia digunakan. Apakah untuk menekan, atau untuk melindungi. Apakah untuk menghukum, untuk memperbaiki. Ibu Mulyani telah memilih untuk menggunakan sisa umurnya sebagai alat pelindung bagi mereka yang terpinggirkan. Dan ketika manusia kembali menemukan dirinya melalui pelayanan seperti ini, di situlah nasionalisme menemukan maknanya yang paling dalam, bukan pada bait lagu kebangsaan, melainkan pada tetesan keringat seorang perempuan yang menolak untuk berhenti peduli (bp).**





Red/Jurnalis Media Indonesia 

Posting Komentar

0 Komentar