Menurut Rahmat Suprihat, euforia terhadap capaian nilai TKA perlu disikapi secara bijak. Ia menilai bahwa pendidikan tidak seharusnya hanya diukur dari pencapaian akademik semata, melainkan juga dari proses pembentukan karakter, kecakapan sosial, emosional, dan religius peserta didik.
"Selama ini apresiasi sering kali hanya diberikan kepada siswa dengan nilai akademik tertinggi. Padahal pendidikan memiliki tujuan yang lebih luas, yakni menghadirkan perubahan positif dalam diri peserta didik secara menyeluruh," ujarnya.
Rahmat menjelaskan, siswa yang memperoleh nilai TKA tidak terlalu tinggi bukan berarti gagal dalam proses pendidikan. Banyak peserta didik yang justru menunjukkan perkembangan luar biasa selama menempuh pendidikan, seperti berhasil mengubah kebiasaan negatif, meningkatkan kedisiplinan, mengatasi berbagai hambatan belajar, hingga menghadapi keterbatasan ekonomi dengan semangat yang tinggi.
Menurutnya, keberhasilan pendidikan seharusnya bertumpu pada penilaian proses yang dilakukan guru secara berkelanjutan. Setiap perubahan positif yang terjadi dalam diri siswa merupakan prestasi yang layak diapresiasi.
TKA Sebagai Bahan Evaluasi Kualitas Pendidikan
Di sisi lain, Rahmat menegaskan bahwa hasil TKA tetap memiliki peran penting sebagai instrumen evaluasi kualitas pendidikan. Jika secara nasional capaian TKA menunjukkan hasil yang belum menggembirakan, maka hal tersebut harus menjadi bahan refleksi bersama bagi seluruh pemangku kepentingan pendidikan.
"TKA dapat menjadi ruang penyadaran untuk membangun kualitas pendidikan yang lebih baik. Hasilnya perlu dianalisis oleh sekolah, guru, orang tua, lingkungan, dan peserta didik sendiri agar dapat diketahui faktor-faktor yang memengaruhi capaian pembelajaran," katanya.
Ia juga menyoroti pentingnya evaluasi terhadap kesesuaian materi yang diajarkan dengan soal-soal yang diujikan. Temuan tersebut dapat menjadi bahan diskusi dan pengembangan strategi pembelajaran di kalangan guru, termasuk melalui forum Musyawarah Guru Mata Pelajaran (MGMP).
Peran Strategis Orang Tua
Rahmat menambahkan bahwa orang tua memiliki posisi yang sangat penting dalam melahirkan generasi pembelajar. Di era digital saat ini, akses terhadap sumber belajar semakin terbuka luas dan berada dalam genggaman peserta didik melalui perangkat teknologi.
Karena itu, diperlukan keterlibatan aktif orang tua dalam mengarahkan anak-anak memanfaatkan teknologi untuk meningkatkan literasi dan numerasi, bukan sekadar sebagai sarana hiburan.
"Yang dibutuhkan saat ini adalah komitmen bersama antara sekolah, orang tua, dan peserta didik untuk membangun budaya belajar yang kuat. Dengan demikian, kualitas pendidikan dapat meningkat dan mampu melahirkan generasi yang siap menghadapi tantangan masa depan," ungkapnya.
Rahmat berharap hasil TKA tidak hanya dijadikan dasar untuk menentukan siapa yang terbaik secara akademik, tetapi juga menjadi momentum untuk memperkuat kolaborasi seluruh pihak dalam meningkatkan mutu pendidikan. Baginya, keberhasilan pendidikan sejati adalah ketika peserta didik mengalami perubahan positif yang berkelanjutan dan tumbuh menjadi pribadi yang berkarakter, berpengetahuan, serta memiliki kemampuan beradaptasi dengan perkembangan zaman.***
(Redaksi)



0 Komentar