MEDIASAKSINEWS -- Dalam kosmologi masyarakat Sunda, terdapat satu istilah arkais yang menyimpan kedalaman eksistensial yang luar biasa: Bogalakon. Secara harfiah, ia berarti pemeran utama atau pemegang lakon.
"Namun, di tengah peradaban modern yang mengidap penyakit narsisisme akut dan kecanduan akan panggung validasi buatan, makna Bogalakon mengalami reduksi yang dangkal".
Manusia hari ini sering kali mengira bahwa menjadi pemeran utama berarti harus berdiri di bawah silau lampu sorot, mengumpulkan tepuk tangan massal, atau memenangi kompetisi algoritma di media digital.
"Padahal, Bogalakon sejatinya adalah sebuah spirit of life-sebuah energi batin dan daya hidup yang menuntut seseorang untuk menjadi sutradara sekaligus aktor utama atas nasib dan moralitasnya sendiri, dalam kesunyian yang paling benderang".
Sebagai sebuah jiwa kehidupan, Bogalakon bekerja dalam ruang interior manusia, dengan dorongan etis yang membuat individu terus melangkah, merawat kemanusiaan, dan menegakkan keadilan substantif tanpa pernah menagih imbalan pujian dari siapa pun.
Ketika sistem sosial hari ini mendikte manusia untuk menjadi seragam, patuh pada pasar, dan mereduksi diri menjadi sekadar konsumen informasi yang pasif, spirit Bogalakon hadir sebagai antitesis yang radikal.
Ia adalah sebuah bentuk perlawanan moral terhadap kepatuhan buta dan mekanisasi peradaban yang kaku.
Jika kita menengok sejarah spiritualitas dunia, perubahan-perubahan besar yang mengubah jalannya peradaban tidak pernah lahir dari syahwat politik jangka pendek atau tepuk tangan superfisial.
Para pembawa risalah kemanusiaan adalah perwujudan sejati dari spirit Bogalakon ini. Tengoklah bagaimana Nabi Muhammad menyendiri di kegelapan Gua Hira, merenungkan pembusukan moral masyarakat Quraisy, lalu keluar membawa transformasi sosial yang membebaskan martabat manusia.
Simak pula Yesus Kristus yang memilih jalan sunyi pengorbanan, menolak kemewahan duniawi demi memeluk mereka yang terpinggirkan oleh hukum kolonial yang kaku.
Begitupun dengan Siddhartha Gautama yang menanggalkan jubah kebesaran istana demi mencari akar penderitaan manusia, atau Lao Tze yang memilih berjalan selaras dengan alam dalam keheningan Tao. Di belahan bumi lain, Maharesi Vyasa (Krishna Dwaipayana) menggoreskan epik besar kehidupan manusia lewat aksara, dan Khong Zi tanpa lelah mengajarkan kesusilaan di tengah kekacauan perang saudara.
"Tokoh-tokoh ini tidak bekerja untuk mendapatkan piala atau validasi administratif".
Mereka bergerak karena ada komitmen moral yang menghujam dalam jiwa mereka untuk melakukan karya nyata demi menyelamatkan martabat kemanusiaan.
Menjadi Bogalakon di era disrupsi ini berarti memiliki keberanian untuk mempertahankan nurani publik di tengah bisingnya hoaks dan manipulasi data.
Ia menuntut tanggung jawab intelektual untuk berani berkata benar, sekalipun kesendirian menjadi taruhannya.
Bangsa yang sehat, tidak dibangun oleh sekumpulan manusia yang sekadar mengikuti arus demi rasa aman yang semu.
Ia membutuhkan individu-individu yang sadar bahwa panggung kehidupan yang sesungguhnya berada di dalam diri mereka sendiri pada kemampuan mereka membedakan kebenaran dari kepalsuan, serta merawat empati di tengah dunia yang kian nir-rasa.
Pada akhirnya, ketika tirai sejarah ditutup, yang menyelamatkan jiwa suatu bangsa bukanlah kecanggihan infrastruktur teknisnya, melainkan seberapa banyak manusia yang tetap teguh menjadi Bogalakon: merajut kebajikan dalam sunyi, dan menghidupkan kemanusiaan tanpa perlu tepuk tangan dunia (jbp).***
Redaksi



0 Komentar