Subscribe Us


 

" Cukupkah Kepintaran Intelektual sebagai Modal Kesuksesan ?"


MEDIASAKSINEWS -- Banyak pemikir yang pintar mengolah pikirannya sehingga cerdas secara intelektual dengan kapasitas masing-masing. Sayangnya kebanggaan dari kepintaran dalam kapasitas masing-masing itu tidak diimbangi dengan kemampuan mengolah rasa dan perasaan hingga mampu berempati merasakan kondisi orang lain. 

"Ketidakmampuan menjaga sikap dan omongan ini berdampak terkesan arogan, tidak peduli atau ingin menang sendiri sementara orang lain selalu salah dan memandang orang lain lebih rendah alias dianggap "not think". 

Fenomena ini lazim terjadi pada lembaga-lembaga formal yang seolah tinggi tingkat persaingan atau kompetisi. Atau bahkan pada suatu tatanan masyarakat yang sengaja dibuat iklim kompetitif padahal mestinya dibangun dengan suasana kebersamaan atau gotong royong dan saling berempati untuk kepentingan lembaga, masyarakat atau organisasi sosialnya tersebut.

Terkadang hal ini karena prinsip petuah, pepatah dan petitih luhur dari kearifan lokal mereka tidak dihiraukan, seperti prinsip "ilmu padi", prinsip "Tutwuri Handayani", prinsip "mikul duwur mendem jero", prinsip "siger tengah", prinsip -prinsip etika budi pekerti leluhur agung daerah Nusantara lainnya.

Leluhur Nusantara mencontohkan Adab mendahului Ilmu Pengetahuan. 

Adab menjadi utama dalam perilaku dan sikap seseorang. Prinsip kesatuan kecerdasan intelektual, spiritual dan emosional menjadi keseimbangan yang dipentingkan, bahkan cenderung mengutamakan keutamaan kecerdasan emosional dan spiritual. 

Sebagai contoh dalam petuah leluhur Sunda terdapat prinsip keutamaan hidup manusia dimulai harus ; 

CAGEUR (kecerdasan menata kesehatan dan kesehatan jasmani secara logis bahwa kesehatan fisik demi keselamatan eksistensi hidup dan tanggung jawab awal menjaga kehidupan). 

BAGEUR (kecerdasan emosional dalam menjaga tutur kata, sikap dan berelasi secara sosial dengan sesama makhluk Tuhan dan terhadap semesta). 

BENER (kecerdasan dalam menata sikap dan kehidupan untuk selalu konsisten menurut aturan sosial, etika dan hukum kehidupan di masyarakat dan hukum semesta /hukum Tuhan). 

PINTER (kecerdasan intelektual yang didasarkan pada kemampuan mengolah kreatifitas potensi diri masing-masing secara sadar demi kebaikan dan kebermanfaatan dalam berkehidupan sosial). 

SINGER (kecerdasan intuitif dalam mengolah keseluruhan potensi diri baik emosi, kognitif, afektif , spiritual yang dikelola secara kreatif dan kondisional agar tidak dimanfaatkan /terjebak oleh keadaan atau tidak salah sasaran demi kebaikan sosial dan semesta).***





Sumber; (Ira Indrawardana.Jakarta. 2026)

Redaksi 

Posting Komentar

0 Komentar