Subscribe Us


 

Senja yang Mengajariku Pulang


Disusun
oleh Jossy Belgradoputra dikembangkan menjadi renungan filosofis tentang manusia yang tersadar dari masa lalunya yang kelam

Serasa jantung ini tersayat, ketika kusadari. Betapa tipis jarak antara manusia yang belajar mencintai dan manusia yang kembali menjadi buas.

Keadaan kadang tidak datang sebagai guru, melainkan sebagai godaan, yang mengetuk pintu-pintu luka lama, membangunkan bayangan gelap yang pernah kukubur di bawah reruntuhan penyesalan.

"Aku pernah berjalan di lorong yang kehilangan cahaya. Bukan karena malam terlalu pekat, melainkan karena kesombongan membuatku merasa bahwa diriku lebih terang dari matahari".

Saat itu, amarah kuanggap keberanian, keserakahan kusebut kebutuhan, dan keinginan menaklukkan sesama kuberi nama kemenangan.

Begitulah manusia, sering kali tersesat bukan karena tidak tahu jalan, tetapi karena terlalu yakin bahwa dirinya tak mungkin tersesat.

Namun waktu adalah filsuf yang paling jujur. Ia tidak berdebat. Ia tidak berkhotbah. la hanya menunjukkan akibat.

Dan akibat memiliki bahasa yang jauh lebih keras daripada seribu nasihat.

Maka ketika kehidupan menghadapkan cermin di hadapanku, aku melihat wajah yang asing. Ada luka, ada abu. Ada jejak-jejak kebiadaban yang dulu kukira kemuliaan.

Di saat itulah sering terlintas keinginan untuk beranjak ke langit, pergi meninggalkan segala riuh, seolah lenyap adalah jalan termudah untuk mengakhiri pertarungan.

Tetapi ilmu mengingatkanku, bahwa manusia bukan diciptakan untuk lari dari kehidupan, melainkan untuk memahami maknanya.

Bahwa diriku pun akan sirna, bersama lenyapnya senja, sebagaimana para raja, para penakluk, para pemilik singgasana, dan para pemburu tepuk tangan.

Tak ada yang abadi. Tak juga kesedihan.

Tak juga kejayaan. Kesadaran itulah yang perlahan membongkar kesombongan dari akar-akarnya.

Aku mulai mengerti, bahwa peradaban tidak runtuh karena kurangnya kecerdasan, melainkan karena kurangnya nurani.

Bahwa dunia hari ini dipenuhi manusia yang terdidik, namun sering gagal menjadi bijak. Mereka menguasai teknologi, tetapi tidak mampu menguasai dirinya sendiri.

Mereka berbicara tentang kemajuan, namun membiarkan kemanusiaan, tertinggal jauh di belakang.

Jaman yang pandai menghitung keuntungan, tetapi gagap menghitung penderitaan.

Jaman yang memuja kecepatan, namun kehilangan arah. Jaman yang sibuk membangun gedung-gedung tinggi, sementara hati manusia semakin sempit untuk menampung kasih.

"Di tengah keadaan itu, aku memilih mencambuk semangat ini. Bukan untuk menjadi pemenang atas orang lain, melainkan untuk menang atas diriku sendiri".

Karena peperangan terbesar tidak pernah terjadi di medan laga, tetapi di dalam dada manusia.

Di sanalah amarah bertarung dengan kebijaksanaan. Di sanalah ego berhadapan dengan cinta. Di sanalah keputusasaan menantang keyakinan.

Maka ku ikat erat jantung ini dengan virus YAKIN.

Yakin bahwa setiap luka, dapat menjadi guru. Yakin bahwa setiap kejatuhan, dapat menjadi tangga. Yakin bahwa manusia tidak ditentukan oleh gelap masa lalunya, melainkan oleh keberaniannya, menghadapi cahaya.

Hari ini aku tidak lagi mengejar langit.. Aku memilih menanam cinta di bumi. Sebab dunia terlalu penuh oleh orang-orang yang ingin dipuji, dan terlalu sedikit oleh mereka yang ingin mengasihi.

Aku ingin menjadi yang kedua.

Meski perlahan, meski tertatih. Meski kadang masih diganggu, oleh bayangan diriku yang lama.

Dan ketika hujan kembali turun, aku tidak lagi mengutuk awan.

Aku tahu,

pelangi tidak pernah lahir dari langit yang selalu cerah. la lahir dari perjumpaan antara air mata dan harapan.

Maka aku menunggu, sambil terus berjalan.

Menebarkan kasih.

Menjaga nurani. Merawat keyakinan. Karena suatu hari, setelah seluruh badai selesai, pelangi itu pasti menjemputku.

Bukan sebagai hadiah bagi kesempurnaan, melainkan sebagai penghormatan atas keberanian seorang manusia yang akhirnya belajar pulang kepada dirinya sendiri.


Adit Barli,  14 April 2025

Posting Komentar

0 Komentar