Bagi Adit Barli, penerus generasi ketiga keluarga Barli sekaligus dosen yang kerap berbagi pengalaman di berbagai kampus, seni bukan sekadar keterampilan menggambar atau menghasilkan karya yang indah. Seni merupakan sarana pendidikan yang membentuk kesadaran, melatih kepekaan emosional, serta mengembangkan kemampuan berpikir yang menjadi bekal penting bagi anak-anak sebelum memasuki profesi apa pun di masa depan.
DOSEN TERBANG
"Membangun rasa untuk melengkapi jiwa."
Kalimat sederhana itu terpampang sebagai slogan di Barli Art Studio, Bandung. Sekilas terdengar puitis, tetapi sesungguhnya mengandung kritik yang sangat mendasar terhadap arah pendidikan kita hari ini. Di tengah dunia yang semakin sibuk mengukur kecerdasan dengan angka, slogan tersebut justru mengingatkan bahwa manusia tidak hanya membutuhkan pengetahuan, tetapi juga rasa.
Di tengah dominasi budaya digital yang serba cepat, masih ada sebagian kecil generasi Z, baik di Jawa Barat maupun di luar Jawa Barat yang memilih datang ke Museum Barli, museum seni tertua di Kota Bandung. Mereka tidak sekadar melihat lukisan atau mengabadikan karya melalui kamera telepon genggam. Mereka datang untuk mencari pengalaman yang tidak dapat diberikan oleh algoritma, yaitu berdialog dengan seni, memahami budaya, dan belajar membaca manusia melalui goresan warna.
Sebagai generasi ketiga penerus maestro Barli Sasmitawinata, Adit Barli tidak. langsung mengajak berbicara tentang teknik menggambar. Ia justru memulai dari sesuatu yang lebih mendasar, yaitu menjelaskan apa arti seni dan budaya dalam kehidupan manusia. Baginya, seni bukan sekadar keterampilan estetis, melainkan cara membangun kesadaran. Seni, adalah latihan memahami diri sendiri sebelum mencoba memahami dunia.
Cara seperti inilah yang seharusnya menjadi tradisi seni mendidik, dan harus dibudayakan. Bagaimana cara kita mengawal tumbuh kembangnya karakter anak, dalam profesinya masing-masing kelak nanti, agar mereka menjadi generasi penerus yang mumpuni.
Hal tersebut terbukti saat mahasiswa Universitas Komputer Indonesia (UNIKOM) berkunjung ke Barli Art Studio di Bandung. Mereka datang bukan sekadar melihat anak-anak melukis, melainkan diajak oleh Adit Barli untuk menjalankan peran sebagai calon sarjana komunikasi. Ilmu yang selama ini dipelajari di ruang kuliah, diuji dalam ruang yang jauh lebih hidup, yaitu mendampingi anak-anak ketika mereka sedang menggambar. Hal inipun dirasakan oleh mahasiswa universitas lain yang datang berkunjung ke Barli Art Studio.
Pengalaman itu ternyata menghadirkan kesadaran yang tidak ditemukan di dalam buku teks. Ketika diminta menyampaikan kesannya, sebagian besar mahasiswa mengaku terkejut, melihat betapa kaya imajinasi anak-anak hari ini. Gambar-gambar yang lahir dari tangan mereka tidak sekadar indah, tetapi juga memperlihatkan keberanian berpikir dan kebebasan berekspresi. Mereka menyebut pengalaman tersebut sebagai sesuatu yang menyenangkan sekaligus membuka cara pandang baru tentang dunia anak, tentang seni mendidik.
Di sinilah seni dan ilmu komunikasi bertemu. Seni rupa mengajarkan cara membaca ekspresi, sedangkan ilmu komunikasi mengajarkan cara membangun hubungan. Ketika keduanya dipadukan secara tepat, jadilah seni mendidik yang tidak berhenti pada transfer pengetahuan semata, namun menjadi proses membangun kesadaran manusia.
Adit Barli sebagai dosen terbang selama bertahun-tahun meyakini, bahwa seni pendidikan mampu mengoptimalkan empat kemampuan dasar anak: mengenali emosi, membangun konsentrasi, menumbuhkan logika berpikir, dan mengembangkan tahapan berpikir secara bertahap. Kemampuan-kemampuan inilah yang menjadi fondasi sebelum anak kelak menjadi dokter, guru, insinyur, pengusaha, seniman, ataupun pemimpin. Sebelum seseorang menjadi ahli dalam profesinya, ia terlebih dahulu harus mampu mengenali dirinya sendiri.
Sayangnya, pendidikan kita masih terlalu sering menempatkan seni sebagai pelengkap kurikulum. Padahal seni justru menjadi ruang pertama tempat anak belajar sabar, menghargai proses, menerima perbedaan, mengelola kegagalan, dan mengekspresikan dirinya secara sehat. Peradaban yang besar tidak hanya dibangun oleh kecanggihan teknologi, tetapi juga oleh manusia yang memiliki kepekaan rasa.
Karena itu, tradisi seni pendidikan seharusnya tidak berhenti di ruang sanggar atau galeri. Hal tersebut seharusnya menjadi budaya bersama di rumah, di sekolah, dan di tengah masyarakat. Sebab, seni pendidikan bukan sekadar menghasilkan lulusan yang kompeten. Melainkan, mengawal tumbuh kembang karakter setiap anak di profesi apa pun mereka. Agar menjadi profesional yang kompeten, komunikatif, dan tetap merawat kewarasan batin, di tengah riuhnya kompetisi modern.
Ketika "rasa" tumbuh lebih dahulu, "pengetahuan" akan menemukan arah. Ketika "kewajiban" tumbuh lebih dahulu, "hak" akan datang (ab/jbp).
Redaksi




0 Komentar