Gagasan tersebut ia gaungkan di tengah rangkaian Unjuk Kabisa Mojang Jajaka Jawa Barat 2026 yang berlangsung di Istana BEC (Bandung Electronic Center), Kota Bandung, Jumat (21/8/2026).
“Bandung dikenal sebagai salah satu kota dengan perkembangan kuliner yang begitu pesat. Hampir setiap waktu selalu muncul tempat kuliner baru yang menjadi perbincangan banyak orang,” demikian gagasan yang disampaikan Mifftah dalam perjalanannya sebagai finalis Moka Jabar 2026.
Apa yang terjadi setelah sebuah kuliner tidak lagi viral?
Menurut Mifftah, kota besar tidak cukup hanya dikenal karena banyaknya tempat makan. Bandung juga harus mampu menjaga cerita, keberlangsungan usaha, serta cita rasa yang lahir dari para pelaku UMKM kuliner.
“Di balik setiap sajian, terdapat pelaku usaha, lapangan pekerjaan, perputaran ekonomi, dan kontribusi nyata bagi pembangunan Kota Bandung,” ujarnya.
Karena itu, menurut dia, dibutuhkan langkah lebih dari sekadar promosi sesaat. Solusi harus dibangun melalui observasi di lapangan, brainstorming, belajar langsung dari dunia UMKM, hingga berdiskusi dan mewawancarai para pelaku usaha untuk memahami kebutuhan mereka.
Bandung Mirasa, Jejak Rasa dan Warisan Rasa
Bandung Mirasa dirancang sebagai gagasan untuk mengajak masyarakat lebih mengenal, mengunjungi, dan membanggakan kuliner lokal.
Bagi Mifftah, setiap kunjungan masyarakat ke UMKM kuliner bukan sekadar aktivitas membeli makanan.
“Setiap kunjungan kita berarti kita membantu keberlangsungan usaha mereka, membuka lowongan kerja, memperkuat perputaran ekonomi, serta meningkatkan potensi PAD yang pada akhirnya kembali menjadi bagian dari pembangunan Kota Bandung,” kata Mifftah.
“Bandung Mirasa — Jejak Rasa, Cita Rasa, Warisan Rasa.”
Mifftah mengajak masyarakat memulai langkah sederhana dengan mengenali kuliner lokal, mengunjunginya, kemudian ikut membanggakannya.
Unjuk Kabisa, Budaya hingga Pencak Silat
Dalam ajang tersebut, finalis dari 27 kabupaten dan kota di Jawa Barat menampilkan bakat, kreativitas, serta kekayaan seni dan budaya daerah masing-masing.
Selain membawa gagasan mengenai perkembangan kuliner Bandung, panggung Unjuk Kabisa juga diramaikan penampilan seni tradisional, termasuk pencak silat.
Beragam penampilan itu menjadi bukti bahwa generasi muda Jawa Barat memiliki potensi yang tidak hanya berkaitan dengan wawasan dan kreativitas, tetapi juga kepedulian terhadap budaya Sunda.
Unjuk Kabisa menjadi ruang bagi para finalis untuk menunjukkan kemampuan terbaik mereka di hadapan dewan juri sebelum memasuki malam Grand Final Mojang Jajaka Jawa Barat 2026.
Perjuangan Mifftah kini memasuki tahap akhir. Grand Final Pemilihan Mojang Jajaka Jawa Barat 2026 akan berlangsung Sabtu (22/8/2026) di Universitas Maranatha Bandung.
Ia membawa harapan untuk menjadi Jajaka Jawa Barat 2026 dari Kota Bandung, sekaligus memperkenalkan gagasan yang menurutnya dapat memberikan dampak nyata bagi masyarakat.
Bagi Mifftah, menjadi Mojang atau Jajaka bukan hanya tentang memenangkan sebuah kompetisi. Lebih dari itu, gelar tersebut merupakan tanggung jawab untuk membawa gagasan, mengangkat potensi daerah, serta menjadi representasi generasi muda Jawa Barat yang rancage, berprestasi, kreatif, dan peduli terhadap budaya serta ekonomi lokal.
Dukungan terhadap Mifftah pun terus digaungkan dengan mengajak masyarakat memberikan suara dalam Pemilihan Mojang Jajaka Jawa Barat 2026.
Dengan semangat Bandung Mirasa, Mifftah ingin membawa pesan sederhana: kuliner lokal tidak cukup hanya viral, tetapi harus terus hidup.
Kenali, kunjungi, dan banggakan kuliner lokal. Dari Bandung, untuk Jawa Barat.
Dukung Muhammad Mifftah Fauzan, putra Bandung, untuk menjadi Jajaka Jawa Barat 2026.**












0 Komentar