Pembentangan tersebut menjadi puncak Tradisi Pembentangan Bendera Merah Putih Raksasa yang Ke-5 Yayasan Bogalakon, sebuah kegiatan yang diprakarsai Adit Barli, selaku Ketua Bogalakon, bersama KPJ Jawa Barat, RDP, Kang Joker dan Maung Kaboa serta elemen masyarakat Kota Bandung.
Sejak pagi buta, tepatnya pukul 05.30 WIB, panitia dan relawan telah bergerak mempersiapkan seluruh rangkaian kegiatan.
Tak ada kemewahan panggung atau dekorasi berlebihan. Yang terlihat justru kerja bersama, gotong royong, dan semangat masyarakat yang ingin memberikan sesuatu untuk negeri.
![]() |
| Adit Barli BOGALAKON |
Dago Berubah Menjadi Panggung Ekspresi Kebangsaan
Memasuki pukul 08.00 WIB, kawasan Taman Cikapayang Dago semakin ramai. Suara musik, nyanyian, dan puisi kebangsaan dari KPJ Jawa Barat mengisi suasana.
Nyanyian Mang Uli Do dan puisi kebangsaan Mang Ewok tidak hadir sebagai pertunjukan formal. Keduanya justru membawa pesan tentang keberanian, kegagahan, kekecewaan, hingga keprihatinan terhadap perjalanan sejarah perjuangan bangsa.
Suasana semakin semarak dengan hadirnya karnaval rakyat, sepeda hias Merah Putih, Maung Siliwangi raksasa, hingga parade pakaian adat dari berbagai daerah di Nusantara.
Ketika lagu Halo-Halo Bandung berkumandang, masyarakat pun larut dalam suasana kebangsaan yang terasa dekat dan hidup.
![]() |
| Ketua DPRD Kota Bandung H. Asep Mulyadi, S.H |
Di tengah rangkaian kegiatan, Ketua DPRD Kota Bandung H. Asep Mulyadi, S.H. menyampaikan apresiasi terhadap konsistensi pelaksanaan tradisi tersebut yang kini memasuki tahun kelima.
Ia mengaku terharu sekaligus bangga melihat antusiasme masyarakat dan berbagai komunitas yang bersatu dalam satu kegiatan memperingati kemerdekaan.
Kegiatan tersebut juga mendapat dukungan dari berbagai unsur, termasuk Wakil Wali Kota Bandung, DPRD Kota Bandung, Forkopimda, camat, lurah, aparatur TNI-Polri, serta unsur masyarakat lainnya.
Wakil Wali Kota Bandung Dr. H. Erwin, S.E., M.Pd. yang hadir bersama Adit Barli memberikan apresiasi atas kolaborasi berbagai komunitas dalam menjaga tradisi tersebut.
“Atas nama Pemerintah dan rakyat Bandung, saya menyampaikan apresiasi dan penghargaan setinggi-tingginya kepada Ketua Yayasan Bogalakon, Kang Adit Barli, yang kembali berkolaborasi dengan seluruh organisasi dan komunitas di Kota Bandung,” ujar Erwin.
“Bendera Merah Putih yang kita bentangkan hari ini bukan sekadar kain yang berwarna merah dan putih. Ada makna perjuangan dan pengorbanan para pahlawan, serta cita-cita besar untuk menjadikan Indonesia sebagai bangsa yang merdeka, bersatu, berdaulat, adil dan makmur,” tuturnya.
Ia menegaskan, kemerdekaan bukanlah akhir perjuangan.
Tantangan generasi saat ini adalah mengisi kemerdekaan dengan karya, kepedulian, persatuan, dan kontribusi nyata bagi bangsa.
![]() |
| Budi Dalton |
Tokoh budaya Budi Setiawan Garda Pandawa atau Budi Dalton turut hadir dalam kegiatan tersebut.
“Hari ini kita akan berkhidmat untuk mengikuti pembentangan bendera yang akan dilakukan oleh kita bersama. Itu salah satu bukti kita masih mencintai bangsa ini,” ujar Budi Dalton.
Detik-Detik Bendera Raksasa Membentang di Atas Pasopati
Sebanyak 17 anggota Damkar Kota Bandung bersiap membentangkan Bendera Merah Putih Raksasa di atas Flyover Pasopati.
Adit Barli bersama Kang Joker kemudian mengajak seluruh komunitas, tamu undangan, dan masyarakat untuk merapat serta mengarahkan pandangan ke arah bentangan Merah Putih.
Warga berdiri.
Pandangan tertuju ke atas.
Suasana hening.
Kemudian, Indonesia Raya berkumandang.
Seluruh peserta menyanyikan lagu kebangsaan bersama-sama. Tak ada lagi sekat antara komunitas, organisasi, tamu undangan, dan masyarakat. Semuanya berdiri dalam satu suasana kebangsaan.
Sejumlah warga tampak terharu. Momen tersebut menjadi simbol bahwa semangat kebangsaan masih memiliki tempat kuat di tengah masyarakat.
“Momen ini bukan sekadar seremonial. Ini adalah pengingat bahwa di balik hiruk-pikuk zaman, masih ada ruang di mana kita bisa berkumpul, saling merangkul, dan menyatu dalam semangat kebangsaan,” ujar Jossy.
Berbagai komunitas Relawan dan organisasi Masyarakat, Lembaga Swadaya Masyarakat, Perkumpulan Jurnalis serta Komunitas Bikers ikut ambil bagian dalam kegiatan tersebut, serta masyarakat.
Bagi Adit Barli, tradisi tersebut bukan sekadar agenda tahunan. Pembentangan Merah Putih menjadi ruang untuk mempertemukan berbagai kelompok dalam satu semangat: mencintai Indonesia.
“Momen ini membuat saya tercekat. Seolah alam pun ikut menyimak bahwa cinta pada negeri ini bukan milik segelintir orang. Ia milik semua,” ungkap Adit.
Hari itu, Merah Putih bukan hanya terbentang di langit Dago.
Ia hadir dalam nyanyian, puisi, langkah para relawan, semangat komunitas, senyum masyarakat, dan hening ketika Indonesia Raya dikumandangkan.
Dari Dago, pesan itu kembali digaungkan: Indonesia adalah rumah bersama.
Rumah yang mungkin dihuni oleh banyak latar belakang, banyak komunitas, dan banyak cara pandang, tetapi tetap disatukan oleh satu warna dan satu cita-cita.
Merah Putih.
“Sebab kemerdekaan sejati adalah ketika kita bisa saling menggenggam tangan dan berkata: kita masih satu, kita masih Indonesia,” pungkas Adit Barli.













0 Komentar