Subscribe Us


 

Tak Sekadar Baca Buku, Disarpus Hadirkan Maca, Gempita hingga Bandung Kota Cerita


MEDIASAKSINEWS -- Literasi di Kota Bandung kini dikemas lebih beragam dan dekat dengan kehidupan masyarakat. Tak hanya membaca buku, Dinas Arsip dan Perpustakaan (Disarpus) Kota Bandung menghadirkan berbagai program yang mengajak warga belajar, berdiskusi, berkarya, hingga mengenal sejarah kotanya.

Hal tersebut disampaikan Kepala Disarpus Kota Bandung, Kenny Dewi Kaniasari pada Live Streaming Sonata Talkshow bersama PRFM 107.5 FM, Kamis, 20 Agustus 2026. Hadir pula Sudartati, Kepala Bidang Pengembangan Perpustakaan dan Pembudayaan Kegemaran Membaca Disarpus Kota Bandung.

Kenny mengatakan, Disarpus ingin membangun ekosistem literasi yang inklusif dan menjadikan literasi sebagai bagian dari kehidupan sehari-hari masyarakat. Perpustakaan tidak lagi hanya menjadi tempat membaca, tetapi juga ruang untuk melahirkan inovasi, berkarya, dan berdiskusi.

“Kita ini tidak hanya ingin membangun budaya literasi itu menjadi satu bagian dari kehidupan sehari-hari dan juga tidak hanya sekadar aktivitas membaca buku saja. Tapi kita ingin menciptakan satu ekosistem literasi yang inklusif,” ungkap Kenny.

Salah satu upaya tersebut diwujudkan melalui penguatan layanan perpustakaan di Jalan Seram Nomor 2, baik secara langsung maupun digital. Disarpus juga menghadirkan Maca, platform e-library yang memungkinkan masyarakat mengakses layanan perpustakaan secara digital.

“Kita juga menghadirkan program-program dan kegiatan yang lebih interaktif, yang kita kemas secara kreatif sehingga masyarakat, khususnya anak-anak muda Kota Bandung ini tertarik untuk datang ke perpustakaan,” katanya.

Program literasi juga dikembangkan melalui Bandung Kota Cerita yang kini memasuki pelaksanaan kelima. Program ini menghadirkan berbagai cerita tentang Kota Bandung dengan narasumber yang kompeten, sehingga masyarakat tidak hanya memperoleh informasi melalui bacaan, tetapi juga mendapatkan pengalaman secara langsung.

“Bandung ini kalau kita ibaratkan atau analogikan sebagai ruang belajar. Jadi tidak hanya sebagai tempat tinggal kita saja, tapi banyak sekali informasi dan cerita yang menjadi ruang belajar untuk masyarakatnya,” jelas Kenny.

Tema Bandung Kota Cerita cukup beragam, mulai dari angklung, radio antik, sejarah Kota Bandung, hingga rencana mengangkat perkembangan skateboard. 

Disarpus juga menghadirkan Pameran Milestone yang menampilkan arsip, artefak, dan buku untuk mengajak masyarakat mengenal perjalanan serta tokoh-tokoh yang berpengaruh terhadap perkembangan Kota Bandung.

“Arsip-arsip itu awalnya disimpan. Kenapa tidak kita expose ke masyarakat? Soalnya masyarakat juga tahu tentang perkembangan kotanya, tentang tokoh-tokoh yang berpengaruh pada perkembangan Kota Bandung dan lain sebagainya,” ungkapnya.

Selain itu, ada program "study tour" yang mengajak siswa SD dan SMP belajar langsung di berbagai lokasi, seperti Museum Kavaleri, PT DI, Museum Biologi, dan sejumlah tempat lainnya. Program ini dikembangkan dengan konsep GLAM, yakni Gallery, Library, Archive, dan Museum.

“Kegiatan Study Tour ini kolaborasi tiga dinas, kami dari Disarpus, kemudian dari Dinas Pendidikan, kemudian dari Dinas Perhubungan,” ujar Kenny.

Sudartati menambahkan bahwa dalam program tersebut, Dinas Perhubungan turut mendukung transportasi melalui Bus Bandros. Sekolah yang ingin mengikuti study tour dapat mengajukan surat kepada Disarpus Kota Bandung.

Sementara itu, pembudayaan kegemaran membaca juga diperkuat melalui Gempita Literasi atau Gerakan Masyarakat Pintar yang dikemas dalam bentuk Jambore Literasi. Sudartati mengatakan, rangkaian Gempita telah diisi dengan berbagai kegiatan, termasuk Lomba Bertutur dan Lomba Resensi.

“Di Gempita itu sebenarnya sudah dimulai dari tanggal 1 Juli sampai 15 Agustus. Itu ada dua lomba, satu Lomba Bertutur dan Lomba Resensi,” ungkap Sudartati.

Rangkaian tersebut akan berlanjut dengan pembekalan Lomba Resensi pada 24 Agustus dan seleksi 12 besar sekaligus final Lomba Bertutur pada 5 September. Puncak Jambore Literasi direncanakan berlangsung pada 8 September 2026 di Bumi Sangkuriang.

Tak hanya perlombaan, Disarpus juga menyiapkan kegiatan kreatif untuk anak-anak, salah satunya mewarnai di atas bentangan kain sepanjang sekitar 21,6 meter. Kegiatan tersebut sekaligus menjadi media untuk mengenalkan sejarah dan perkembangan Kota Bandung kepada anak-anak.

“Biasanya kalau anak-anak mewarnai itu hanya selembar kertas. Tapi kita coba satu bentangan kain, mungkin panjangnya 21,6 meter,” kata Kenny.

Beragam program tersebut menjadi upaya Disarpus memperluas makna literasi agar tidak berhenti pada aktivitas membaca. Melalui Maca, Bandung Kota Cerita, Pameran Milestone, Study Tour, hingga Gempita Literasi, masyarakat diajak untuk membaca, mengalami, memahami, berdiskusi, berkarya, sekaligus mengenal lebih dekat cerita dan sejarah Kota Bandung.

“Kita ingin menciptakan satu ekosistem literasi yang inklusif, mudah diakses oleh siapapun dan dimanapun, setara, dan relevan dengan kebutuhan masyarakat, khususnya masyarakat Kota Bandung,” tutur Kenny. **

Posting Komentar

0 Komentar