Menurutnya, pengenalan dan penanaman nilai Pancasila dan budaya kepada generasi selanjutnya adalah hal penting untuk membentengi diri. Dengan demikian, hal yang paling sederhana ketika mereka terpapar berbagai informasi, maka mereka dapat membedakan mana informasi yang sesuai dengan nilai dan norma, serta mana informasi yang negatif.
Di sisi lain, Yusuf menyebut, Diskominfo Kota Bandung, terutama Humas Kota Bandung juga memiliki kewajiban dan tanggung jawab untuk melestarikan budaya Sunda. Ia juga mengajak pihak sekolah yang ingin melakukan kegiatan pelestarian budaya sunda dapat berkolaborasi dengan Humas Kota Bandung.
Sementara itu Direktur Sekolah Pascasarjana UPI, Prof. Dr. Juntika, M.Pd. mengatakan, dalam membangun karakter anak bangsa diperlukan kerja sama dengan berbagai stakeholder, baik dari kalangan akademik, pemerintah, dan dunia usaha.
"Di era digitalisasi seharusnya kita bisa memilih dan memilah dalam memperkuat nilai moral dan etika, nilai budaya, dan nilai pancasila, agar hidup semakin harmoni, bahagia, dan sejahtera," katanya.
"Jika kita salah mengontrol jari jemari kita dalam menggunakan internet, maka kita akan terjerumus ke jalan yang salah, seperti pornografi dan judi online. Ingat, pornografi merupakan salah satu penghancur otak manusia. Sehingga diri kita harus dibentengi dengan akhlak yang baik dan literasi digital," pesan Juntika.
"Substansinya bisa kita tentukan misalnya dengan Kaulinan Barudak. Sebelumnya kami juga telah membuat komik terkait Bela Negara yang berjudul 'Ksatria Bela Negara'. Melalui komik tersebut bisa juga memperkuat budaya literasi ketika disebarluaskan juga melalui media sosial," tutur Cecep.
Sebagai informasi, Workshop Literasi Digital Universitas Pendidikan Indonesia merupakan perwujudan project mata kuliah kepemimpinan UPI. Kegiatan ini bertujuan agar warga Bandung bisa tetap mempertahankan budaya dan kearifan lokal di tengan gempuran digitalisasi. (ray)**
Sumber: Diskominfo Kota Bandung






0 Komentar