Tanah Ulayat Suku Auye yang Lama Terisolasi
Jalur Aibore–Bogobaida berada di wilayah adat Suku Auye, salah satu komunitas masyarakat adat Papua yang hidup di kawasan hutan dan perbukitan yang sulit dijangkau. Selama bertahun-tahun, akses menuju kampung-kampung di wilayah Auye bergantung pada jalur sungai dan jalan setapak yang penuh tantangan. Kehadiran layanan kesehatan, pendidikan, distribusi sembako, hingga penyaluran bantuan pemerintah kerap terhambat akibat keterbatasan akses.
“Masyarakat di sini sudah puluhan tahun merindukan akses jalan yang layak. Mereka berada sangat jauh dari jangkauan pelayanan. Karena itu, membuka kembali jalan ini bukan hanya soal infrastruktur, tetapi soal kehadiran negara bagi rakyatnya, ” ujar John NR. Gobay saat meninjau ruas jalan tersebut.
Menurutnya, sejumlah kampung di kawasan ini masih sangat bergantung pada transportasi tradisional dan perjalanan kaki yang memakan waktu berjam-jam bahkan berhari-hari untuk mencapai pusat layanan pemerintahan.
Ruas jalan Aibore–Bogobaida bukanlah jalur baru. Pada masa sebelumnya, Pemerintah Kabupaten Paniai sempat merintis pembangunannya sebagai alternatif jalur penghubung antara wilayah pesisir Nabire dan dataran tinggi Paniai. Namun, pembangunan sempat terhenti akibat berbagai kendala, baik teknis maupun anggaran.
Saat ini, sebagian badan jalan sudah terbentuk, tetapi ditutupi semak belukar, longsoran tanah, dan pepohonan yang kembali menutup jalur. Pada beberapa titik, badan jalan rusak parah dan tidak lagi bisa dilalui kendaraan.
Gobay menyebutkan bahwa pembangunan jalan tersebut perlu dilanjutkan dan ditingkatkan menjadi jalan standar provinsi.
“Jika pembukaan kembali jalan ini dikerjakan secara berkelanjutan, jalur ini bisa menghubungkan Nabire hingga Bogobaida, bahkan diteruskan menuju Kabupaten Intan Jaya dan tembus ke Kabupaten Puncak,” jelasnya.
Menurutnya, jalur itu juga berpotensi menjadi koridor ekonomi baru yang dapat memicu pertumbuhan di kampung-kampung pedalaman.
Selama ini, jalur utama masyarakat Nabire menuju Paniai adalah melalui Kabupaten Dogiyai. Namun, daerah tersebut dikenal rawan longsor, terutama pada musim hujan ketika curah hujan tinggi mengguyur kawasan pegunungan.
Hampir setiap tahun, longsor besar terjadi di ruas jalan Dogiyai, menyebabkan penutupan jalan berjam-jam hingga berhari-hari. Hal ini berdampak langsung pada distribusi logistik, harga kebutuhan pokok, dan mobilitas masyarakat.
“Ruas jalan Aibore–Bogobaida penting sekali sebagai jalur alternatif. Kita tidak bisa hanya mengandalkan satu jalur yang setiap musim hujan selalu terputus. Dengan adanya jalur alternatif, beban distribusi bisa dialihkan dan masyarakat tidak lagi terisolasi saat longsor terjadi,” tambah Gobay.
Pembukaan kembali jalan ini diyakini akan membawa dampak besar. Selain mempermudah akses masyarakat, jalur tersebut dapat membuka peluang ekonomi baru seperti pasar antarwilayah, pengembangan komoditas lokal, dan kemudahan penyaluran barang kebutuhan pokok. Warga juga bisa lebih cepat menjangkau fasilitas kesehatan, sekolah, serta pelayanan pemerintahan.
Di sejumlah kampung, warga bahkan sudah menyiapkan beberapa kawasan yang dapat dikembangkan menjadi lokasi pasar rakyat apabila jalan tersebut resmi dibuka kembali. Para petani lokal mengatakan bahwa mereka selama ini kesulitan menjual hasil kebun karena tidak adanya akses kendaraan.
Melihat urgensi dan potensi besar dari jalur tersebut, DPRP-PT mendorong Pemerintah Provinsi Papua Tengah untuk memasukkan pembangunan kembali ruas jalan Aibore–Bogobaida ke dalam program strategis daerah.
“Masyarakat di wilayah ini membutuhkan kehadiran pemerintah. Jalan adalah pintu pertama menuju pembangunan. Jika pintu ini dibuka, maka pelayanan lain akan mengikuti,” tegas Gobay.
Ia berharap pemerintah provinsi dapat mengalokasikan anggaran khusus untuk membuka kembali jalur tersebut, diikuti dengan peningkatan struktur jalan agar tahan terhadap kondisi cuaca ekstrem.
“Masyarakat di pedalaman tidak meminta banyak. Mereka hanya ingin jalan agar mereka bisa hidup lebih baik,” pungkasnya.***
Sumber; (ing elsa ENAGONEWS/ Martika Edison Siliwangi News) Tim Ekspedisi Siliwangi Cinta Alam Indonesia/ EIGER EKSPEDISI MERAH PUTIH INDONESIA MAJU)







0 Komentar