Penulis; Hj. Hagia Sofia
MEDIASAKSINEWS | Jakarta – Dalam lanskap politik Indonesia modern, nama Anies Rasyid Baswedan kerap diasosiasikan dengan dunia akademis dan kebijakan publik. Namun, untuk memahami fondasi pemikiran dan retorika mantan Gubernur DKI Jakarta ini, kita perlu menarik garis waktu ke belakang—jauh ke masa revolusi fisik kemerdekaan Indonesia.
Di sana, berdiri sosok Abdurrahman (AR) Baswedan, kakek kandung Anies, yang pada tahun 2018 resmi dianugerahi gelar Pahlawan Nasional oleh pemerintah Indonesia. Hubungan ini bukan sekadar garis biologis, melainkan sebuah estafet ideologi dan diplomasi yang melintasi zaman.
Sang Pembawa Dokumen Kedaulatan
AR Baswedan bukanlah nama sembarangan dalam sejarah pergerakan nasional. Ia adalah seorang jurnalis, diplomat, dan pejuang yang gigih.
Salah satu momen paling heroik dalam hidup AR Baswedan terjadi pada tahun 1947. Saat itu, ia menjadi bagian dari delegasi diplomatik RI pertama ke Mesir untuk mendapatkan pengakuan de jure dan de facto atas kemerdekaan Indonesia. Misi ini sangat berbahaya. Dengan mempertaruhkan nyawa, AR Baswedan membawa dokumen pengakuan kedaulatan dari Mesir menyusup lewat blokade Belanda, menyembunyikan dokumen vital tersebut di dalam kaus kakinya agar tidak disita musuh.
Keberanian dan kecerdikan diplomasi inilah yang tampaknya menurun deras pada cucunya. Anies, dalam berbagai kesempatan global, sering menunjukkan kemampuan diplomasi lunak (soft diplomacy) yang mengingatkan publik pada keluwesan sang kakek dalam melobi dukungan internasional di masa krusial republik ini.
Sumpah Pemuda Keturunan Arab
Jauh sebelum misi ke Mesir, AR Baswedan telah meletakkan batu penjuru bagi integrasi nasional. Pada 4 Oktober 1934, ia menginisiasi "Sumpah Pemuda Keturunan Arab". Melalui Partai Arab Indonesia (PAI) yang didirikannya, ia menyerukan agar warga keturunan Arab menanggalkan identitas eksklusifnya dan melebur sepenuhnya menjadi "Bangsa Indonesia".
Ia mempopulerkan narasi bahwa "Tanah airmu bukanlah tanah leluhurmu yang gersang di sana, melainkan tanah air Indonesia di mana kamu dilahirkan dan dibesarkan."
Semangat inklusivitas dan persatuan ini terlihat tercermin dalam narasi "Tenun Kebangsaan" yang sering didengungkan Anies Baswedan. Fokus Anies pada keadilan sosial dan persatuan warga mencerminkan visi kakeknya yang ingin menghapus sekat-sekat primordial demi kepentingan nasional yang lebih besar.
Warisan Intelektual dan Jurnalisme
Selain darah pejuang, tinta jurnalisme juga mengalir deras. AR Baswedan dikenal sebagai wartawan yang tajam, pernah bekerja di surat kabar Sin Tit Po dan Soeara Oemoem. Ia menggunakan pena sebagai senjata melawan kolonialisme.
Anies mewarisi tradisi literasi ini. Tumbuh di lingkungan yang penuh dengan buku dan diskusi di Yogyakarta, kemampuan Anies dalam merangkai kata dan narasi publik menjadi salah satu kekuatan politik utamanya. Jika sang kakek menggunakan tulisan untuk membakar semangat anti-kolonial, sang cucu menggunakan retorika untuk membangun kebijakan dan opini publik di era demokrasi.
Sebuah Tanggung Jawab Sejarah
Menjadi cucu seorang Pahlawan Nasional bukanlah sekadar privilese, melainkan beban sejarah. Dalam sebuah wawancara, Anies pernah menyebutkan bahwa kakeknya mewariskan integritas dan nama baik, sebuah aset yang tidak bisa dinilai dengan materi.
Ketika Anies Baswedan melangkah di panggung nasional, bayang-bayang AR Baswedan tidak pernah jauh darinya. Dari gaya bicara yang terstruktur hingga penekanan pada pendidikan (mengingat AR Baswedan juga pernah menjabat Menteri Muda Penerangan), jejak sang kakek terlihat nyata.
Kisah Anies dan AR Baswedan adalah pengingat bahwa republik ini dibangun oleh tumpukan ide dan keberanian. Bagi Anies, label "cucu pahlawan" adalah pengingat konstan bahwa perjuangan mengisi kemerdekaan sama beratnya dengan perjuangan merebutnya.***
Red/Ida.R



0 Komentar