Subscribe Us


 

Di Balik Tangis Pertama Bayi, Ada Pengabdian 23 Tahun Deti Hendarti


MEDIASAKSINEWS -- Tidak semua pahlawan mengenakan seragam yang mencolok. Sebagian hadir dengan senyum yang menenangkan, tangan yang sigap, dan hati yang penuh empati.

Mereka adalah para bidan, sosok yang menjadi saksi sekaligus penjaga kehidupan sejak detik pertama seorang bayi lahir ke dunia.

Selama lebih dari 23 tahun, Deti Hendarti, menjalani pengabdian itu tanpa henti. Sebagai Kepala Ruang Bersalin dan Pelayanan Obstetri Neonatal Emergensi Komprehensif (PONEK) RSUD Bandung Kiwari, ia telah mendampingi ribuan ibu melewati proses persalinan, menyaksikan tangis pertama bayi, sekaligus menghadapi berbagai situasi darurat yang mempertaruhkan dua nyawa sekaligus.

Menjelang peringatan Hari Bidan Nasional 2026, Deti membagikan kisah panjang pengabdiannya, mulai dari alasan memilih profesi bidan hingga pesan menyentuh bagi para suami agar lebih peduli terhadap ibu hamil.

"Saya memang bercita-cita menjadi bidan sejak kecil," tuturnya, Selasa, 23 Juni 2026.

Inspirasi itu datang dari seorang bidan di lingkungan tempat tinggalnya yang setiap bulan melayani ibu dan balita di kegiatan posyandu.


Sosok tersebut, menurutnya, menunjukkan bahwa seorang bidan bukan hanya tenaga kesehatan, tetapi juga pelayan masyarakat yang penuh kasih sayang.

"Dari cara beliau berbicara, melayani pasien, sampai kepeduliannya kepada masyarakat, saya merasa profesi bidan adalah pekerjaan yang sangat mulia," katanya.

Cita-cita itu kemudian membawanya menempuh pendidikan di Poltekkes Kementerian Kesehatan Bandung pada tahun 1999.

Empat tahun kemudian, tepatnya Januari 2003, ia mulai mengabdi di rumah sakit yang saat itu masih bernama Rumah Sakit KAI Kota Bandung.

Seiring waktu, rumah sakit tersebut terus berkembang, berganti nama menjadi Rumah Sakit Bersalin Astana Anyar, RSKIA Kota Bandung, hingga kini menjadi RSUD Bandung Kiwari.

Bagi sebagian masyarakat, bidan identik dengan proses persalinan. Namun, menurut Deti, tugas seorang bidan jauh lebih luas daripada sekadar membantu melahirkan.


Bidan mendampingi perempuan di hampir seluruh fase kehidupannya, mulai dari bayi baru lahir, masa kanak-kanak, remaja, persiapan kehamilan, kehamilan, persalinan, masa nifas, pelayanan keluarga berencana hingga masa menopause.

"Bidan itu sahabat perempuan. Kami mendampingi mereka dalam berbagai fase kehidupan, bukan hanya saat melahirkan," ujarnya.

Hubungan tersebut sering kali melampaui pelayanan medis. Banyak ibu yang menjadikan bidan sebagai tempat berbagi cerita, mencurahkan kekhawatiran, hingga meminta nasihat mengenai persoalan keluarga.

"Kami sering menjadi tempat curhat. Kadang persoalannya bukan hanya kesehatan, tetapi juga kondisi rumah tangga dan ekonomi keluarga. Sebisa mungkin kami mendengarkan dan membantu," katanya.

Sebagai rumah sakit rujukan ibu dan anak, RSUD Bandung Kiwari setiap hari menerima pasien dengan berbagai komplikasi kehamilan dan persalinan dari puskesmas maupun praktik mandiri bidan.

Meski demikian, menurut Deti, tantangan terbesar justru dihadapi rekan-rekan bidan yang bertugas di wilayah pelosok.

Ia menceritakan masih ada daerah yang mengharuskan bidan membawa pasien menggunakan tandu, menyeberangi sungai dengan sampan, hingga menempuh perjalanan panjang menuju rumah sakit rujukan.


Belum lagi ketika keluarga pasien menolak dirujuk meskipun kondisi ibu sudah mengalami kegawatdaruratan.

"Situasi seperti itu sangat berat. Di satu sisi ibu harus segera ditolong, tetapi fasilitas terbatas dan keluarga belum tentu memahami kondisi yang sebenarnya," ujarnya.

Menurutnya, pengabdian para bidan di daerah terpencil merupakan perjuangan luar biasa yang patut mendapat penghargaan.

Dari sekian banyak pengalaman menangani pasien, ada satu hal yang paling membekas di benak Deti.

Ia beberapa kali mengikuti audit maternal, yakni evaluasi terhadap kasus kematian ibu. Dari berbagai kasus tersebut ditemukan pola yang hampir sama, yaitu minimnya dukungan dari keluarga, terutama suami.

Karena itu, ia mengajak para suami agar tidak menganggap kehamilan sebagai perjuangan seorang istri semata.

"Sayangi istri dengan sepenuh hati, terutama saat hamil. Bantu pekerjaannya, perhatikan kebutuhan gizinya, dampingi saat kontrol kehamilan, dan berikan ketenangan karena kondisi psikologis ibu sangat berpengaruh terhadap kesehatan bayi," pesannya.

Menurutnya, pencegahan stunting bahkan dimulai sejak masa kehamilan. Oleh sebab itu, perhatian terhadap kesehatan ibu menjadi investasi penting untuk melahirkan generasi yang sehat.

Ia juga mengingatkan agar setiap ibu rutin melakukan pemeriksaan kehamilan di fasilitas kesehatan terdekat sehingga setiap risiko dapat dideteksi lebih awal.

Kepada para mahasiswa kebidanan dan calon bidan, Deti berpesan agar tidak hanya menguasai ilmu medis, tetapi juga membangun kemampuan komunikasi dan empati.

"Bidan bukan hanya memberi edukasi, tetapi juga harus mampu mendengarkan. Dari mendengarkan, kita memahami apa yang benar-benar dibutuhkan pasien," katanya.

Ia juga mengajak seluruh bidan di Indonesia, baik yang bertugas di rumah sakit, puskesmas, praktik mandiri maupun daerah terpencil, untuk terus memperkuat kolaborasi.

Menurutnya, seluruh bidan memiliki satu tujuan yang sama, yakni memastikan setiap ibu dapat melahirkan dengan selamat dan setiap bayi memiliki kesempatan hidup yang sehat.


Direktur RSUD Bandung Kiwari, Arief Budiman, memberikan apresiasi tinggi kepada seluruh bidan yang telah mendedikasikan hidupnya untuk pelayanan kesehatan ibu dan anak.

Menurutnya, setiap kelahiran selalu menyimpan kisah pengabdian seorang bidan yang bekerja dengan penuh kesabaran, ketulusan, dan keikhlasan.

"Di balik setiap tangis pertama seorang bayi, ada tangan-tangan tulus seorang bidan yang bekerja dengan penuh kesabaran, keikhlasan, dan pengabdian. Bidan tidak hanya menghadirkan layanan kesehatan, tetapi juga menghadirkan rasa aman, harapan, dan kebahagiaan bagi setiap keluarga," ujar Arief.

Momentum Hari Bidan Nasional, lanjutnya, menjadi pengingat bahwa profesi bidan merupakan salah satu pilar penting dalam pembangunan kesehatan bangsa.

"Terima kasih kepada seluruh bidan atas dedikasi dan pengabdiannya dalam menjaga kesehatan ibu dan anak serta mengawal lahirnya generasi penerus bangsa. Selamat Hari Bidan Nasional. Teruslah menjadi cahaya bagi setiap kehidupan baru yang lahir di negeri ini," tutupnya. (red)**






Sumber; Diskominfo Kota Bandung



Posting Komentar

0 Komentar