Kehadiran para delegasi dari berbagai negara tersebut tidak hanya menjadi simbol kuatnya persahabatan Asia-Afrika, tetapi juga diharapkan memberikan dampak nyata bagi sektor pariwisata, ekonomi kreatif, dan perekonomian masyarakat Kota Bandung.
Peringatan KAA tahun ini menghadirkan sejumlah agenda baru yang memperkaya substansi kegiatan. Selain seminar dan pameran, panitia juga menghadirkan sesi khusus yang mengangkat isu Palestina sebagai bagian dari upaya menjaga semangat solidaritas yang menjadi ruh Konferensi Asia Afrika sejak pertama kali digelar pada tahun 1955.
Di sisi lain, Pemerintah Kota Bandung juga terus memperjuangkan pengakuan internasional terhadap Gedung Merdeka sebagai situs Warisan Dunia UNESCO. Upaya tersebut diyakini akan semakin kuat apabila peringatan Konferensi Asia Afrika terus dilaksanakan secara rutin setiap tahun.
Melalui tema tersebut, kopi dijadikan simbol persahabatan dan kolaborasi antarnegara. Pemerintah Kota Bandung menilai kopi tidak hanya memiliki nilai ekonomi, tetapi juga menyimpan sejarah panjang perjalanan budaya dan perdagangan yang menghubungkan Asia dan Afrika.
“Semangat Bandung mengingatkan kita bahwa dialog lebih kuat daripada konflik, kerja sama lebih berharga daripada persaingan, dan keberagaman merupakan sumber kekuatan, bukan perpecahan,” ungkapnya.
Lebih lanjut, Iskandar menjelaskan bahwa Asia Africa Festival bukan sekadar perayaan budaya tahunan, melainkan wadah diplomasi, kolaborasi, dan inovasi yang mempertemukan pemerintah, akademisi, pelaku usaha, industri kreatif, generasi muda, serta masyarakat sipil dari berbagai negara.
Pada kesempatan itu, Iskandar juga menyampaikan permohonan maaf karena Wali Kota Bandung, Muhammad Farhan, tidak dapat hadir akibat sedang menjalani perawatan kesehatan. Ia mengajak seluruh tamu dan delegasi yang hadir untuk mendoakan agar Wali Kota Bandung segera pulih dan dapat kembali menjalankan tugas melayani masyarakat.**
Redaksi.






0 Komentar