Subscribe Us


 

Sekolah Maung Membutuhkan Guru yang Menguasai Seni Pendidikan, Bukan Sekadar Mengajar


MEDIASAKSINEWS -- Pernyataan Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Barat yang memastikan kebutuhan tenaga pendidik Program Sekolah Manusia Unggul (Maung) akan terpenuhi, melalui kerja sama dengan Universitas Pendidikan Indonesia (UPI). 

Hal tersebut mendapat respon dari tokoh pendidikan, sekaligus salah seorang alumni SMAN 5 Bandung, Adit Barli. 

Menurutnya, pemberitaan mengenai kekurangan guru di SMAN 3 dan SMAN 5 Kota Bandung, pada dasarnya merupakan kabar yang patut diapresiasi. 

Di tengah lahirnya berbagai program pendidikan unggulan, kehadiran guru memang menjadi fondasi yang tidak dapat ditawar. 

Tidak ada sekolah unggul tanpa guru yang unggul dan tidak ada ruang belajar yang mampu melahirkan manusia berkarakter, apabila ruang itu hanya dipenuhi oleh tenaga pengajar yang hanya memahami materi, tetapi belum memahami manusia.

Hal tersebut menimbulkan beberapa pertanyaan yang mendasar bagi Adit Barli, apakah masalah pendidikan akan selesai ketika jumlah guru telah terpenuhi? 

Ataukah sesungguhnya tantangan terbesar justru dimulai setelah guru itu berdiri di depan kelas?

Selama ini, diskursus pendidikan di Indonesia terlalu sering terjebak pada persoalan administratif. 

Kita menghitung jumlah guru, ruang kelas, laboratorium, anggaran, hingga indeks capaian pendidikan. Semua itu memang penting, tetapi sesungguhnya hanya menyentuh permukaan, Pendidikan adalah persoalan manusia. 

Ia tidak dapat direduksi menjadi sekadar statistik, indikator kinerja, atau laporan birokrasi.

Kita sering lupa, bahwa seorang anak tidak datang ke sekolah hanya membawa kepala yang harus diisi pengetahuan. Ia datang membawa emosi, kecemasan, rasa ingin tahu, luka, mimpi, bahkan ketakutan yang tidak selalu tampak. 

Di hadapan realitas tersebut, seorang guru bukan sekadar penyampai materi pelajaran, namun harus menjadi pembaca kecenderungan manusia.

Di sinilah pandangan Adit Barli sebagai tokoh pendidikan menjadi relevan untuk diperbincangkan. 

Selama bertahun-tahun ia memperkenalkan sebuah pendekatan yang menempatkan manusia sebagai pusat pendidikan. 

Menurutnya, sebelum seorang guru berbicara mengenai kurikulum, teknologi pembelajaran, ataupun asesmen, ia terlebih dahulu harus memahami empat kemampuan dasar yang menjadi fondasi perkembangan setiap anak.

• Pertama, kemampuan mengenali emosi; 

Anak yang mampu memahami emosinya akan lebih mudah mengelola konflik, membangun empati, dan mengembangkan karakter. Sehingga, kecerdasan akademik tanpa kecerdasan emosional sering kali hanya melahirkan manusia yang pandai berpikir, tetapi miskin kebijaksanaan.

• Kedua, kemampuan konsentrasi; 

Di era media sosial dan kecerdasan buatan, perhatian manusia menjadi komoditas yang diperebutkan. Anak-anak tumbuh di mana banjir informasi tidak pernah berhenti. 

Tantangan guru hari ini bukan lagi membuat peserta didik mengetahui sesuatu, melainkan membimbing mereka agar mampu bertahan cukup lama untuk memahami sesuatu secara mendalam. 

Kehilangan kemampuan fokus pada akhirnya kehilangan kemampuan berpikir kritis.

• Ketiga, pembentukan logika dasar; 

Pendidikan tidak boleh sekadar mengajarkan jawaban yang benar, tetapi harus melatih cara berpikir yang benar. 

Logika adalah benteng pertama masyarakat terhadap hoaks, propaganda, manipulasi politik, dan ekstremisme. 

Demokrasi yang sehat hanya dapat tumbuh dari warga yang terbiasa berpikir secara rasional.

• Keempat, kemampuan berpikir bertahap (sequential thinking); 

Dunia modern menawarkan budaya serba instan, padahal kehidupan dibangun melalui proses yang panjang. 

Anak perlu memahami hubungan sebab-akibat, tahapan berpikir, dan kesabaran dalam menyelesaikan persoalan. 

Karakter tidak pernah lahir melalui jalan pintas.

Keempat kemampuan tersebut menunjukkan bahwa pendidikan bukanlah aktivitas memindahkan informasi dari buku ke kepala peserta didik, melainkan proses membentuk manusia. 

Karena itu, Adit Barli mengajukan sebuah perspektif yang menarik, yaitu menempatkan kata seni di depan kata pendidikan, menjadi seni pendidikan.

Banyak orang memahami seni sebatas persoalan estetika atau keindahan, Padahal makna seni jauh lebih luas daripada itu. 

Seni adalah kecakapan mengelola proses dengan penuh kesadaran, kepekaan, kreativitas, dan kebijaksanaan. 

Seni bukan hasil akhir, melainkan cara seseorang menjalani prosesnya.

Guru bukanlah operator mesin yang bekerja secara mekanis, melainkan seorang seniman kemanusiaan. 

Tugasnya adalah menerjemahkan watak setiap anak, menumbuhkan keberanian moral mereka, mengelola psikologi ruang kelas, dan merangsang dahaga akan ilmu. 

Bahkan, peran paling krusial dari seni ini adalah menjadi lentera pemberi harapan ketika sang anak mulai putus asa terhadap potensinya sendiri. 

Sayangnya, aspek inilah yang sering luput dari berbagai kebijakan pendidikan.

Pemerintah begitu serius membangun sekolah unggulan, memperbaiki infrastruktur, memperkuat kurikulum, bahkan menyiapkan jejaring dengan perguruan tinggi. 

Semua langkah tersebut patut dihargai, akan tetapi, investasi terbesar justru sering kali belum diberikan kepada proses membentuk guru sebagai seniman pendidikan. 

Guru yang menguasai materi pelajaran, belum tentu mampu mengajar. Sebaliknya, guru yang memahami seni mengajar hampir selalu mampu membuat ilmu pengetahuan menjadi hidup.

Di sinilah Program Sekolah Manusia Unggul menghadapi tantangan yang sesungguhnya

Jangan sampai sekolah unggul hanya menjadi proyek pembangunan fisik yang megah, tetapi miskin sentuhan kemanusiaan. 

Sekolah dapat memiliki laboratorium paling modern, ruang kelas paling nyaman, bahkan teknologi pembelajaran paling mutakhir, Namun tanpa pemahaman seorang guru yang benar-benar mampu menyentuh kehidupan anak, melalui pembentukan karakter, empati, refleksi, dan kesadaran kemanusiaan, sekolah berlabel unggulan hanya melahirkan generasi pintar secara intelektual, namun keropos dalam aspek kemanusiaan.

Karena itu, Pemerintah Provinsi Jawa Barat, khususnya Dinas Pendidikan, perlu melangkah lebih jauh. Selain bekerja sama dengan perguruan tinggi dalam memenuhi kebutuhan tenaga pendidik, juga perlu berkonsultasi dan berkolaborasi dengan para pelaku seni pendidikan yang telah memiliki rekam jejak positif. 

Memiliki pengalaman empiris, serta kompetensi yang teruji dalam membangun proses tumbuh kembang anak. 

Pembuat kebijakan, tidak cukup hanya mendengar perspektif akademik dari ruang-ruang kampus, tetapi juga perlu menyerap pengetahuan praksis, dari mereka yang selama bertahun-tahun berkarya langsung bersama anak-anak, guru, dan komunitas pendidikan.

Kemajuan pendidikan terbangun, ketika teori akademik bertemu dengan pengalaman lapangan. 

Di titik temu itulah kebijakan menjadi lebih membumi, lebih kontekstual, dan lebih mampu menjawab kebutuhan nyata peserta didik. 

Sudah saatnya, pendidikan tidak lagi dipandang sebagai urusan administrasi sekolah atau pencapaian akademik. 

Pendidikan adalah proyek peradaban, yang menentukan. bagaimana bangsa ini akan berpikir, merasakan, memperlakukan sesama, dan menggunakan kekuasaan di masa depan. 

Sebab bangsa tidak pernah kekurangan orang pintar, Yang sering langka adalah manusia yang mampu menggunakan kepintarannya untuk merawat kehidupan bersama.

Jika Program Sekolah Manusia Unggul benar-benar ingin melahirkan generasi unggul, maka yang pertama-tama harus dibangun bukan hanya sekolahnya, melainkan kesadaran para guru bahwa mengajar adalah seni memanusiakan. manusia. 

Dan seni semacam itu tidak lahir hanya dari buku, melainkan dari pengalaman, refleksi, kepekaan, serta keberanian untuk terus belajar memahami manusia.

Itulah ukuran keberhasilan pendidikan yang sesungguhnya, bukan saat sekolah berhasil mencetak siswa dengan nilai tertinggi. 

Melainkan ketika sekolah mampu melahirkan manusia yang tetap memiliki empati di tengah kecerdasannya, namun tetap menjaga nurani di tengah kompetisinya, dan tetap memuliakan sesama di tengah kemajuan zaman.(ab/jbp)

Posting Komentar

0 Komentar