Dari sudut pandang tata kelola pemerintahan, ini tentu merupakan kabar baik. Sebuah program besar memang memerlukan perangkat kurikulum yang matang.
Namun sejarah pendidikan, baik di Indonesia maupun di berbagai belahan dunia, selalu mengingatkan bahwa kurikulum tidak pernah mendidik seorang anak. Yang mendidik adalah manusia.
Di titik inilah diskusi tentang Sekolah Maung semestinya dimulai. Bukan pada seberapa lengkap dokumen kurikulumnya, melainkan pada siapa yang akan menghidupkannya setiap pagi di ruang kelas.
Sebab sekolah, betapapun megah bangunannya, hanyalah ruang kosong apabila guru tidak mampu menghadirkan pengalaman belajar yang memanusiakannya.
Kurikulum hanyalah peta, guru menjadi penunjuk arah. Peta terbaik sekalipun, tidak akan membawa siapa pun ke tujuan, apabila orang yang memegangnya tidak memahami medan yang sedang dilalui.
Karena itu, pertanyaan yang layak diajukan oleh publik, bukanlah apakah kurikulum Sekolah Maung sudah selesai disusun.
Namun berbagai pertanyaan yang jauh lebih penting, seperti: bagaimana Pemerintah Provinsi Jawa Barat melalui Dinas Pendidikan mempersiapkan guru-guru yang akan mewujudkan cita-cita besar tersebut?
Apakah telah tersedia sistem pelatihan yang benar-benar dirancang khusus?
Apakah guru dipersiapkan untuk memahami filosofi Pancawaluya, atau hanya diperkenalkan sebagai materi orientasi?
Pertanyaan krusialnya bukan lagi soal kuantitas, melainkan sejauh mana para pengajar ini memiliki kepekaan terhadap fase psikologis murid, fondasi moralitas, serta navigasi emosional.
Mereka harus mampu mengonstruksi sebuah ekosistem belajar yang tidak hanya aman secara mental, tetapi juga menyuburkan pertumbuhan jiwa anak.
Ataukah pelatihan kembali berhenti sebagai rutinitas administratif yang menghasilkan sertifikat, bukan transformasi?
Pertanyaan-pertanyaan ini bukan bentuk sinisme. Justru sebaliknya, inilah bentuk kepedulian agar Sekolah Maung tidak berhenti menjadi proyek yang indah di atas kertas.
Sebab bangsa ini memiliki pengalaman panjang melahirkan kebijakan pendidikan yang mengesankan di ruang konferensi pers, tetapi kehilangan daya hidup ketika bertemu kenyataan di ruang kelas.
Kita terlalu sering terpesona oleh istilah "unggulan".
Sekolah unggulan, kurikulum unggulan, program unggulan.
Di sinilah pandangan Adit Barli layak mendapat perhatian lebih serius.
la memperkenalkan gagasan bahwa pendidikan harus dipahami sebagai seni pendidikan.
Kata seni bukan tentang keindahan atau kegiatan artistik semata.
Seni adalah kemampuan mengolah proses dengan kepekaan, kreativitas, intuisi, dan kebijaksanaan.
Mengajar adalah seni membaca karakter anak, seni membangun kepercayaan diri, seni mengelola emosi, dan seni menumbuhkan keberanian berpikir.
Tidak ada algoritma yang mampu menggantikan sentuhan itu.
Ironisnya, justru dimensi inilah yang sering terpinggirkan dalam pelatihan guru. Yang diperkuat adalah administrasi pembelajaran, diperbanyak formulir evaluasi.
Sehingga, yang diukur adalah kepatuhan terhadap prosedur.
Sementara itu, kemampuan memahami manusia sering dianggap sebagai bakat pribadi, bukan kompetensi profesional yang harus dilatih secara sistematis.
Jika Sekolah Maung ingin melahirkan manusia unggul, maka paradigma tersebut harus diubah.
Guru tidak cukup diperlakukan sebagai pelaksana kurikulum, namun mereka harus dipersiapkan sebagai arsitek peradaban.
Sebab di tangan merekalah nilai-nilai Pancawaluya menemukan maknanya atau justru kehilangan rohnya.
Karena itu, langkah berikutnya tidak cukup berhenti pada kerja sama dengan lembaga pendidikan tinggi.
Pemerintah daerah, khususnya Dinas Pendidikan, perlu membangun ruang kolaborasi dengan para praktisi pendidikan yang memiliki rekam jejak, pengalaman empiris, dan kompetensi yang telah teruji dalam mendampingi perkembangan anak.
Para praktisi menghadirkan pengalaman nyata tentang dinamika ruang kelas. Pendidikan yang baik tidak lahir dari dominasi salah satunya, melainkan dari perjumpaan keduanya.
Kesimpulannya, masa depan Sekolah Maung tidak akan ditentukan oleh seberapa cepat kurikulumnya selesai disusun, atau seberapa megah identitas programnya dipromosikan.
Namun, semua itu pada akhirnya bermuara pada sebuah pertanyaan mendasar yang kerap diabaikan, sudahkah kita menyiapkan para pendidik yang mampu menyelami hakikat kemanusiaan murid-muridnya secara utuh?
Sebab manusia unggul tidak lahir dari label institusi. la lahir dari ekosistem pendidikan yang memuliakan guru, menghormati proses belajar, menumbuhkan karakter, dan memperlakukan setiap anak sebagai pribadi yang utuh.
Ketika guru tumbuh menjadi pendidik dalam arti yang sesungguhnya, sekolah unggulan tidak lagi menjadi sekadar proyek pemerintah.
la menjelma menjadi ruang lahirnya generasi yang bukan hanya cerdas, tetapi juga berakal budi dan berani menjaga martabat kemanusiaan. (ab/jbp)





0 Komentar