Selama lima tahun berturut-turut, Adit Barli, tokoh seni, pendidikan, dan kebudayaan, secara konsisten menggagas pembentangan Bendera Merah Putih berukuran raksasa sebagai bagian dari upaya merawat semangat kebangsaan dari ruang publik.
Gerakan tersebut tidak dibangun dengan ketergantungan pada APBD maupun sokongan korporasi besar. Sebaliknya, kekuatan utamanya bertumpu pada modal sosial: kepercayaan, hubungan baik, gotong royong, serta kesediaan berbagai elemen masyarakat untuk bergerak bersama.
Lebih dari sekadar pertunjukan visual, pembentangan bendera raksasa tersebut menjadi simbol bagaimana masyarakat dapat menghadirkan kembali makna kebangsaan melalui ruang-ruang kehidupan sehari-hari.
Di tengah berbagai persoalan sosial, ruang publik tidak hanya menjadi tempat lalu lintas dan aktivitas ekonomi. Ruang publik juga dapat menjadi ruang perjumpaan, ruang kebudayaan, sekaligus ruang untuk menumbuhkan solidaritas.
Dalam perspektif sosial, konsistensi gerakan ini menunjukkan bahwa nasionalisme tidak selalu harus hadir melalui podium, seremoni kenegaraan, atau kegiatan berskala besar. Nasionalisme juga dapat tumbuh dari komunitas, dari persimpangan jalan, dari seniman, pengamen, relawan, organisasi masyarakat, dan warga biasa yang memilih untuk hadir serta bekerja bersama.
Pesan yang dibangun pun menjadi sederhana namun kuat: kemerdekaan bukan hanya tentang siapa yang berdiri di atas podium, tetapi juga tentang siapa yang bersedia membuka ruang agar masyarakat dapat tumbuh bersama.
Konsistensi selama lima tahun menjadikan tradisi ini lebih dari sekadar momentum tahunan. Ia mulai membentuk apa yang dapat disebut sebagai living exemplar—sebuah contoh hidup tentang bagaimana keteladanan dapat dibangun melalui tindakan yang terus dilakukan dan diwariskan.
Bendera Merah Putih raksasa yang terbentang di atas ruang publik Kota Bandung akhirnya bukan hanya selembar kain berukuran besar. Ia menjadi simbol jaring-jaring solidaritas warga.
Dari Bandung, Merah Putih kembali menjadi pengingat bahwa Indonesia bukan hanya milik mereka yang berbicara tentang kebangsaan, tetapi juga milik mereka yang setiap hari merawatnya melalui tindakan.
Di situlah kebangsaan menemukan bentuknya yang paling sederhana sekaligus paling bermakna: hidup dalam denyut solidaritas warga.**



0 Komentar