Subscribe Us


 

Merah-Putih dan Kebangsaan yang Bernapas: Gerakan Warga Merawat Nasionalisme dari Ruang Publik


MEDIASAKSINEWS | BANDUNG — Di tengah kehidupan kebudayaan yang semakin mekanis, ketika nasionalisme tak jarang direduksi menjadi slogan, baliho, atau seremoni yang serba artifisial, sebuah gerakan berbasis warga di Kota Bandung justru menunjukkan wajah kebangsaan yang berbeda, Sabtu (15/8/2026).

Selama lima tahun berturut-turut, Adit Barli, tokoh seni, pendidikan, dan kebudayaan, secara konsisten menggagas pembentangan Bendera Merah Putih berukuran raksasa sebagai bagian dari upaya merawat semangat kebangsaan dari ruang publik.

Gerakan tersebut tidak dibangun dengan ketergantungan pada APBD maupun sokongan korporasi besar. Sebaliknya, kekuatan utamanya bertumpu pada modal sosial: kepercayaan, hubungan baik, gotong royong, serta kesediaan berbagai elemen masyarakat untuk bergerak bersama.


Memasuki tahun kelima, 17 Agustus 2026, tradisi pembentangan Merah Putih kembali digelar di kawasan Jembatan Flyover Pasopati, Simpang Taman Cikapayang, Dago, Kota Bandung. Kegiatan pembentangan Merah Putih kali ini di gagas dan melibatkan berbagai unsur masyarakat, antara lain Komunitas Pengamen Jalanan (KPJ) Jabar, Disaster Response Project (DRP), LSM Paguyuban Cepot Motah Indonesia, LSM PMPRI, LSM Maung Kaboa, Forum SAKSI, Jurnalis Media Indonesia (JMI) serta sejumlah elemen warga lainnya.

Lebih dari sekadar pertunjukan visual, pembentangan bendera raksasa tersebut menjadi simbol bagaimana masyarakat dapat menghadirkan kembali makna kebangsaan melalui ruang-ruang kehidupan sehari-hari.

Di tengah berbagai persoalan sosial, ruang publik tidak hanya menjadi tempat lalu lintas dan aktivitas ekonomi. Ruang publik juga dapat menjadi ruang perjumpaan, ruang kebudayaan, sekaligus ruang untuk menumbuhkan solidaritas.

Dalam perspektif sosial, konsistensi gerakan ini menunjukkan bahwa nasionalisme tidak selalu harus hadir melalui podium, seremoni kenegaraan, atau kegiatan berskala besar. Nasionalisme juga dapat tumbuh dari komunitas, dari persimpangan jalan, dari seniman, pengamen, relawan, organisasi masyarakat, dan warga biasa yang memilih untuk hadir serta bekerja bersama.


Melalui semangat moral BOGALAKON, Adit Barli menempatkan dirinya bukan semata sebagai figur utama, melainkan sebagai penggerak ruang kolaborasi. Ruang tersebut menjadi tempat bagi berbagai kelompok untuk bertemu, berkreasi, sekaligus membangun kesadaran bahwa kecintaan terhadap Indonesia dapat diwujudkan melalui tindakan nyata.

Pesan yang dibangun pun menjadi sederhana namun kuat: kemerdekaan bukan hanya tentang siapa yang berdiri di atas podium, tetapi juga tentang siapa yang bersedia membuka ruang agar masyarakat dapat tumbuh bersama.

Konsistensi selama lima tahun menjadikan tradisi ini lebih dari sekadar momentum tahunan. Ia mulai membentuk apa yang dapat disebut sebagai living exemplar—sebuah contoh hidup tentang bagaimana keteladanan dapat dibangun melalui tindakan yang terus dilakukan dan diwariskan.

Bendera Merah Putih raksasa yang terbentang di atas ruang publik Kota Bandung akhirnya bukan hanya selembar kain berukuran besar. Ia menjadi simbol jaring-jaring solidaritas warga.


Ia menunjukkan bahwa rasa cinta tanah air tidak selalu membutuhkan anggaran yang megah. Nasionalisme dapat tetap bernapas ketika ada keikhlasan untuk memberi ruang, keberanian untuk berkolaborasi, dan konsistensi untuk menjaga semangat kebersamaan.

Dari Bandung, Merah Putih kembali menjadi pengingat bahwa Indonesia bukan hanya milik mereka yang berbicara tentang kebangsaan, tetapi juga milik mereka yang setiap hari merawatnya melalui tindakan.

Di situlah kebangsaan menemukan bentuknya yang paling sederhana sekaligus paling bermakna: hidup dalam denyut solidaritas warga.**

Posting Komentar

0 Komentar