Subscribe Us


 

FARHAN BILANG PEMBAGIAN TUGAS “CLEAR”, ERWIN CURHAT TAK DILIBATKAN, DUA TOKOH BANDUNG SOROTI: WARGA BUTUH KERJA NYATA


MEDIASAKSINEWS | BANDUNG — Polemik mengenai Wakil Wali Kota Bandung Erwin yang mengaku tidak lagi banyak dilibatkan dalam sejumlah kegiatan pemerintahan mendapat respons langsung dari Wali Kota Bandung Muhammad Farhan.

Farhan menegaskan komunikasi dengan Erwin sejauh ini tetap berjalan baik. Ia juga memastikan pembagian tugas antara wali kota dan wakil wali kota sudah jelas sesuai aturan.

“Kalau pembagian tugas sesuai dengan aturan, clear,” tegas Farhan saat ditemui wartawan di Gedung DPRD Kota Bandung, Jumat (25/9/2026).


Pernyataan tersebut disampaikan setelah Erwin sebelumnya mengungkapkan dirinya kini lebih banyak turun langsung ke tengah masyarakat untuk menangani berbagai persoalan, di tengah pengakuannya mengenai keterlibatan dalam kegiatan pemerintahan.

Menanggapi persoalan tersebut, Farhan justru meminta seluruh organisasi perangkat daerah (OPD) untuk tidak terpecah fokus.

Menurut Farhan, jajaran dinas saat ini sedang mengejar pemenuhan anggaran yang waktunya semakin terbatas.

“Jadi saya minta dinas fokus-fokus saja dulu. Jangan terpecah fokusnya untuk masalah yang sifatnya politis. Biar dinas masuk ke teknokratis dulu,” ujarnya.


Farhan menilai pekerjaan pemerintahan harus menjadi perhatian utama karena waktu penyelesaian program dan anggaran semakin sempit.

“Karena kita ini sudah mulai masuk ke bulan Oktober. November sudah tinggal dua bulan, awal Desember semuanya harus sudah selesai,” katanya.

Terlebih, kata Farhan, Pemkot Bandung masih menghadapi kondisi anggaran yang defisit sehingga diperlukan efisiensi lebih tinggi.

“Sedangkan anggaran kita masih defisit. Artinya kan mesti ada efisiensi yang lebih tinggi. Nah, kita fokus ke sana saja,” lanjutnya.


SOAL ISTRI ERWIN TAK DIUNDANG, FARHAN: TANYAKAN PROTOKOL

Farhan juga menanggapi pernyataan Erwin mengenai istrinya yang disebut tidak mendapatkan undangan dalam apel memperingati Hari Jadi Kota Bandung.

Untuk persoalan tersebut, Farhan meminta agar informasi dikonfirmasi kepada bagian protokol.

“Nah, kalau itu tanyakan ke Pak Protokol. Yang saya tahu mah semuanya diundang,” kata Farhan.

Di tengah perdebatan mengenai pembagian peran tersebut, muncul pula sorotan dari sejumlah elemen masyarakat.


Ketua Umum LSM Maung Kaboa sekaligus pemerhati kebijakan publik, Ua Kaboa, menilai momentum Hari Jadi Kota Bandung ke-216 seharusnya lebih banyak diisi dengan kerja nyata pemerintah.

“HUT Kota Bandung ke-216, harus tunjukkan kerja, kerja, kerja, bukan curhat, curhat, curhat,” ujar Ua Kaboa.

Ia menyebut masyarakat membutuhkan hasil kerja pemerintah dalam menyelesaikan berbagai persoalan kota.

Menurutnya, perhatian warga tetap tertuju pada bagaimana kepala daerah menjalankan visi, misi, serta janji yang telah disampaikan kepada masyarakat.

“Kita tuntut bekerja, lain dituntut curhat,” katanya.


KANG JOKER: KOTA BANDUNG MILIK MASYARAKAT

Sorotan senada disampaikan Ketua Umum Dewan Pimpinan Pusat Lembaga Swadaya Masyarakat Pemuda Mandiri Peduli Rakyat Indonesia (LSM PMPRI), Rohimat yang akrab disapa Kang Joker.

Dalam pernyataannya, Kang Joker menyampaikan ucapan selamat Hari Jadi Kota Bandung ke-216 sekaligus menyoroti dinamika kepemimpinan di Kota Bandung.

“Selamat Hari Jadi Kota Bandung. Walaupun Bandung terkesan tidak memiliki pemimpin. Karena mereka merasa bahwa Kota Bandung adalah milik mereka. Oh, salah besar. Kota Bandung itu milik masyarakat. Milik rakyat,” ujar Kang Joker.

Ia menegaskan bahwa Kota Bandung bukan milik kelompok atau individu tertentu, melainkan milik masyarakat yang menjadi bagian penting dalam kehidupan pemerintahan kota.

Pernyataan Kang Joker tersebut menjadi bagian dari kritik terhadap dinamika pemerintahan yang tengah menjadi perhatian publik.

PUBLIK MENUNGGU KERJA NYATA

Polemik mengenai keterlibatan Erwin dan pembagian tugas dengan Farhan kini berlangsung bersamaan dengan momentum Hari Jadi Kota Bandung ke-216.

Di satu sisi, Farhan menegaskan pembagian tugas sudah “clear” dan meminta OPD berkonsentrasi pada pekerjaan teknokratis, anggaran, serta efisiensi.

Di sisi lain, sejumlah pemerhati dan elemen masyarakat mengingatkan agar dinamika internal pemerintahan tidak menggeser perhatian dari persoalan yang dihadapi warga.

Pada akhirnya, perhatian publik Kota Bandung tertuju pada satu hal: sejauh mana kepemimpinan Farhan-Erwin mampu menerjemahkan mandat pemerintahan menjadi kerja nyata dan hasil yang dirasakan masyarakat.**

Posting Komentar

0 Komentar