Subscribe Us


 

MEMBERI CONTOH ATAU MENJADI CONTOH? KISAH ADIT BARLI, WUJUD NASIONALISME MELALUI AKSI NYATA


MEDIASAKSINEWS | BANDUNG – Berbicara tentang kejujuran, kedisiplinan, persatuan, dan cinta tanah air tentu bukan hal sulit. Namun, mewujudkan nilai-nilai tersebut dalam tindakan nyata dan konsisten merupakan tantangan tersendiri.

Di tengah masyarakat yang kerap dipenuhi nasihat dan slogan tentang nilai-nilai luhur, muncul sebuah pertanyaan mendasar: apakah kita hanya pandai memberikan contoh, atau benar-benar bersedia menjadi contoh?

Pertanyaan tersebut menjadi relevan ketika melihat sosok Adit Barli, yang menunjukkan kecintaannya terhadap Indonesia melalui tindakan sederhana, tetapi dilakukan secara konsisten.

Sejak mengenal Adit Barli pada 16 Agustus 2024, terdapat satu hal yang menarik perhatian, yakni konsistensinya dalam menginisiasi pengibaran bendera Merah Putih berukuran raksasa setiap peringatan Hari Kemerdekaan Republik Indonesia pada 17 Agustus di kawasan Flyover Cikapayang, Dago, Bandung.

Selama tiga tahun berjalan, kegiatan tersebut dilaksanakan secara mandiri, tanpa mengandalkan bantuan pendanaan dari pihak luar. Baginya, kegiatan itu bukan sekadar agenda tahunan, melainkan bentuk ekspresi kecintaan terhadap Tanah Air.

Di balik kegiatan tersebut, kehidupan Adit terbilang sederhana. Pada siang hari, ia mengajar menggambar. Sementara pada malam hari, ia berjualan bacang jando Bogalakon racikan sang istri untuk memenuhi kebutuhan hidup.

Di tengah kesibukan mencari nafkah, Adit tetap menyisihkan waktu dan tenaga untuk menghadirkan kegiatan yang memiliki nilai kebangsaan.

Kisah ini memperlihatkan bahwa nasionalisme tidak selalu harus diwujudkan melalui pidato di atas podium, jabatan, seragam kebesaran, ataupun seremoni yang megah. Kecintaan terhadap bangsa juga dapat tumbuh melalui tindakan sederhana yang dilakukan dengan ketulusan dan konsistensi.

Keteladanan Lebih dari Sekadar Ucapan

Dalam perspektif sosial, memberi contoh dan menjadi contoh memiliki makna yang berbeda.

Memberi contoh dapat dilakukan melalui nasihat, arahan, maupun tindakan yang diperlihatkan kepada orang lain. Namun, menjadi contoh membutuhkan integritas, yakni keselarasan antara apa yang diyakini, diucapkan, dan dilaksanakan dalam kehidupan sehari-hari.

Persoalan yang kerap muncul di tengah masyarakat adalah ketika nilai-nilai luhur lebih banyak digunakan untuk membangun citra daripada menjadi pedoman perilaku.

Tidak sedikit orang berbicara tentang kejujuran, tetapi mengabaikannya ketika kepentingan pribadi terancam. Ada yang menyerukan kesederhanaan, tetapi sulit menerapkannya dalam kehidupan sendiri. Begitu pula dengan semangat persatuan yang sering digaungkan, tetapi belum sepenuhnya tercermin dalam sikap menghargai perbedaan.

Dalam kondisi demikian, nilai-nilai moral berisiko berubah menjadi sekadar pertunjukan sosial. Penampilan dianggap lebih penting daripada tindakan nyata.

Padahal, keteladanan bukanlah tentang menjadi manusia sempurna atau tidak pernah melakukan kesalahan. Keteladanan justru terlihat dari keberanian mengakui kekurangan, memperbaiki kesalahan, serta tetap berpegang pada nilai-nilai kebaikan meskipun tidak mendapatkan pujian.

Nasionalisme Harus Melampaui Seremoni

Semangat kebangsaan yang ditunjukkan Adit Barli juga diwujudkan melalui rencana kolaborasi seni dan budaya bersama GEMA INTI JABAR, Cinemata, serta KPJ Jabar.

Kolaborasi seni musik Sunda dan Tionghoa tersebut dijadwalkan berlangsung pada 1 November 2026 di HOA Cultural Center, Bandung, dalam rangka memperingati Hari Sumpah Pemuda.

Kegiatan ini diharapkan menjadi ruang perjumpaan lintas budaya sekaligus memperkuat semangat persatuan di tengah keberagaman masyarakat Indonesia.

Seni dan budaya memiliki kekuatan untuk mempertemukan berbagai identitas, membangun komunikasi, serta menumbuhkan rasa saling menghargai.

Dalam kehidupan masyarakat yang majemuk, nasionalisme tidak cukup hanya diukur dari seberapa sering seseorang mengibarkan bendera atau mengucapkan slogan persatuan. Nasionalisme juga tercermin melalui kesediaan menghormati perbedaan, menjaga kebudayaan, dan membangun ruang kebersamaan tanpa memandang latar belakang.

Bendera Merah Putih dan kolaborasi musik Sunda-Tionghoa memang hadir dalam bentuk berbeda. Namun, keduanya membawa pesan yang sama, yakni Indonesia dibangun atas semangat persatuan di tengah keberagaman.

Tentu, sebuah kegiatan seni tidak serta-merta menyelesaikan seluruh persoalan intoleransi maupun kesenjangan sosial. Namun, langkah konkret seperti ini dapat menjadi awal untuk membangun ruang dialog, memperkuat persaudaraan, dan menumbuhkan kesadaran kebangsaan.

Saatnya Menjadi Teladan, Bukan Sekadar Pandai Menasihati

Masyarakat membutuhkan lebih banyak orang yang tidak hanya pandai berbicara tentang kebaikan, tetapi juga bersedia menjalankannya dalam kehidupan nyata.

Keteladanan tidak selalu lahir dari jabatan tinggi, kekayaan, ataupun popularitas. Terkadang, keteladanan justru hadir dari orang-orang sederhana yang memiliki komitmen kuat untuk melakukan sesuatu yang bermanfaat bagi lingkungan dan bangsanya.

Apa yang dilakukan Adit Barli menjadi pengingat bahwa cinta Tanah Air tidak harus menunggu seseorang menjadi pejabat, tokoh besar, atau memiliki kekayaan berlimpah.

Setiap orang memiliki kesempatan untuk berkontribusi sesuai kemampuan masing-masing.

Pada akhirnya, memberi contoh mungkin cukup melalui kata-kata. Namun, menjadi teladan membutuhkan kesetiaan terhadap nilai, konsistensi dalam tindakan, serta ketulusan untuk berbuat tanpa harus selalu mengharapkan penghargaan maupun sorotan.

Indonesia tidak kekurangan orang yang berbicara tentang cinta Tanah Air. Indonesia membutuhkan lebih banyak orang yang membuktikannya melalui tindakan nyata.

"Karena menjadi contoh jauh lebih bermakna daripada sekadar memberi contoh".


Penulis: R. Jossy Belgradoputra, S.H., M.H.

Pengamat Sosial dan Hukum

Posting Komentar

0 Komentar