Subscribe Us


 

SENI PENDIDIKAN DAN SENI NYEKER,, Saat Kaki Mengenalkan Kembali Cara Membaca Dunia

 


MEDIASAKSINEWS | BANDUNG — Pendidikan tidak semestinya hanya berorientasi pada angka, nilai, ijazah, dan kesiapan memasuki dunia kerja. Lebih dari itu, pendidikan perlu menumbuhkan kepekaan, membangun karakter, serta mengajarkan manusia memahami hubungan dirinya dengan alam. Gagasan tersebut mengemuka dalam perbincangan antara pegiat kebudayaan Adit Barli dan Abah Endjoem dari Padepokan Bumi Ageung Saketi, Cibiru.

Pertemuan keduanya bermula dari permohonan Adit Barli kepada Abah Endjoem untuk terlibat dalam kegiatan seni pendidikan di Kampung Bambu. Sebagai penggiat kebudayaan yang menaruh perhatian terhadap pelestarian hutan, Abah Endjoem dinilai memiliki pengalaman dan gagasan tentang bagaimana seni dapat menjadi sarana menanamkan kepedulian terhadap lingkungan.

Bagi keduanya, menanam pohon bukan sekadar memasukkan bibit ke dalam tanah. Lebih jauh, kegiatan tersebut merupakan upaya menumbuhkan kesadaran bahwa manusia adalah bagian dari ekosistem alam yang saling terhubung.

pegiat Kebudayaan Adit Barli


Pendidikan Jangan Hanya Mencetak Pencapai Prestasi

Dalam percakapan tersebut, Adit Barli mengkritisi pola pendidikan modern yang dinilainya semakin menyerupai sistem produksi industri.

Anak datang ke sekolah, mengikuti kurikulum, menjalani ujian, memperoleh nilai, kemudian diperingkat berdasarkan capaian akademik. Setelah menyelesaikan pendidikan, mereka diharapkan memasuki dunia kerja.

Keterampilan dan kesiapan kerja tentu merupakan bagian penting dari pendidikan. Namun, persoalan muncul ketika keberhasilan memasuki pasar kerja menjadi tujuan utama, sementara pembentukan karakter, empati, kepedulian sosial, dan kecintaan terhadap lingkungan kurang mendapatkan perhatian yang seimbang.

Pendidikan, menurut gagasan yang diangkat dalam perbincangan tersebut, seharusnya tidak hanya menghasilkan manusia yang pandai menjawab soal, tetapi juga mampu membaca kehidupan.

Anak perlu belajar memahami penderitaan orang lain, merawat lingkungan, menghargai perbedaan, serta memiliki tanggung jawab terhadap kehidupan di sekitarnya.

Pertanyaan mendasarnya adalah: apakah standar keberhasilan pendidikan selama ini sudah cukup untuk menggambarkan kemampuan seorang anak dalam memahami dan merawat dunia?

Abah Endjoem dari Padepokan
Bumi Ageung Saketi,


Seni Nyeker, Cara Sederhana Mengenal Kembali Alam

Di tengah perbincangan itu, Abah Endjoem menyampaikan satu hal sederhana yang mulai jarang dilakukan dalam kehidupan sehari-hari, yakni nyeker atau berjalan tanpa alas kaki.

Sekilas, nyeker mungkin hanya dianggap sebagai kebiasaan biasa. Namun, dalam perspektif kebudayaan dan pendidikan lingkungan, praktik tersebut dapat menjadi pintu masuk untuk mengenalkan kembali hubungan manusia dengan tanah dan alam.

Abah Endjoem juga secara rutin mengadakan Festival Nyeker sebagai bentuk pelestarian tradisi sekaligus ekspresi budaya.

Melalui kegiatan ini, telapak kaki tidak sekadar menjadi bagian tubuh yang digunakan untuk berjalan, tetapi juga menjadi medium pengalaman dan pembelajaran.

Ketika berjalan di atas rumput, anak dapat merasakan tekstur dan kesejukannya. Saat berpindah ke tanah kering, permukaan yang berbeda memberikan sensasi lain. Batu kecil, ranting, dan lumpur pun menghadirkan pengalaman yang mendorong anak menyesuaikan langkah serta mengenali lingkungan di sekitarnya.

Dalam proses itu, tubuh menjadi bagian dari kegiatan belajar. Anak tidak hanya menerima informasi melalui buku atau layar, tetapi juga memperoleh pengalaman langsung melalui pancaindra.

Meski demikian, nyeker tidak harus dipahami sebagai terapi atau kebiasaan yang selalu aman dilakukan di segala tempat. Praktik ini perlu disesuaikan dengan kondisi lingkungan, kebersihan permukaan, dan keselamatan peserta.


Belajar dari Jaringan Kehidupan di Dalam Hutan

Dalam perbincangan tersebut, Abah Endjoem turut mengangkat penelitian Dr. Suzanne Simard dari University of British Columbia, Kanada, mengenai hubungan antara pohon dan jaringan jamur mikoriza di dalam hutan.

Penelitian tentang jaringan bawah tanah tersebut memperlihatkan bahwa kehidupan hutan tidak dapat dipahami hanya sebagai kumpulan pohon yang berdiri sendiri. Akar, jamur, air, mineral, dan berbagai organisme membentuk hubungan ekologis yang kompleks.

Perspektif ini mengajak manusia melihat tanah bukan sekadar permukaan untuk berpijak atau tempat menanam tumbuhan, melainkan ruang kehidupan yang menopang keberlangsungan ekosistem.

Kesadaran tersebut menjadi relevan dalam pendidikan lingkungan. Anak-anak perlu memperoleh kesempatan untuk mengenal tanah, mengamati pertumbuhan tanaman, memahami fungsi hutan, dan melihat secara langsung bagaimana kehidupan saling bergantung.

Dengan begitu, pelestarian alam tidak berhenti sebagai materi hafalan, melainkan berkembang menjadi pengalaman yang dapat membentuk sikap dan perilaku.


Mengembalikan Pengalaman ke Dalam Pendidikan

Salah satu persoalan pendidikan modern adalah kecenderungan menempatkan anak terlalu lama dalam pola pembelajaran yang berpusat pada target akademik.

Ruang kelas, buku, layar digital, dan lembar kerja memiliki peran penting. Namun, pembelajaran akan lebih bermakna apabila dilengkapi dengan permainan, eksplorasi, interaksi sosial, serta pengalaman langsung di lingkungan sekitar.

Anak-anak dapat diajak menanam pohon, merawat kebun, mengamati serangga, mengenali jenis tumbuhan, atau berjalan menyusuri lingkungan dengan pendampingan yang memadai.

Melalui kegiatan tersebut, pengetahuan tidak hanya dipahami sebagai kumpulan informasi, tetapi juga sebagai sesuatu yang dapat diamati, dirasakan, dan diterapkan.

Di sinilah Seni Pendidikan dan Seni Nyeker bertemu dalam satu gagasan: pendidikan perlu memberikan ruang lebih luas bagi pengalaman nyata sebagai bagian dari proses belajar.

Teknologi digital tetap dapat dimanfaatkan. Namun, kemajuan teknologi sebaiknya berjalan beriringan dengan kemampuan memahami lingkungan, berinteraksi dengan sesama, dan menghargai kehidupan.

Anak yang mampu menjelaskan perubahan iklim, misalnya, juga perlu mendapatkan kesempatan memahami lingkungan melalui kegiatan nyata, seperti menanam dan merawat tumbuhan.


Merawat Hubungan Manusia dengan Alam

Gagasan Seni Nyeker juga mengandung kritik terhadap kecenderungan manusia modern yang semakin jauh dari pengalaman langsung dengan alam.

Kehidupan digital menawarkan banyak kemudahan. Informasi dapat diperoleh dalam hitungan detik, sementara komunikasi berlangsung tanpa batas geografis. Akan tetapi, kemudahan tersebut perlu diimbangi dengan pengalaman mengenal lingkungan tempat manusia hidup.

Anak-anak perlu mengetahui bahwa alam bukan sekadar objek yang dapat dimanfaatkan, melainkan bagian penting dari kehidupan yang harus dijaga bersama.

Dalam perspektif kebudayaan Sunda, hubungan manusia dan alam juga tercermin dalam ungkapan pantun rajah:

“Urang jeung alam teu aya antarana, lamun aya antarana urang rék cicing di mana?”

Ungkapan tersebut mengandung refleksi tentang kedekatan manusia dengan alam. Manusia tidak dapat memisahkan dirinya dari lingkungan yang menjadi tempat hidup dan sumber keberlangsungan kehidupan.

Karena itu, pendidikan lingkungan perlu menyentuh dimensi pengetahuan sekaligus pengalaman, nilai, dan tanggung jawab.

Pendidikan yang Membentuk Manusia, Bukan Sekadar Prestasi

Bagi Adit Barli dan Abah Endjoem, Seni Pendidikan dan Seni Nyeker membuka ruang untuk memikirkan kembali tujuan pendidikan.

Pendidikan tidak cukup hanya mengajarkan cara memperoleh nilai tinggi, memenangkan persaingan, atau mencapai prestasi akademik. Pendidikan juga perlu menumbuhkan kemampuan untuk merasakan, berpikir kritis, merawat, bekerja sama, dan bertanggung jawab.

Nyeker, dalam konteks ini, bukan sekadar aktivitas melepas sandal. Ia menjadi simbol ajakan untuk kembali merasakan hubungan manusia dengan bumi melalui pengalaman sederhana yang dekat dengan kehidupan sehari-hari.

Sebab, sebelum anak-anak diajak memahami bagaimana meraih keberhasilan di dunia, mereka juga perlu belajar bagaimana hidup berdampingan dengan sesama dan menjaga alam yang menopang kehidupan.

Pada akhirnya, pendidikan yang bermakna bukan hanya tentang seberapa banyak pengetahuan yang dapat dikuasai anak, tetapi juga tentang bagaimana pengetahuan itu membentuk manusia yang lebih peka terhadap kehidupan.

Dari telapak kaki yang menyentuh tanah, sebuah pelajaran sederhana kembali diingatkan: mengenal dunia tidak selalu harus dimulai dari layar dan buku. Terkadang, ia bermula dari keberanian untuk melangkah, merasakan, mengamati, dan belajar kembali dari alam. (ab/jbp)

Posting Komentar

0 Komentar