Acara ini dihadiri puluhan organisasi/komunitas perempuan dan majelis taklim di Kota Bandung.
Kepala DP3A Kota Bandung, Uum Umiati mengatakan, Forum Puspa dibentuk dengan tujuan untuk memperkuat peran serta masyarakat dalam upaya mewujudkan kesetaraan gender, mendoong kesejahteraan perempuan dan meperkuat perlindungan anak.
Kasus kekerasan terhadap perempuan di Kota Bandung dalam lima tahun terakhir mengalami fluktuasi. pada tahun 2022 mengalami kenaikan, tetapi pada tahun 2023 mengalami penurunan. Berbeda dengan kasus kekerasan terhadap anak yang tidak pernah turun, justru naik.
Uum mengatakan, Pemkot Bandung akan terus berupaya mencegah, mengendalikan, dan menekan tingkat kekerasan terhadap perempuan dan anak.
Sedangkan misinya adalah, meningkatkan partisipasi publik dalam pemberdayaan perempuan dan pemenuhan hak anak; mendorong penguatan kelembagaan yang berprespektif pemberdayaan perempuan; serta melakukan monitoring dan keberlanjutan program pemberdayaan perempuan dan perlindungan anak.
"Sebagai organisasi yang masih muda, Forum Puspa Kota Bandung telah merancang sejumlah program kerja, di antaranya "Pendampingan Desa/Kelurahan Ramah Perempuan dan Peduli Anak (DRPPA)', 'Pembentukan Forum Puspa Tingkat Kelurahan', 'Sosialiasasi dan Advokasi Hak Perempuan dan Anak', 'Pelatihan Kewirausahaan Perempuan', 'Peningkatan Kapasitas Perempuan dalam Keluarga dan Pengasuhan', 'Layanan Konseling untuk Orangtua Anak', dan 'Sosialisasi Melalui Sosial Media'.
Perlindungan berbasis keluarga dengan memperkuat peran keluarga sebagai lini pertama perlindungan anak melalui edukasi dan dukungan.
Perlindungan bebasis sekolah dengan menciptakan lingkungan sekolah yang aman dan responsif terhadap kebutuhan perlindungan anak.
Narasumber kedua, Evie Dewi Susantiany mengatakan, kekerasan terhadap perempuan dan anak bisa dicegah. Dalam rumah tangga ia menyarankan untuk menerapkan musyawarah dan menghindari komunikasi yang merendahkan.
Dalam Pendidikan, Evie menganjurkan untuk mengajarkan empati dan menghindari disiplin dengan kekerasan. Dalam masyarakat, Evie menyebutkan bisa dilakukan dengan memberikan edukasi dan membangun kesadaran publik serta pengembangan program pencegahan kekerasan berbasis agama.
Evie menyarankan, setiap keluarga mempunyai visi misi keluarga, membangun komunikasi efektif dan positif, menjaga ibadan dan spiritual keluarga, serta menjadikan rumah sebagai tempat ternyaman bagi seluruh keluarga.
"Untuk anak-anak, jika mereka sebagai korban, maka lakukan validasi emosinya. Jika anak sebagai pelaku, maka edukasi dengan nilai-nilai Islam. Baik anak sebagai korban maupun pelaku, sebaiknya konsultasu pada ahli jika sudah berdampak pada Kesehatan mental," katanya. **
Sumber: Diskominfo Kota Bandung








0 Komentar