Abah Rafijen dikenal sebagai praktisi dan pelestari Pencak Silat Maenpo Peupeuhan Adung Rais. Selain aktif melestarikan warisan leluhur Sunda, ia juga merupakan penulis, penggiat budaya, dan insan perfilman yang telah berkecimpung di dunia film sejak tahun 1986.
"Film dan Maenpo memiliki keterkaitan yang sangat erat. Negara-negara seperti Tiongkok, Jepang, dan Korea bisa dikenal dunia karena mereka mencintai dan mempromosikan budayanya melalui film. Pesan budaya menjadi lebih mudah diterima oleh generasi muda melalui media film," ujar Abah Rafijen.
"Abah membuat film bukan untuk mencari keuntungan, tetapi sebagai bentuk cinta terhadap Indonesia. Jiwa Abah ada di kebudayaan. Mulai dari karawitan, film, musik, hingga Maenpo. Semua itu menyatu dan tidak bisa dipisahkan," katanya.
Menurut Abah Rafijen, berbagai upaya pelestarian budaya seperti seminar, workshop, maupun penerbitan buku tetap penting dilakukan. Namun, film merupakan media yang paling efektif untuk menyampaikan pesan budaya kepada generasi muda.
"Kalau ingin budaya sampai kepada anak muda, film adalah media yang paling tepat. Sasarannya jelas dan pesannya langsung diterima," tegasnya.
Sebagai pelestari Maenpo Peupeuhan Adung Rais, Abah Rafijen bersyukur karena seni bela diri tradisional yang digelutinya kini telah berkembang hingga mancanegara. Saat ini, Maenpo Peupeuhan Adung Rais telah memiliki cabang di Italia, Belanda, dan Amerika Serikat.
"Banyak murid dari luar negeri yang datang ke Indonesia beberapa kali dalam setahun untuk belajar dan menyempurnakan ilmunya. Ini menunjukkan bahwa bangsa lain sangat menghargai dan mencintai budaya," ujarnya.
"Budaya adalah kekuatan bangsa. Pencak silat adalah kekuatan bangsa. Karawitan, kecapi suling, dan seluruh warisan budaya Nusantara adalah kekuatan bangsa. Kalau anak-anak kita sudah mencintai budaya sendiri, maka bangsa ini akan menjadi bangsa yang kuat," katanya.
Ia juga menyampaikan dukungannya terhadap berbagai program pendidikan karakter dan kebudayaan, termasuk Program Sekolah Maung yang bertujuan mencetak generasi unggul yang memiliki kecerdasan, karakter, serta kebanggaan terhadap budaya Sunda dan Indonesia.
Menurutnya, pembangunan sumber daya manusia harus dilandasi nilai-nilai luhur Sunda seperti silih asah, silih asih, silih asuh yang mengajarkan pentingnya saling belajar, saling mencintai, dan saling membimbing.
"Manusia Bandung harus memiliki jati diri yang kuat. Harus menjunjung nilai silih asah, silih asih, silih asuh. Itulah karakter manusia Sunda yang harus terus diwariskan kepada generasi muda," tuturnya.
Abah Rafijen berharap pemerintah, khususnya Dinas Kebudayaan, dapat lebih aktif merangkul para pelaku seni dan budaya dalam berbagai program pembangunan daerah. Menurutnya, kolaborasi yang dibangun harus murni untuk kepentingan pelestarian budaya tanpa dibebani kepentingan politik.
"Para pelaku budaya siap berkolaborasi dengan siapa saja selama tujuannya untuk menjaga dan mengembangkan kebudayaan. Budaya harus menjadi ruang persatuan, bukan alat kepentingan," pungkasnya.
Menurutnya, gerakan budaya yang dilakukan para pelaku seni sejatinya merupakan investasi jangka panjang dalam membangun kualitas manusia. Melalui karya seni, pendidikan budaya, hingga film yang sarat nilai-nilai kebangsaan, akan lahir generasi yang memiliki karakter, kepercayaan diri, dan pemahaman kuat terhadap identitas bangsanya.
"Apa yang dilakukan melalui gerakan budaya harus terus disosialisasikan. Tanpa kita sadari, inilah yang sesungguhnya membentuk generasi manusia yang berkualitas. Produk budaya, karya seni, maupun film memiliki peran penting dalam membangun karakter masyarakat," ujarnya.
Adit menilai pemerintah perlu memberikan perhatian dan respons yang lebih besar terhadap berbagai inisiatif budaya yang tumbuh dari masyarakat. Menurutnya, penguatan budaya tidak bisa hanya menjadi wacana, tetapi harus diwujudkan melalui program-program yang mampu menginspirasi generasi muda.
"Yang diharapkan adalah penguatan budaya yang benar-benar menyentuh masyarakat, terutama generasi muda yang penuh inspirasi. Mereka harus memiliki keyakinan dalam menjalani kehidupan sekaligus memahami nilai-nilai budaya yang menjadi fondasi karakter mereka," katanya.
Lebih lanjut, Adit menegaskan bahwa budaya tidak semata-mata berbicara tentang romantisme masa lalu. Budaya harus menjadi sarana untuk membangun kehidupan yang lebih baik di masa kini dan masa depan, terutama dalam membentuk pribadi-pribadi yang menjunjung tinggi nilai persaudaraan, saling menghargai, dan saling memuliakan sesama.
"Rasa persaudaraan, saling menghargai, dan saling memuliakan itulah yang harus dibudayakan. Sikap-sikap seperti itu yang perlu diwariskan kepada generasi muda. Jadi budaya bukan hanya mengenang masa lalu, tetapi bagaimana kita menciptakan program dan gerakan yang mampu membentuk generasi yang memiliki jiwa, karakter, dan nilai kemanusiaan yang kuat," ungkapnya.
Kolaborasi pemikiran antara Abah Rafijen dan Adit Barli menunjukkan bahwa seni, budaya, pendidikan, dan film memiliki peran strategis dalam membangun masyarakat yang berkarakter. Di tengah tantangan modernisasi dan digitalisasi, keduanya sepakat bahwa budaya harus menjadi fondasi utama dalam mencetak generasi Bandung yang unggul, berjati diri, kreatif, serta tetap menjunjung tinggi nilai-nilai kearifan lokal dan kebangsaan.**
Redaksi



0 Komentar