Subscribe Us


 

"Demonstrasi sebagai Wadah Saluran Aspirasi Suara Rakyat"


MEDIASAKSINEWS -- Demonstrasi adalah salah satu media atau saluran demokrasi menyuarakan aspirasi rakyat. Ada substansi materi inti yang diungkapkan berupa kritik sosial bagi penguasa yang dinilai abai atau kurang perhatian misal terhadap kenaikan harga BBM, korupsi yang masih banyak, ketidakpastian hukum dan keadilan, perusahan lingkungan akibat foodestate, ketimpangan ekonomi dan sosial di masyarakat dan sebagainya. 

Bahwa ada kepentingan lain yang menunggangi, bisa jadi ada, tapi sejauh satu aris pemikiran mengapa tidak?

Karena kembali bahwa demonstrasi menurut Miriam Budiarja merupakan salah satu wadah saluran demokrasi non institusional, bahkan di Indonesia demonstrasi dijamin oleh UU no. 9 tahun 1998 tentang Mengemukakan Pendapat di Muka Umum.

Oleh karena itu, rezim penguasa siapapun sebaiknya menyimak inti permasalahan atau substansi materi demonstrasi dan secara sadar mengevaluasi kinerja rezim penguasa dalam pemerintahannya, bukan mencari "kambing hitam" siapa yang menunggangi dan 'membayar' kegiatan demonstrasi seolah ingin menyalahkan perilaku dan sikap unjuk rasanya. 

Itu justru membuktikan rezim penguasa terindikasi "alergi" terhadap iklim demokrasi. 

Kalau demikian, masih layakkah penguasa tersebut ber"OMON+OMON" dinilai pro untuk kepentingan rakyat ? 

Jangan-jangan hanya retorika "jualan pencitraan semata" (?). Alih-alih rezim penguasa mencari kambing hitam, justru demonstrasi sebagaimana fakta sosialnya sejalan dengan pendapat Robert Dahl bahwa demonstrasi merupakan komunikasi politik dengan cara ungkapan langsung, berupa tel-yel, spanduk, orasi dan semua itu sebagai "kode politik" untuk menekan kebijakan penguasa yang wajib dikoreksi atau direspon oleh pembuat kebijakan.

Kecurigaan terhadap adanya "penunggangan lawan politik" dalam kegiatan atau aksi demonstrasi / unjuk rasa itu hal wajar. Tapi itulah demokrasi yang semestinya kekuasaan tidak dikuasai tunggal oleh rezim penguasa. 

Demonstrasi sebagai fungsi kontrol rakyat yang spontan dan orisinil. Selain sebagai saluran aspirasi, pendidikan politik, ekspresi tekanan politik juga solidaritas rakyat yang merasa adanya ketidakadilan selama ini. 

Namun demikian hal penting yang perlu sama-sama diantisipasi dalam berdemonstrasi adalah adanya sikap anarkis dalam penyampaiannya. 

Sehingga dalam hal ini, bagaimanapun ekspresi penyampaian suara rakyat dalam unjuk rasa atau demonstrasi perlu memperhatikan efektivitas dan kreativitas penyampaian aspirasi dengan komunikasi politik yang lugas, tegas, langsung, jelas dan tepat sasaran. 

"Diharapkan adanya demonstrasi justru sebagai penyeimbang wacana politik yang terkesan dominan top down". 

Karena demonstrasi merupakan sikap opini politik rakyat yang bersikap bottom up melalui saluran gerakan masif dan serentak untuk mempengaruhi kebijakan-kebijakan yang dianggap tidak pro rakyat dari rezim penguasa yang sudah lama berkembang. 

Tentunya harapan adanya perubahan yang signifikan dan nyata segera terbukti atau diimplementasikan untuk kepentingan rakyat itulah tujuan kongkrit adanya demonstrasi. 

Namun demonstrasi pun akan gagal jika penguasa dan rezimnya hanya bisa tutup mata, telinga dan hati serta mencari-cari kambing hitam atas aksi unjuk rasa atau demonstrasi tersebut untuk mencari pembenaran kebijakannya selama ini karena merasa alergi dengan kritikan publik baik yang berkembang lewat beragam wacana di media sosial dan langsung oleh aksi massa demonstran.***




Sumber; (Dr. Ira Indrawardana, S.Sos,M.Si. Antropolog UNPAD. 2026)

Posting Komentar

0 Komentar